HASIL kajian akademisi sastra telah membentuk suatu pandangan baru terhadap prosa Oka Rusmini. Hal ini mengandung konsekuensi eksternal terhadap karya. Prosa Oka Rusmini seolah dihanyutkan ke suatu muara dan berujung di ”samudera” Bali. Kajian-kajian akademik itu hanya sanggup memanfaatkan sastra sebagai pintu masuk ke dalam kehidupan permukaan masyarakat Bali. Para peneliti membangun satu tujuan bahwa prosa Oka Rusmini adalah satu jalan lurus ke suatu resort atau kawasan kultural dan ideologis: konstelasi peremupuan Bali dengan patriarkhi yang memaksanya untuk menjadi subaltern.
Oka Rusmini paling banyak menarik perhatian akademisi sastra. Temuan para peneliti menyatakan bahwa perempuan Bali subaltern menjadi pilihan tema prosa Oka Rusmini. Popularitas Oka Rusmini di kalangan para peneliti, paling-paling disusul Gde Aryantha Soethama. Daya tarik para peneliti terhadap Gde Aryantha Soethama tentu saja juga karena reputasinya dalam kancah sastra Indonesia. Pengarang Bali lainnya yang cukup menarik di mata para peneliti adalah Ni Komang Ariani, Made Adnyana Ole, Wayan Sunarta, Putu Fajar Arcana, Cok Sawitri, Komang Adnyana, Abu Bakar, dan Ngurah Parsua. Sejumlah pengarang Bali yang lebih muda seperti Wayan Agus Wiratama, Putu Agus Phebi Rosadi, dan Putu Supartika, belum banyak diteliti.
Popularitas Oka Rusmini semenjak novel Tarian Bumi terbit (IndonesiaTera, 2000) merambah dunia akademik sedemikian hebat. Ia dikenal secara luas tidak hanya di kalangan peneliti sastra tetapi juga di kalangan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing, sebagaimana kajian terhadap beberapa cerpen Oka Rusmini untuk materi pelajaran bahasa Indonesia bagi orang asing dalam penelitian Rakhmawati dan Nurlina tahun 2023. Para peneliti terus-menerus tertantang untuk mengungkap data terbaru karya Oka Rusmini, seperti penelitian Hudaa pada tahun 2018 terhadap Tarian Bumi dan kumpulan cerpen Sagra tahun 2001 yang menggunakan teori hegemoni Gramsci. Pembahasan atas karya yang berfokus pada formasi dan negosiasi ideologi cerpen ”Sipleg” diteliti oleh Sayekti, dkk., pada tahun 2021. Kajian terhadap citra perempuan Bali dilakukan oleh Putra tahun 2021. Lokalitas perempuan Bali dalam kumpulan cerpen Sagra menarik perhatian Hermawati dan Apriliyani dalam penelitian mereka tahun 2020.
Perempuan-perempuan Bali subaltern yang menjadi ciri umum prosa Oka Rusmini; menampilkan citra Bali yang buruk kepada dunia luar dalam kumpulan cerpen Akar Pule yang terbit tahun 2012 dikaji oleh Rohman tahun 2018 dan Artini tahun 2020. Kedua penelitian ini menggunakan teori gender dengan fokus pada perjuangan perempuan Bali. Perempuan subaltern juga dikaji oleh Mutianingtyas dan Badri pada tahun 2020 dengan sumber data penelitian cerpen ”Api Sita” yang dikaji dengan menggunakan teori feminsme pascakolonial. Struktur kepribadian tokoh cerpen ini juga dikaji dalam penelitian Rakhmawati pada tahun 2024. Perempuan subaltern, yang tertindas dan mengalami diskriminasi tipikal karya Oka Rusmini, yang ditemukan juga dalam cerpen ”Pohon Api” dibahas oleh Mustaqim pada tahun 2018.
Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa hampir seluruh prosa yang dihasilkan Oka Rusmini telah dibahas dari berbagai segi persoalan. Analisis dekonstruksi Derrida terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini dilakukan oleh Mardiana tahun 2009. Penelitian Damayanti tahun 2024 membicarakan belenggu patriarki dalam Karya-Karya Oka Rusmini dengan teori Kajian feminisme radikal Kate Millet. Kajian ini ada di bawah tradisi akademik bahwa karya-karya Oka Rusmini sarat dengan kehidupan perempuan Bali subaltern. Dari segi teori, yaitu kajian feminisme kumpulan cerpen Akar Pule, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hapsari tahun 2022 atau penerapan teori feminisme radikal dalam kumpulan cerpen Sagra yang dilakukan oleh Audina dalam penelitian tahun 2019 erat kaitannya dengan penelitian Damayanti tahun 2024.
