DENPASAR, Balipolitika.com– Logikanya, kemacetan diatasi dengan pengurangan masif jumlah kendaraan, pembatasan umur kendaraan, meningkatkan akses transportasi publik, dan sejenisnya, tapi Provinsi Bali memilih jalan sebaliknya, yakni menambah unit kendaraan baru dengan limit tak terbatas.
Salah satu pendatang baru tersebut bernama Taksi Xanh SM (GSM), yakni layanan taksi listrik berbasis aplikasi asal Vietnam yang berkolaborasi dengan Komotra Bali dan resmi diluncurkan di Kota Denpasar, Bali, Jumat, 27 Februari 2026.
Belum diketahui total jumlah unit layanan yang menggunakan mobil listrik VinFast kolaborasi Komotra Bali yang menargetkan pengembangan mobilitas ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta belum menjawab pertanyaan redaksi terkait hal tersebut.
Meski demikian diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, total kendaraan bermotor di Provinsi Bali pada tahun 2025 tercatat sebanyak 5.537.916 unit.
Jauh melampaui jumlah penduduk Bali, angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya dan didominasi oleh sepeda motor.
Adapun 5.537.916 unit kendaraan bermotor tahun 2025 bertambah dari tahun 2024 sebanyak 5.277.554 unit; terdiri dari 4.528.734 sepeda motor, 544.640 mobil penumpang, 188.199 mobil barang, dan 15.981 bus.
Wilayah terpadat adalah Kota Denpasar yang memiliki jumlah kendaraan terbanyak, mencapai 1.855.554 unit disusul Kabupaten Badung (1.031.701), Kabupaten Gianyar (586.503), Kabupaten Buleleng (559.764), Kabupaten Tabanan (516.622), Kabupaten Jembrana (303.609), Kabupaten Karangasem (291.742), Kabupaten Klungkung (229.618), dan Kabupaten Bangli (162.803).
Fakta jumlah kendaraan sebanyak 5,5 juta unit inilah yang memancing kekhawatiran banyak pihak, khususnya perihal kemacetan.
Wakil Ketua 1 DPRD Provinsi Bali, I Wayan Disel Astawa mengungkapkan bahwa masalah ini benar-benar krusial karena ruas jalan Pulau Dewata relatif sempit.
“Jumlah kendaraan bermotor di Bali sudah jauh melebihi jumlah penduduk yang diproyeksikan sebanyak 4,46 juta jiwa pada tahun 2025. 5,5 juta unit ini mencakup semua kendaraan di atas jalan raya, kecuali kendaraan militer dan korps diplomatik, dengan sumber data utama dari Polda Bali. Kita ketahui sendiri banyak kendaraan plat luar Bali yang juga sangat leluasa beroperasi. Berdasarkan fakta lapangan ini, berapa pun luas jalan yang ditambah, saya pikir tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan,” tegas Disel Astawa yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Badung.
Ironisnya, selain taksi Vietnam, kondisi kemacetan di Bali berpeluang semakin diperparah oleh serbuan mobil listrik BYD M6 yang digunakan sebagai armada GrabCar Plus Electric.
Menurut penuturan sejumlah driver lokal, Disel mengungkapkan mobil listrik BYD yang isunya berjumlah ribuan unit ini “sangat rakus” berburu penumpang di jalan raya, bahkan mendapatkan prioritas dari aplikator.
“Mobil listrik BYD saat ini banyak masuk Bali. Informasi yang saya terima mencapai 3.000 unit. Konon, rakus rebut penumpang. Tak hanya driver konvensional, driver online pun dibuat kalang kabut karena driver mobil listrik Grab BYD dapat prioritas penumpang. Saya berulang kali menerima keluhan soal ini,” beber Disel. (bp/ken)













