DENPASAR, Balipolitika.com– Oknum pengusaha dan pengacara top asal Tabanan, Dr. Ida Bagus Putu Astina, S.H., M.H., MBA., CLA. sesumbar siap meladeni sejuta I Gusti Putu Artha sebagai imbas kritik tajam mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI itu terhadap kebijakan “persampahan” Gubernur Bali, Wayan Koster.
Sayangnya, saat I Gusti Putu Artha merespons tulisan sejumlah media online, salah satunya kabarbalisatu.com berjudul “Polemik Sampah Bali Memanas! Kader Militan PDIP Dr. Astina Pasang Badan untuk Gubernur Koster: Sejuta Putu Artha Pun Saya Layani Debat! Denpasar”, mendadak nyali Ida Bagus Putu Astina seolah ciut.
Jangankan sejuta I Gusti Putu Artha, usut punya usut ternyata satu I Gusti Putu Artha pun tak berani ia lawan debat.
Penegasan bahwa nyali Ida Bagus Putu Astina mendadak ciut padahal ia sendiri yang lebih dulu menantang sejuta I Gusti Putu Artha disampaikan sendiri oleh sang tertantang di akun media sosial pribadinya, Sabtu 16 Agustus 2025.
I Gusti Putu Artha menulis judul dengan huruf kapital “ASTINA MENOLAK DEBAT”.
“Baru saja saya mendapat telepon dari Erwin Jeg Bali. Ia telah memiliki nomor kontak Dr. IB Astina yang sesumbar menantang sejuta Putu Artha ia ladeni debat. Erwin bertanya apakah saya siap meladeni debat soal sampah Dr. Astina. Saya iyakan dan bila perlu sore ini live atau rekaman. Lanjut Erwin menelpon Astina untuk meminta kesediaan yang bersangkutan. Namun, Astina tak bersedia dengan alasan ada agenda-agenda lain. Lagi pula katanya, ia mengaku doktor masalah limbah B3, sedangkan saya bukan jebolan yang sama. Nanti jika debat yang satu ke Bangli jawabannya yang lain ke mana, paparnya seperti diceritakan Erwin. Tatkala Erwin memintanya podcast seorang diri, ia seketika menyatakan siap. Sangat siap. Ketika WS Artha TV Sanur mengundangnya podcast, ia mengiyakan. Saya sedang berusaha menghubungi WS ArthaTV yang jika memang mau undang dia sekalian saja undang saya agar tak sesumbar sebut-sebut sejuta Putu Artha. Jadi? Baru seorang Putu Artha yang mengajaknya diskusi (serem jika debat) belum 999.999 Putu Artha lainnya!” tulis I Gusti Putu Arta, Sabtu, 16 Agustus 2025.
Sebagaimana diketahui publik luas, mantan Komisioner KPU Pusat, I Gusti Putu Artha, secara terbuka menyebut Putri Koster sebagai “buzzer” sang gubernur yang selanjutnya menuai reaksi keras Dr. Ida Bagus Putu Astina, SH, MH, MBA, CLA.
Bagi Dr. Astina, yang juga Ketua DPD Masyarakat Pemantau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Provinsi Bali, serangan Putu Artha bukan sekadar kritik kebijakan, tapi sudah masuk wilayah merendahkan martabat dan menyerang kehormatan seorang perempuan. Ia mengaitkan kejadian ini dengan kisah Mahabharata, ketika Kurawa melecehkan Dewi Drupadi, istri Pandawa, yang menjadi titik awal kehancuran mereka.
“Dalam Mahabharata, Kurawa hancur karena melecehkan kehormatan Dewi Drupadi. Jangan sampai mengulang kesalahan itu. Menyerang kehormatan perempuan adalah jalan menuju kehancuran,” tegas Dr. Astina, yang juga pemilik pabrik pengolahan Limbah Berbahaya dan Beracun di Desa Pengambengan, Jembrana.
Sosok yang akrab juga disapa Ajik Biwi ini menilai pernyataan Putu Artha terkesan emosional dan mencari panggung.
“Kalau saya lihat ini buang energi yang tidak berguna. Ekstrem, hanya karena kekecewaan pribadi. Ngawur bicara, hanya demi sorotan publik,” ujar tokoh yang sangat paham hukum pengelolaan sampah ini.
