Necrophilia in the characterological sense can be described as the passionate attraction to all that is dead, decayed, putrid, sickly; it is the passion to transform that which is alive into something unalive; to destroy for the sake of destruction; the exclusive interest in all that is purely mechanical. (Erich Fromm)
Erich Fromm, seorang pemikir nyentrik yang memadukan psikoanalisis Freud dengan kritik sosial Marxis, mempunyai konsep yang cukup ekstrem: Nekrofilia, kecenderungan untuk tertarik pada hal-hal yang mati, kaku, dan tidak bernyawa. Kebalikan dari nekrofilia adalah biofilia, yaitu kegandrungan mendalam terhadap kehidupan, pertumbuhan, dan kreativitas. Sekilas, konsep ini terdengar abstrak. Tapi, darinya kita dapat menyajikan analisis untuk membedah fenomena sosial-politik yang terjadi.
Kekuasaan Bernafaskan Kematian
Kekuasaan kerap kali dipengaruhi oleh asumsi nekrofilik, di mana kekuatan tidak lahir dari musyawarah atau dialog, melainkan dari ketakutan dan kepatuhan semu. Ini adalah fenomena yang diungkap oleh Fromm, yang memandang bagaimana individu atau kelompok dengan orientasi nekrofilik cenderung memuja kekuatan, sistem yang mekanis, dan keteraturan yang rigid.
Dalam konteks politik, kecenderungan nekrofilik sangat mudah dikenali. Stabilitas yang dipaksakan dan narasi “stabilitas nasional” yang seragam seringkali dianggap lebih unggul ketimbang proses demokrasi yang hidup dan terkadang mungkin terlihat agak kacau. Bayangkan suatu sistem yang menganggap ketertiban mutlak lebih penting daripada kebebasan berpendapat dan perbedaan pandangan. Dalam sistem ini, suara-suara sumbang yang mempertanyakan status quo dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari dinamika yang sehat.
Salah satu manifestasi nyata dari orientasi nekrofilik ini adalah kultus terhadap figur pemimpin (elit). Figur yang dipuja-puja, seolah memiliki kekuatan tak terbantahkan, adalah ekspresi kolektif dari kecenderungan ini. Masyarakat secara tidak sadar memilih untuk mengubur ide-ide, kebebasan, dan otonomi individu demi kepatuhan total pada satu figur. Ini seolah berkata, “Lebih baik kita mati dalam ketertiban daripada hidup dalam ketidakpastian yang penuh dinamika.”
Dengan mengagungkan figur pemimpin, kita membiarkan kematian ide-ide dan pertumbuhan yang tak terduga. Kita memilih kematian yang teratur daripada kehidupan yang penuh kejutan dan tantangan. Hal ini menciptakan stagnasi di mana kreativitas dan inovasi tidak dapat berkembang, karena semua energi kolektif diarahkan untuk melanggengkan struktur yang kaku.
Dari Korupsi hingga Konsumerisme
Orientasi nekrofilik pun merasuk ke relung sistem birokrasi dan budaya korupsi. Birokrasi yang rigid dan lamban sering kali mematikan inisiatif dan kreativitas. Dokumen mati lebih dihargai daripada tindakan yang responsif dan ‘hidup’. Dalam sistem seperti ini, orang-orang biofilik cenderung merasa frustrasi. Padahal mereka hendak berinovasi dan mencari solusi secara kreatif. Sementara itu, mereka yang nekrofilik, yang lebih nyaman dengan rutinitas usang, justru merajalela.
Korupsi adalah contoh nyata lainnya. Daripada menciptakan nilai baru atau berkontribusi pada pertumbuhan sosial, korupsi justru menghancurkan sumber daya yang ada demi keuntungan pribadi. Ini adalah proses “mengambil dari yang hidup” dan menguburnya dalam tumpukan kekayaan yang mati.
Fromm berpendapat bahwa individu yang nekrofilik cenderung terobsesi dengan kekuasaan mutlak (absolute power). Mereka tidak mampu menciptakan atau mengkonstruksi, sehingga satu-satunya cara mereka merasa berharga adalah dengan mengendalikan, bahkan menghancurkan. Bagi seorang koruptor, kekuasaan tertinggi bukan pada kemampuan untuk membangun, melainkan pada kemampuan untuk mengambil, mematikan, dan menguasai sumber daya yang seharusnya milik bersama.
Dengan demikian, korupsi bukan hanya kejahatan, tetapi juga patologi sosial yang mematikan potensi biofilik bangsa. Ia meluluhlantakkan bukan hanya ekonomi, melainkan juga jiwa bangsa, menggantikan gairah untuk membangun dengan nafsu yang destruktif.
Manifestasi nekrofilia juga menyusup ke ranah konsumerisme. Masyarakat yang mengukur keberhasilan dari merek, status, dan benda-benda, pada hakikatnya adalah masyarakat yang mati secara spiritual. Objek material, meskipun indah, tetaplah benda mati. Identitas individu menjadi ditentukan oleh apa yang mereka miliki, bukan siapa mereka sejatinya. Kekosongan batin ini menjadi lahan subur bagi orientasi nekrofilik.
Konsumsi menjadi cara untuk mengisi kekosongan batin yang muncul akibat keterasingan. Konsumerisme yang masif tampak dari fenomena belanja impulsif. Kebahagiaan seolah dapat dibeli. Padahal, kenikmatan dari konsumsi itu hanya sementara. Kondisi ini menciptakan ‘mati rasa’ atau ‘anesthesia’. Sensitifitas terhadap problematika sosial dan kemanusiaan kian tumpul, terlalu sibuk dengan keinginan pribadi dan melupakan empati.
Menggali Vitalitas Bangsa via Biofilia
Potensi biofilik bangsa tampak dari vitalitas penduduknya. Sebut saja semangat wirausaha, kreativitas dalam seni-sastra, dan keberanian untuk berinovasi. Namun, potensi ini sering kali dihancurkan oleh kekuatan nekrofilia yang ada di berbagai strata.
Pendidikan sering kali menjadi tumbal pertama dari orientasi nekrofilik. Sebagai misal, kurikulum dengan metode hafalan, dan penilaian yang berbasis pada kepatuhan semata sering kali mematikan rasa ingin tahu. Alih-alih melahirkan pemikir yang berani mempertanyakan status quo, sistem ini justru mencetak penghafal yang ‘patuh buta’.
Untuk membalikkan keadaan, kita hendaknya memprioritaskan pendidikan yang mendorong pemikiran kritis. Ini bukan sekadar mencermati fakta, melainkan membentuk mindset progresif -belajar cara berpikir, menganalisis masalah dari berbagai perspektif, dan berani menantang ide-ide kuno. Pendidikan biofilik akan menghargai proses kreatif, memberi ruang bagi eksperimen, dan mendorong kolaborasi. Dengan begitu, kita dapat menciptakan generasi yang tidak lagi puas dengan rutinitas usang.
Konflik antara biofilia dan nekrofilia adalah pertarungan untuk spirit bangsa. Apakah kita akan membiarkan birokrasi yang kaku, sistem yang menghambat, dan konsumerisme yang dangkal mematikan jiwa kita? Ataukah kita akan memelihara biofilia, mendorong kreativitas, inovasi, dan kehidupan yang autentik? Pandangan Fromm ini mengajak kita untuk merenung sejenak. Kita perlu bertanya, “Apakah tindakan dan sistem kita saat ini mendukung kehidupan, ataukah sebaliknya…kematian?”
*penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.