Para peneliti terdahulu memandang perlu untuk melakukan kajian atas eksistensi perempuan dalam cerpen-cerpen Oka Rusmini, sebagaimana kajian mengenai eksistensi perempuan yang bernama Kekayi dalam cerpen ”Kekayi” dan ”Pohon Api” yang ditunjukkan oleh penelitian Kastanya, tahun 2020 atau penelitian Manek pada tahun 2024. Senada dengan kedua studi ini, eksistensi perempuan Bali juga harus dipahami dari segi lokalitasnya sebagaimana diungkap oleh Hermawati dan Apriliyani dalam penelitian mereka yang dilaksanakan pada tahun 2020.
Menurut Hendrayani, dalam studinya tahun 2023, karakter tokoh-tokoh cerpen Oka Rusmini menganut nilai-nilai budaya Bali. Penelitian Hendrayani sejalan dengan penelitian yang menganalisis representasi karakter kumpulan cerpen Sagra seperti studi yang dilakukan oleh Putu dkk. tahun 2023. Bagian epos Ramayana ditransformasi ke dalam cerpen “Kekayi”, suatu kajian yang jarang dilakukan oleh para peneliti, tampak pada penelitian Rohkmansyah dan Rahma pada tahun 2019.
Dengan mengambil fokus pada persoalan perempuan, pada tahun 2017 Rojak dkk. mengkaji subjektivitas perempuan dalam cerpen “Cenana”. Perempuan dalam karya Oka Rusmini tidak hanya terbelenggu tetapi juga melakukan gerakan pemberontakan dan perlawanan terhadap ideologi yang berlaku, demikian simpulan yang dihasilkan oleh penelitian Dewi tahun 2017. Namun demikian, apakah semata-mata karena penerimaan atas eksistensi diri yang rapuh, lantas perempuan Bali melakukan penghancuran diri melalui cara-cara tertentu, sebagaimana dikaji oleh Juniartha dan Putra pada penelitian tahun 2024.
Di samping secara umum dapat dinyatakan bahwa kajian terhadap perempuan dalam karya Oka Rusmini didominasi oleh persoalan ideologis, namun ada penelitian yang memasuki dunia jiwa atau dunia individual perempuan Bali sebagaimana kajian terhadap struktur kesadaran tokoh cerpen ”Pastu” dan ”Kekayi” oleh Irani dkk. tahun 2020.
Penelitian lain berikut misalnya melihat karya-karya Oka Rusmini jauh di luar kutur Bali. Namun demikian tetap memperkaya peta jalan penelitian yang sudah dibangun. Pada wilayah ini, para peneliti memandang bahwa prosa Oka Rusmini sangat menjanjikan dikaji dengan teori kajian wacana kritis (AWK). Lihat saja penelitian-penelitian seperti Suntini dan Dewi tahun 2023. Pun penelitian Windari tahun 2024, Umar tahun 2025, Jaya, tahun 2016, Rumanti dan Rasna tahun 2021; Rosari dan Maryani tahun 2021. Demikian pula analisis campur kode kumpulan cerpen Sagra yang dilakukan oleh Juniari dkk., tahun 2022.
Di samping penelitian-penelitian yang menggunakan teori relatif baru, ditemukan pula kajian konvensional, yang hanya mendeskripsikan tema pada cerpen ”Putu Menolong Tuhan” oleh Dwijatmoko tahun 2019 atau kumpulan cerpen Sagra dalam penelitian Dewi tahun 2022. Dijumpai pula pembahasan umum terhadap perbandingan tema karya-karya pada kumpulan cerpen Sagra dalam penelitian Mandala tahun 2020.
Para peneliti tampaknya tetap ingin menggali hal-hal yang belum terungkap, sehingga cerpen-cerpen Oka Rusmini diharapkan masih memberi informasi lain, seperti mengenai sistem kekerabatan Bali dalam penelitian Sandhy tahun 2014 dan kajian terhadap antoponimi sistem penamaan tokoh dalam kumpulan cerpen Sagra, sebuah studi yang dilakukan oleh Dewi pada tahun 2022.
