MAKRIFAT AIR
dengan sekali hela air-Mu
terseraklah separuh bumi
berhamburan manusia
laksana huruf-huruf alif
membentuk kalam-Mu
yang agung Maha Kuasa
dalam terkaman tragika
tinggallah zikir dan takbir
ayat-ayat dan asma-Mu
membahana ke langit kelam
sebagai erangan kepasrahan
bagi jiwa yang mengenal-Mu
mereka menyatu khusyuk
dalam pasang makrifat air
melepaskan segala duniawi
menjadi korban gugur dan fana
dalam air mata dan air bencana
2025
YANG MELUKIS DARATAN
dalam sekejap Kau lukis daratan
semula rimbun hijau menganvas
kini penuh cokelat berserakan
dibubuhi liukan gelombang
serupa bah ke muara
Kau namai bencana
goresan kuas-Mu maha dahsyat
jadi lukisan-Mu begitu abstrak
hingga kami yang manusia
sering alpa memaknainya
teguran atau kasih sayang
Kau tumpahkan air mata
di atas daratan yang rata
sehingga kami pun sadar
bahwa Kaulah sang pelukis
Yang Maha Berkehendak
2025
MENDENGARKAN AIR MATAMU BERZIKIR
mendengarkan air matamu berzikir
seirama kabar dari penjuru Sumatra
bahwa pucuk-pucuk nyiur di nun sana
menyampaikan salam hangat perpisahan
melalui hujan panjang tak berkesudahan
seirama tetesan air matamu berzikir
berjatuhan korban di datar Sumatra Utara
sampai jemarimu tak sanggup menghitung
mayat-mayat pasi dengan tubuh-tubuh lesi
kau berusaha tegar berkidungkan tangisan
meratapi buliran air matamu berzikir
derap-derap doa dikirim lewat jalur langit
menghentikan air yang menyumbat bumi
arak-arakan gelondongan menyerbu kota
meratakan Sumatra Barat hampir sekarat
air matamu tak berhenti berzikir
untuk sebagian Aceh berkerudung kafan
dan kalian teguh memeluk tiang keimanan
sampaikanlah kepada pemilik kehendak
kapan air mata ini menemu ujung zikir?
2025
CERITA DARI SERAMBI AIR MATA
duduklah saudaraku, akan kuceritakan
kisah dari riwayat tanah di puncak luka
sampai tak lagi terbendung dalam kandung
menjadi ombak bala melumat tak terkecuali
karena air tak pernah memilih kepada siapa saja
dan apa saja di hadapannya akan dihantam ratap
dalam kisah itu mereka tak mampu menangis
karena sumur-sumur di matanya kering
dan ditimba tinggal darah mendaras
sampai air matamu menjelma bukit kayu
daratan diceritakan menjelma padang geondongan
atap rumah mencium tanah dan pucuk nyiur bersujud
rapatkan matamu dan hayatilah turunnya malaikat ajal
menjemput para syuhada yang bertawaf bersama bandang
dan cerita dari tanah duka ini tak pernah menenu tamat
karena di Bumi Andalas segala damba telah kandas
sungguh batas kita dan maut hanyalah sehelai napas
2025
LAUT, LONTAR, DAN KAU
:AM
setidaknya jangan lupakan tentang laut
pantai dan perahu-perahu dalam cerita kita
rumah kayumu menghadap senja di pesisir
perihal riwayat kecilmu sebagai anak nenekmu
penuh hitam, abu-abu, cokelat, dan putih hidupmu
sampai menempamu menjelma setegar karang laut
kau berjanji membawaku ke pantai desa ayahmu
menunjukkan sepanjang garis pantai kesukaanku
riuh ombak, pencari kerang dan pengupas udang
sungguh aku terlampau kagum pada pesona unikmu
tapi kau selalu menyebut semua dalam dirimu aneh
saat muatan sesak di punggung pada puncak batas
maka saatnyalah kita saling mengikhlaskan segalanya
mestinya takkan pernah terhapus cerita segara
perihal Kampung Lontarmu di ujung Kota Pulau Laut
atau sekadar duduk di trotoar malam Banjarmasin
tetap kau tak pernah mengizinkanku mengirimu
sebab kau mengatakan semua yang kita berikan
selalu harus saling berbalas sesuai pengorbanan
dan kesederhanaan pesisirmu tak menerimaku
sebab sampai kapanpun air tawar dan air garam
tak mungkin menyatu bila masih ada penghalang
kita hanya diizinkan mengenal dan saling pandang
bukan sebagai ombak pada laut mampu bersama
