BALI, Balipolitika.com – Saat Hari Raya Kuningan, tamiang memiliki makna ganda sebagai simbol pelindung dan perputaran roda alam.
Secara simbolis, tamiang yang berbentuk bulat seperti cakra ini mewakili perlindungan dan kekuatan dari Dewata Nawa Sanga (penguasa sembilan arah mata angin), sekaligus mengingatkan tentang siklus kehidupan yang terus berputar.
Makna Tamiang saat Kuningan
Pelindung dan Senjata: Tamiang berasal dari kata “tameng” yang berarti pelindung diri. Dalam konteks Kuningan, ini adalah simbol senjata pelindung yang menjaga dan melindungi kemenangan dharma (kebajikan) saat Hari Raya Galungan.
Simbol Dewata Nawa Sanga: Bentuknya yang bulat melambangkan sembilan arah mata angin yang terpimpin oleh sembilan dewa atau manifestasi Tuhan yang sebutannya Dewata Nawa Sanga.
Roda Kehidupan: Tamiang juga sebagai “cakraning manggilingan” atau roda alam yang berputar, melambangkan siklus kehidupan yang terus berputar dan hukum alam.
Simbol Perlindungan dan Kekuatan: Tamiang adalah simbol perlindungan, kekuatan, dan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Makna Kuningan
Setelah Galungan, maka umat Hindu bersiap menyambut datangnya Kuningan. Tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Hari suci umat Hindu, memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasiNya.
Tentunya kemenangan Dharma saat Galungan, tetap diteruskan dan ditegakkan saat Kuningan. Bahkan seterusnya selama masih hidup di dunia. Sebab kebenaran utama adalah milik Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Biasanya saat Kuningan, umat Hindu membuat selangi, tamiang, dan beberapa sarana upakara lainnya. Bahkan bentuk jejahitan pun dipilih warna kuning, sebagai lambang suci hening dalam memperoleh kemakmuran.
Kemudian yang khas lagi, adalah pelaksanaan upacara Kuningan kerap harus selesai sebelum siang hari. Atau sebelum matahari tepat berada di atas kepala. Filosofi dasarnya, adalah agar dalam menghaturkan bhakti masih dalam keadaan tenang, damai, dan segar.
Apalagi ada kepercayaan bahwa bhatara-bhatari datang pada pagi hari dan berstana di merajan atau pura. Sebelum akhirnya kembali ke alam nirwana atau niskala. Untuk itu umat Hindu disarankan menyelesaikan upacara dan sembahyang Kuningan sebelum siang hari. (BP/OKA)