Di luar kajian sastra, karya Oka Rusmini tetap menarik dikaji dengan menggunakan teori pragmatik, seperti sebuah penelitian yang menganalisis bentuk pelanggaran maksim tuturan tokoh cerpen ”Harga Seorang Perempuan” yang dikerjakan oleh Wulandari, pada tahun 2016.
Penelitian Yuliati tahun 2017 mencoba menggali kehadiran mitos dalam cerpen ”Akar Pule”. Bukan hanya elemen literer yang menonjol dalam karya Oka Rusmini karena karya-karya cerpennya masih memberi berbagai kemungkinan daya tarik secara ilmiah, seperti misalnya kajian yang jarang dilakukan terhadap aspek kebahasaan oleh Widana tahun 2023.
Catatan bibliografis pelelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa para peneliti memberi sumbangan yang penting dalam rangka memahami karya-karya Oka Rusmini. Penelitian-penelitian tersebut membangun ekosistem pemaknaan dan secara teknis tidak lebih dari peta kultural yang dibangun bersama-sama di antara para peneliti. Prosa Oka Rusmini telah menjadi peta verbal tentang Bali.
Peneliti telah sepakat bahwa prosa Oka Rusmini adalah fokus pada perempuan Bali (baik dari kasta sudra yang paling hina atau kasta triwangsa yang paling dihormati). Di sini, para peneliti menyikapi bahwa Bali memiliki ruang kultural yang diskriminatif terhadap perempuan. Perempuan subaltern kemudian dipilih menjadi terminologi yang paling tepat untuk memetakan perempuan Bali. Perempuan subaltern diberi sejumlah penjelasan: marginal, tertindas, subordinat, dalam posisi sebagai perempuan kelas dua harus berjuang. Inilah simpulan yang mengulangi temuan-temuan para peneliti sebelumnya, yang telah jauh sebelum Perang Dunia I datang ke Bali, sejak Margaret Maed hingga Clifford Geertz.
Penelitian sastra pun tampak sangat kontras jika dibandingkan dengan penelitian antroplogi tersebut, menyajikan masyarakat dalam dunia teks. Hal ini berbeda dengan kajian atas dunia Bali di Desa Bayung Gede, esai-esai perjalanan ke negeri eksotisme-nya Miguel Covarrubias, atau kehidupan pedesaan Bali yang kotor dan menjadi impian K’tut Tantri dan pengasuhan anak dalam kehidupan Petani di Desa Trunyan Bali oleh Djames Danandjaja. Realitas Bali dalam teks, baru muncul ketika terjadi transformasi dari lontar ke kertas. Lontar pada abad-abad lalu adalah dunia teks pula tetapi mengkhususkan diri pada mitologi sebagai usaha menghadirkan dunia kedua (dunia niskala).
Peta yang dibangun oleh para peneliti di atas bentangan Bali pada prosa Oka Rusmini lahir dari sumbangan berbagai teori kritis yang ditekuni dan dipuja oleh para peneliti. Teori-teori terpilih dan paling populer pun sedemikian dekat dengan karya-karya Oka Rusmini, gender, feminisme, seperti hegemoni Gramsci, dekonstruksi Derrida, dan analisis wacana kritis. Peta Bali yang tampak nyata adalah peta perempuan Bali yang hidup dalam lokalitas karakter dan budaya. Mereka terbelenggu di bawah ideologi patriarkhi dan kasta (bagi perempuan sudra yang menikah dengan kasta tinggi) baik di dunia rumah atau keluarga suami maupun terpinggirkan di ruang publik.
Para peneliti memahami Oka Rusmini telah melakukan dekonstruksi atas posisi subordinat perempuan sehingga dinyatakan bahwa perempuan Bali tengah melakukan perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu. Namun demikian, perjuangan tersebut belum menjadi Gerakan nyata di Bali. Pemuliaan atas patriarkhi atau penerimaan perempuan atas posisinya dalam konstelasi oposisi biner purusa dan pradana adalah jalan kultural yang dipilih oleh perempuan Bali. Karena itu, tidak selamanya sastra sejalan dengan realitas. Tapi para peneliti terlalu berambisi untuk melinierkan prosa Oka Rusmini dengan Bali secara geografi, demografi, dan politik. Kalau demikian halnya, simpulan-simpulan penelitian tersbut hanyalah positivisme belaka. (*/bp)