maka taruhlah namaku dalam tadah perahu doamu
hantarkan bersama salam perpisahan ke bibir laut
biarkan aku berlayar pada kehendakmu selama ini
maka maafkan jika aku ke pangkauan pantai lain
relakan bila aku mencintai senja yang bukan terbit darimu
sebab merelakan ialah cara termanis memaafkan kehilangan
tapi percayalah jejak kau dan aku jadi prasasti dalam histori
terima kasih terumbu kenangan dan pasang lautan air mata
perasaan sudah karam kepada sedalam-dalamnya kefanaan
2025
MALAM YANG TUNJAM
KELAM YANG MENGHUNJAM
belajar kembali aku pada kawanan kelelawar
tentang merendahkan kepala ke bawah kaki
bergantung pada ranting malam yang tunjam
berselimutkan sayap-sayap kegelapan sunyi
mentafakuri diri menjelma serpihan gulita
kala angin memetik senar-senar galagasi
bernyanyilah pungguk menyembunyikan rindu
memantulkan keramik purnama di tubuhku
aku laksana memungut cahaya dari ketidakpantasan
sebab akulah kelam dalam suram malam
aku diam tapi ada yang diam-diam mengintai
percik perih berkepanjangan bertetesan
dari malam yang tunjam merajam
ke kelam yang mehunjam tajam
menuntaskan maut yang kejam
2025
KUDA-KUDA BIRAHI
akulah kuda-kuda birahi
di padang-padang rumputmu
bila kau rindu ringkik kejantananku
kupacu laju ketipak gairah cintaku
dicambuk percik keringat membara
kuda-kuda berpacu di klimaks langit
2025
MEMORABILIA SETANGKAI MAWAR
ingatlah setangkai mawar kau tanam dalam mimpiku
telah rimbun jadi serumpunan luka purba abadi
merahnya percampuran darah pencinta
dan dusta pendosa yang berikrar atas kesetiaan
setangkai mawar tumbuh dalam igauanku
setiap kelopak jatuh menyimpan nama
kekasih yang gugur di medan perang percintaan
tangkai-tangkai patah diterabas penghinatan
lalu duri di sekujur tubuh mawar bukan lagi mata tajam
kumaknai persetubuhan antara gelinjang ketelanjangan
memorabilia setangkai mawar mengalir
menciptakan soneta-soneta gaduh ditampar angin
2025
BULAN SUDAH TUA
bulan merias wajah keringnya
dengan serbuk pualam tembaga
agar tetap dilihat bercahaya
oleh penghuni malam
bulan menyalakan tubuhnya
dengan kemilau penuh purnama
sekira jubahnya memancar
dilirik penyujud bumi
bulan sudah tua
berusia ribuan tahun
dadanya bekas terbelah
diiris jari sang penyelamat
sebagai bukti penghulu akhir
2025
UJUNG BENANG MERAH
inilah ujung benang merah
yang kuikatkan ke Timur-Barat
sampai pada Selatan-Utara
kubentangkan di matamu-mataku
kita saling tertaut oleh maut
seujung benang merahnya lagi
aku tak pernah menemukannya
yang menjulur dari mulutmu
ke gigitan keras bibirku
kita saling berlumatan
ujung-ujung benang merah tumbuh
di kepala, kaki, tangan, dan pinggulmu
terikat di jari-jemari tuanmu
kini kau serupa boneka kayu
yang dimainkan sekehendak sang tuan
bahkan kau tak lagi patuh pada Tuhan
ujung benang merah tak terputus
saling terikat erat bersambungan
dari zaman ke zaman membalas
ujungnya di balik tanah berontak
seujungnya lagi dipegang sang penerus
menang merah yang tak pernah pudar
sepanjang hari membentang kecemasan kita
2025
BIODATA
REZQIE M.A. ATMANEGARA kelahiran Hulu Sungai Tengah-Kalimantan Selatan. Sepilihan puisi tunggal; Sesajen (2021) dan Diyang (2022). Karyanya tersebar di antologi bersama tingkat lokal, nasional dan internasional, Menerima Penghargaan Hadiah Seni (Sastra) dari Walikota Banjarbaru-Kalimantan Selatan (2015), Penghargaan Apresiasi Maestro Pelestari dan Pengembang Bahasa Banjar dari Asosiasi Sastra Lisan (ATL) (2024), dan Anugerah Kebudayaan (Sastra Tradisi dan Kontemporer) dari Gubernur Kalimantan Selatan (2025). Berdomisili di Kalimantan Selatan. Email: [email protected].










