DENPASAR, Balipolitika.com- Pernahkah Anda membayangkan bahwa keriuhan Denpasar Timur saat ini dulunya adalah sebuah arena pertempuran tempat para ksatria bertaruh nyawa demi sebuah janji setia?
Jauh sebelum kafe-kafe estetik memenuhi sudut kotanya, sejarah Kelurahan Kesiman mencatat narasi heroik tentang “Kusima”, sebuah wilayah suci yang kokoh dan menjadi perisai bagi keamanan kerajaan.
Kesiman bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah tanah yang lahir dari jejak moksa seorang tokoh suci dan keteguhan para punggawa Majapahit dalam membangun peradaban di Pulau Dewata.
MENELUSURI sejarah Kelurahan Kesiman membawa kita kembali ke tahun 1343 Masehi, saat ekspedisi Majapahit yang dipimpin Gajah Mada menginjakkan kaki di Bali. Pasca penaklukan tersebut, Sri Kresna Kepakisan diangkat untuk menstabilkan pemerintahan. Salah satu tokoh kunci yang menyertai beliau adalah Arya Wang Bang Pinatih, keturunan dari Arya Wiraraja yang tersohor di Sumenep.
Arya Wang Bang Pinatih kemudian membangun Puri Kertalangu sebagai pusat kekuasaan. Nama “Kesiman” sendiri diyakini lahir dari kata “Kusima”, gabungan dari Ku (kukuh) dan Sima (wilayah suci). Nama ini merujuk pada kekokohan spiritual wilayah tersebut, terutama karena tempat ini merupakan lokasi moksa tokoh suci Bali Kuna, Ida Dalem Batu Ireng, di tepian Tukad Ayung.
Seiring berjalannya waktu, kekuasaan di Kertalangu mengalami pergeseran. Keraton dipindahkan ke wilayah Kuwum di sebelah selatan. Menariknya, untuk membendung pengaruh negatif dan serangan dari luar, penguasa masa itu membentuk barisan pertahanan yang terdiri dari orang-orang berjiwa pemberani.
Sepanjang wilayah dari Patal Tohpati hingga Biaung diubah menjadi arena pertarungan atau kalangan. Nama-nama banjar di sini adalah saksi bisu keberanian mereka:
-
Banjar Tohpati: Berasal dari kata Ngotoh Pati (mempertaruhkan nyawa).
-
Banjar Kertajiwa (Tohjiwa): Berarti Ngotohan Jiwa (mempertaruhkan jiwa).
-
Banjar Biaung: Yang bermakna Bie atau umpan dalam pertarungan.
Banjar Tangguntiti yang berada di tengah menjadi penghubung penting antara rakyat dan raja dalam membicarakan keselamatan daerah. Inilah alasan mengapa masyarakat Kesiman hingga kini dikenal memiliki karakter yang teguh dan solid.
Ngerebong: Puncak Harmoni Spiritual
Kini, meskipun Kesiman telah berkembang menjadi kawasan perkotaan yang modern, denyut nadi budayanya tidak pernah padam. Sejarah Kelurahan Kesiman diabadikan melalui tradisi Ngerebong di Pura Agung Petilan. Upacara sakral yang digelar setiap enam bulan sekali ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat akan keharmonisan dunia nyata (sekala) dan dunia gaib (niskala).
Melalui pemekaran administratif pada tahun 1982, Kesiman kini terbagi menjadi Kelurahan Kesiman, Desa Kesiman Petilan, dan Desa Kesiman Kertalangu. Namun, secara adat, ketiganya tetap satu di bawah naungan Desa Adat Kesiman yang menjaga warisan arsitektur “Bebadungan”.
Memahami sejarah ini menyadarkan kita bahwa di balik kemajuan Denpasar, ada nilai-nilai perjuangan ksatria yang tetap dijaga. Bagi wisatawan, berkunjung ke Kesiman adalah perjalanan melintasi waktu untuk merasakan keteguhan sebuah wilayah yang dibangun dengan nyawa dan doa. (BP/CHA).













