HONGKONG, Balipolitika.com– Seni rupa kontemporer Indonesia kembali menorehkan tinta emas di panggung internasional.
Perupa asal Bali, Citra Sasmita, resmi dinobatkan sebagai pemenang hadiah utama atau grand prize ajang bergengsi Sovereign Asian Art Prize 2026 yang diumumkan oleh Sovereign Art Foundation (SAF).
Atas pencapaian luar biasa ini, Citra Sasmita berhak membawa pulang hadiah uang tunai sebesar USD 30.000 atau setara Rp528.000.000,00.
Pencapaian ini menjadi momentum bersejarah, menjadikan Citra Sasmita sebagai seniman Indonesia pertama yang berhasil memboyong penghargaan tertinggi sepanjang sejarah kompetisi tahunan tersebut.
Seremoni penghargaan dan lelang amal berlangsung khidmat pada Jumat, 15 Mei 2026 di Agate, M+ Museum, Hong Kong.
Melalui proses kurasi dan seleksi yang sangat ketat di kawasan Asia Pasifik, Citra Sasmita berhasil unggul di antara 30 finalis dunia.
Kemenangannya diraih lewat mahakarya bertajuk Poetry of the Fountain.
Karya ini memikat dewan juri lewat perpaduan memukau antara teknik lukisan tradisional Kamasan, aksen pola kain, dan untaian manik-manik khas budaya Bali.
Selain mendapatkan apresiasi finansial sebesar USD 30.000 untuk mendukung keberlanjutan karyanya, hadiah ini membawa pesan ideologis yang kuat: bahwa warisan leluhur bukanlah objek mati yang kaku di masa lalu, melainkan energi dinamis yang terus bertransformasi dan relevan dengan zaman modern.
Poetry of the Fountain juga menjadi sebuah perayaan visual atas kosmologi yang saling terhubung, ritual, serta kekuatan spiritual feminin.
“Setelah beberapa kali berpartisipasi dalam Sovereign Art Prize, saya benar-benar terkejut dan merasa sangat terhormat terpilih sebagai pemenang tahun ini,” ungkap Citra Sasmita.
“Submisi saya sebelumnya telah mengajarkan saya bagaimana mendewasakan proses dan memperjelas gagasan. Melalui karya seni ini, saya ingin menciptakan sebuah dialog global tentang bagaimana pencarian jati diri dan kembali ke akar menjadi fondasi yang vital bagi setiap seniman. Fondasi inilah yang memungkinkan seni menjadi sebuah bahasa universal yang menyentuh hati,” imbuhnya.
Dalam kompetisi ini, Citra Sasmita dinominasikan oleh deretan figur berpengaruh di skena seni internasional, yakni Yvonne Wang, Sakda Chantanavanich, Lisa Botos, Tanya Michele Amador, dan Sofia Coombe (Peruke Project).
Proses penilaian akhir dilakukan oleh panel juri lintas negara, termasuk Ozge Ersoy (Asia Art Archive), kurator Man Ray Hsu, David Elliot, serta perupa Arpita Akhanda (pemenang tahun 2025).
Kemenangan ini membawa angin segar bagi representasi perempuan di kancah seni global.
“Kemenangan ini didedikasikan untuk Anda semua, dan untuk setiap seniman perempuan yang berjuang demi menyuarakan isi hatinya, demi kemanusiaan, dan demi semangat seni yang abadi,” tegas Citra Sasmita.
Meski Indonesia secara konsisten mengirimkan wakilnya di jajaran finalis SAF sejak 2016—dan sempat memenangkan kategori terfavorit pilihan publik (Public Vote) pada edisi terdahulu—baru pada tahun 2026 ini trofi Grand Prize utama berhasil dibawa pulang.
Tahun ini, posisi Indonesia di ajang tersebut semakin solid. Citra Sasmita tidak sendirian; ia bersanding bersama dua seniman hebat lainnya yang juga berbasis di Bali, yakni Sinta Tantra dan Filippo Sciascia, yang turut masuk dalam daftar finalis.
Citra Sasmita lahir pada 30 Maret 1990, ia adalah perupa kontemporer Indonesia yang dikenal konsisten menyuarakan isu-isu perempuan, resistensi terhadap budaya patriarki, serta realitas sosial-budaya. Praktik keseniannya melintasi medium lukisan, seni instalasi, hingga performance art.
Adapun rekam jejak prestasi Citra Sasmita di antaranya (1) Pemenang Gold Award (Kategori Profesional) UOB Painting of The Year (2017); (2) Terpilih dalam program residensi bergengsi SEA AiR di Brussel, Belgia, yang diinisiasi oleh Delegasi Uni Eropa dan NTU Singapura (2022)
Citra Sasmita juga kerap mengikuti pameran internasional di mana karyanya telah melanglang buana di berbagai perhelatan global utama, seperti Kathmandu Triennale (Nepal), Sao Paulo Biennale (Brasil), Thailand Biennale, Diriyah Biennale (Arab Saudi), Sydney Biennale (Australia), serta eksibisi di Prancis, Spanyol, Belanda, dan Jerman. (bp/moch/ken)













