BELAJAR DARI ALAM
berguru pada langit
yang tak pernah merasa kehilangan
meski telah berkali melepaskan hujan
berkaca pada karang
yang tak pernah menjadi tumbang
tetap tegak menjulang
walau setiap hari diterjang gelombang
bercermin pada matahari
yang tak pernah letih sinari bumi
tak berharap kembali
ikhlas jalani titah illahi
belajar dari sikap bumi
yang tak pernah sakit hati
diinjak oleh ribuan kaki
telapak bersih atau bau tahi
tanpa kata maaf menyertai
begitu harusnya kita
jadi apapun dalam kerja
hendaklah berupaya sekuat tenaga
memberi yang terbaik untuk sesama
bekal kembali menghadap pencipta
Blitar, 2025
PAGAR LAUT
ikan ikan kecil meratap pilu
tempat hidup mereka dipagari bambu
bagaimana bisa menjaga terumbu
perlindungan laut dibuat ambigu
nelayan kecil meratap sedih
perahu sewaan tak bisa berbuat lebih
jarak melempar kail membentur pagar
jaring usang tak bisa ditebar secara lebar
terhalang pagar
liar
pagar bambu menghalang pintu rejeki
mencekik leher nelayan tanpa subsidi
batu batu karang terdiam jadi saksi
ulah dagelan di republik ini
pagar bambu bukti ketidakmampuan
semua institusi bidang kelautan
atau bisa jadi semua ini adalah permainan
lindungi kantong tambah penghasilan
nelayan kecill berpenghasilan kecil
ikan kecil tak terjamah kail
di atas perahun sewaan nelayan menggigil
memeluk nasip kian kerdil
pagar laut mencipta kalut
penghasilan nelayan terhalang kabut
kemiskinan kian tebal jadi selimut
nelayan kecil memeluk lutut
tak kuasa menuntut
pemilik pagar laut
Blitar, 2025
LAUT DALAM, LAUT KELAM
Dari asin air laut kita bisa dengar cerita. Tentang petani garam yang hidupnya tak pernah berubah. Garam yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Memberi cita rasa pada semua jenis masakan dalam kuali. Nyatanya masih menyisakan cerita duka. Nestapa petani garam yang dipermainkan harga keringatnya.
Dari gelombang laut masih terdengar cerita pilu. Tentang nasip nelayan kecil yang perahu sewaannya tak bisa melaju. Terhalang pagar bambu. Nelayan tersedu. Tempat mengais rejeki semakin terbatas. Rumah rumah ikan terlindas. Tergusur oleh kepentingan ngawur. Sedang sewa cicilan perahu tak dapat diundur.
Dari pasir laut terlihat kejadian ribut. Orang orang adu mulut. Saling sangkal atas pagar laut. Nama siapa yang akan tercatut. Agar masalah tak berlanjut jadi sengkarut. Pagar laut dicabut sebelum persoalan tuntas diusut. Terlihat jelas penjahat bertopeng saling sikut. Dengan senyum kecut, mereka pandang sebelah mata keberadaan nelayan berwajah cemberut.
Ikan ikan tersenyum getir. Kepiting dan udang pilih menyingkir. Tak kuasa menatap nelayan yang fakir. Menunggu nasip menghitung pasir-pasir yang sebentar lagi habis dikeruk para eksportir.
Semakin dalam laut, semakin kelam dahi petani berkerut.
Blitar, 2025
TERKUBUR CANGKANG KERANG
lidah gelombang bernyanyi sumbang
menghibur nelayan berhati gamang
hampiri laut dengan kaki telanjang
berharap disapa ikan dan udang
namun sayang hingga hari jadi petang
segenap harapannya melayang
rejeki yang dinanti enggan datang
melangkah lesu nelayan pulang
butir butir pasir merintih dan mengerang
berbagi cerita sedih bersama gelombang
iba menatap nelayan tak lagi pegang uang
tuk membuat perut kenyang
sederet tagihan sudah pula terbayang
siksa hati duduk di tepi ranjang
tega nian kelakuan orang orang
membuat pagar laut nan panjang
daun nyiur melambai bergoyang
panggil ikan dan udang keluar sarang
mereka berdoa semoga angin kencang
cabut pagar bambu sekarang
jika nanti ada penguasa meradang
tiup keras sampai terjengkang
biarkan nyawanya hilang
terkubur cangkang kerang
Blitar, 2025
PERAHU RETAK
wahai ikan ikan kecil di laut
hirup dan telan saja segala sengkarut
agar persoalan cepat mengerucut
perdebatan segera surut
hanyut
coba tengok hati para pelaut
membawa harapan keluarga menantang maut
mengejar peruntungan yang belum tentu ikut
tanpa rasa takut
menebar jala kusut
berjuang tuk mengisi perut
hingga larut
lalu tangan siapa yang tega tancapkan pagar bambu
membentangi pantai sepanjang itu
hingga perahu nelayan tak dapat melaju
ikan buruan sembunyi di balik batu
dengan tangan hampa nelayan melangkah lesu
pulang ke rumah tertunduk pilu
tangis lapar anak nelayan dalam dekap ibu
setumpuk tagihan antri menunggu
hutang sembako di warung sebelah sudah lebih seminggu
uang sekolah anak menunggak, oh malu
wahai gelombang pencumbu pantai
bergulunglah besar ciptakan badai
porak porandakan pagar laut tak berperi
agar tangis nelayan segera henti
agar perahu nelayan laju kembali
untuk menjemput rejeki
penyambung hidup anak isteri
Blitar, 2025
SIAPA MENABUR ANGIN, AKAN MENUAI BADAI
Jangan menentang arus jika tak dapat berenang
Sebab tenggelam itu menyakitkan
Jangan ikut arus jika hati merasa gamang
Karena pura-pura bahagia itu menyedihkan
Jangan mengeluh pada kondisi tak nyaman
Karena keluh kesah bikin keadaan makin runyam
Jangan menabur angin jika tak mau menuai badai
Sebab hidup bukanlah sekadar basa-basi
Jangan memagari laut jika tak ingin dituntut
Sebab nelayan tak lagi takut
Blitar, 2025
BIODATA
HERU PATRIA adalah nama pena dari Heru Waluyo seorang novelis dari Blitar yang juga suka baca dan nulis puisi. Puisi dan cerpennya banyak dimuat di buku antologi nasional serta berbagai media cetak dan online. Selain berkarya dalam bahasa Indonesia, pendiri Paguyuban Swara Sastra Jawa ini juga menulis sastra berbahasa Jawa berupa gurit, wacan bocah, dan crita cekak. Karya sastra bahasa Jawa-nya telah dimuat di Majalah Jayabaya, Majalah Panjebar Semangat, Majalah Djaka Lodang, Majalah Kinasih, dan Harian Solopos. Penulis peraih Anugerah Sutasoma 2024 ini profil giat literasi dan sastranya telah dimuat di Radar Tulungagung, Kawentar Radar Blitar, Blitar Terkini, Literanesia.Com, serta rubrik Sosok di Harian Kompas. Buku puisinya yang telah terbit adalah Berita dari Kolong Tol (2017), Senyawa Kopi Sekeping Hati (2022), Orasi Anak Negeri (2023), Rapsodi Dua Hati (2024).













