DENPASAR, Balipolitika.com- Tim bulu tangkis putra Indonesia menelan pil pahit setelah gagal melaju ke babak perempat final turnamen beregu paling bergengsi sedunia. Pasukan Merah Putih harus mengakui keunggulan tim Prancis dengan skor akhir satu lawan empat pada laga penentu penyisihan Grup D. Hasil buruk tersebut menjadi catatan sejarah paling kelam karena untuk pertama kalinya Indonesia gugur pada fase awal kompetisi.
Petaka skuad Garuda bermula saat tunggal putra pertama Jonatan Christie gagal menyumbangkan angka pembuka bagi tim nasional Merah Putih. Jonatan tidak mampu meredam permainan agresif Christo Popov dan menyerah dalam dua gim langsung dengan skor yang sangat mencolok. Kekalahan ini langsung memberikan tekanan mental yang sangat hebat bagi pemain lain yang harus bertanding pada partai-partai berikutnya.
Alwi Farhan yang turun pada partai kedua juga tidak mampu membendung kekuatan ledakan pukulan keras dari tunggal putra Alex Lanier. Juara Dunia Junior tersebut menyerah dengan skor ketat meskipun sudah berusaha memberikan perlawanan maksimal sepanjang durasi jalannya pertandingan. Posisi Indonesia semakin terjepit setelah tertinggal nol dua dari tim Prancis yang tampil sangat mendominasi di tengah lapangan.
Anthony Sinisuka Ginting yang menjadi harapan terakhir pada partai ketiga juga gagal membendung kemenangan dramatis dari pemain Toma Junior Popov. Ginting sebenarnya sempat memenangkan gim pertama namun lawan berhasil membalikkan keadaan melalui drama tiga gim yang sangat menegangkan. Kekalahan Ginting secara otomatis memastikan langkah Indonesia terhenti lebih awal dan gagal melanjutkan tradisi menuju babak sistem gugur.
Pasangan Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani juga gagal menyumbang poin setelah kalah dari duet Eloi Adam dan Leo Rossi. Kekalahan dua gim langsung pasangan ini semakin memperlebar jarak keunggulan tim Prancis atas tim Indonesia menjadi skor telak nol lawan empat. Indonesia baru bisa mencuri satu poin hiburan melalui aksi ganda putra Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri.
Kemenangan Fajar dan Fikri pada partai kelima melawan Popov bersaudara tidak mampu mengubah nasib tragis tim Thomas Indonesia di Denmark. Tim Merah Putih akhirnya harus puas menempati posisi ketiga pada klasemen akhir grup di bawah tim Thailand dan tim Prancis. Kegagalan ini memutus rekor impresif Indonesia yang selalu berhasil lolos dari fase grup sejak turnamen ini pertama kali digelar.
Evaluasi total kini membayangi pengurus pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia setelah melihat performa para atlet yang merosot tajam. Kekalahan ini menjadi sinyal bahaya bagi regenerasi pemain tunggal maupun ganda putra yang selama ini menjadi tulang punggung prestasi internasional. Publik bulu tangkis tanah air menantikan langkah nyata federasi untuk memperbaiki kondisi internal tim demi menghadapi ajang besar mendatang. (BP/CHA).