Dr. Astina bahkan menantang langsung, bukan hanya Putu Artha, tapi juga tokoh lain seperti Gede Pasek Suardika yang kerap mengkritik Gubernur Koster. “Kalau memang mau debat, ayo. Saya yang akan meladeni, di mana saja, bahkan live,” tegasnya.
Dr. Astina menilai Gubernur Koster telah menunjukkan keberanian dalam menangani persoalan sampah di Bali, khususnya melalui Gerakan Bali Bersih yang mendapat apresiasi dari pemerintah pusat.
Ia mempertanyakan kapasitas Putu Artha untuk berbicara soal sampah, mengingat selama ini justru kebijakan berani Koster yang telah berjalan nyata.
Bahkan, sang istri, Putri Koster, kerap turun langsung membersihkan got dan memungut sampah sebagai duta dan teladan, meski bukan pihak yang menangani urusan teknis. Peran aktif, menurutnya, tetap berada di tangan masyarakat.
“Apa kapasitasnya Putu Artha bicara sampah? Dia tidak lihat kebijakan berani Koster? Dia tidak lihat Bu Koster turun langsung membersihkan got, memungut sampah? Bu Koster itu duta, percontohan, bukan orang teknis. Yang berperan aktif tetap masyarakat,” ujarnya.
Menurut CEO & Owner BIWI Group ini, janji politik terkait penanganan sampah di Bali, seperti yang kerap dipertanyakan sejumlah pihak, termasuk Putu Artha, sudah terealisasi melalui Gerakan Bali Bersih Sampah yang bahkan mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Ia menilai Putu Artha tidak mengikuti perkembangan di lapangan dan hanya memantau dari media sosial sambil melontarkan kritik.
“Gerakan Bali Bersih Sampah itu sudah diakui nasional. Lah dia kemana aja? Cuma mantau medsos sambil nyinyir. Putu Artha ini seperti orang sedang ngelawak,” sindirnya.
Dr. Astina kemudian menyoroti sisi kepemimpinan Gubernur Koster yang jarang dibicarakan publik. Menurutnya, Koster bukan tipe pemimpin yang mencari pujian atau sekadar ingin menyenangkan bawahan.
Ia lebih memilih mengakui kekurangan dan berupaya memperbaikinya secara langsung daripada terjebak dalam perdebatan retorik.
Karena itu, masyarakat dinilainya perlu mendapat edukasi untuk mengurangi kebencian dan ketidaksukaan, sehingga seiring waktu kondisi akan menjadi lebih baik.
“Koster itu tipe pemimpin yang tidak mau ABS (Asal Bapak Senang) dari anak buahnya. Dia lebih baik mengakui kekurangan dan memperbaikinya sendiri daripada bersilat lidah. Makanya, masyarakat harus diberi edukasi, jauhkan kebencian dan ketidaksukaan. Seiring waktu, semuanya akan lebih baik,” ucapnya.
Dari jutaan kader PDI Perjuangan di Bali, Dr. Astina menjadi kader pertama yang pasang badan secara terbuka untuk membela Gubernur Koster dan istrinya Putri Koster dari serangan personal.
Ia menyatakan siap menanggung risiko politik.
“Saya siap dibully, bahkan dipecat, demi membela Koster yang berada di jalur benar soal penanganan sampah,” tegasnya.
Dr. Astina tidak hanya melontarkan kecaman, tetapi juga menantang terbuka Putu Artha untuk berdebat mengenai persoalan sampah di Bali. Ia menegaskan kesiapannya menghadapi siapa pun, bahkan jika harus melawan ribuan hingga jutaan sosok seperti Putu Artha, dan meminta agar tantangan tersebut segera direspons.
“Jangankan satu Putu Artha, seribu, bahkan sejuta Putu Artha pun saya siap layani. Saya call out Putu Artha untuk berdebat soal sampah. Segera!” katanya tegas.
Dr. Astina kemudian menyampaikan pesan moral yang dalam: menghormati perempuan bukan hanya etika, tapi batas moral yang jika dilanggar bisa menghancurkan karier, reputasi, dan masa depan politik seseorang.
“Jangan ulangi kesalahan Kurawa. Serang kebijakan boleh, tapi jangan merendahkan kehormatan perempuan,” pungkasnya. (bp/ken)













