DENPASAR, Balipolitika.com– Per 1 September 2024, terdapat sebanyak 95.119 orang yang berusia 100 tahun lebih di Jepang.
Dari jumlah tersebut, 90 persen atau sebanyak 83.958 berjenis kelamin perempuan dan 11.161 adalah pria.
Data ini membuat Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa dan jajaran kaget karena mendengarkan langsung pernyataan tersebut dari bibir Mr. Yukimatsu Hideaki, President Direktur Osaka Social Welfare Corporation yang bertandang ke Kantor Wali Kota Denpasar, Kamis, 25 September 2025.
Didampingi oleh Direktur PT Dipta Widya Saraswati (PT DWS)/Bali Japan International College (Bali Japanic), Made Sukadana Antara dan Eksekutif Director PT DWS/Balijapanic, Denik Suastini, Mr. Yukimatsu Hideaki datang bersama sejumlah profesional asal Negeri Matahari Terbit.
Mereka adalah Mr. Tsujino Shigeo (General Manager SFJ), dr. Hatano Waka (Direktur Rumah Sakit Valtsa Gardel Nara), Ms. Kamitani Chihiro (OSJ), dan Mr. Suto Kazuhiko (President Direktur Aomori Social Welfare Corporation).
“Kami kekurangan penduduk. Prediksi usia tua mencapai puncak di tahun 2040. Kami sangat membutuhkan perawat lansia untuk menjalankan misi kami di Jepang. Usia rata-rata penduduk Jepang 83 tahun untuk laki-laki dan 87 tahun untuk perempuan dan warga yang berusia di atas 100 tahun berjumlah 95 ribu jiwa lebih,” ucap Mr. Yukimatsu Hideaki dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Made Sukadana Antara.
Umur super panjang itu jelasnya dipengaruhi oleh kemajuan teknik perawatan lansia dan dunia kedokteran di Jepang.
Di satu sisi membanggakan, di sisi lain, umur panjang ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi Jepang yang saat ini membutuhkan perawat lansia dalam jumlah banyak, salah satunya dari Indonesia, terutama Provinsi Bali.
Kondisi inilah yang membuat Osaka Social Welfare menjalin kerja sama dengan Bali Japanic, termasuk sejumlah perguruan tinggi di Bali sejak 2020.
Dalam perkembangannya, ungkap Mr. Yukimatsu Hideaki, berdasarkan wawancara dengan para pemuda-pemudi asal Bali yang sedang menimba ilmu maupun bekerja di Jepang, mereka bermimpi bisa menerapkan ilmunya di masa depan di tanah sendiri.
Oleh karena itu, Osaka Social Welfare berencana berinvestasi di Bali dengan membangun sebuah nursing care atau fasilitas keperawatan yang diperuntukkan bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Made Sukadana Antara menilai Bali adalah tempat yang nyaman bagi pasien Jepang dan selain itu saat ini Pulau Dewata juga sudah memiliki rumah sakit internasional.
Investasi ini juga dinilai akan menambah kategori industri di Bali agar tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata, melainkan masuk ke dunia kesehatan.
Kehadiran investasi ini juga secara otomatis akan membuka kesempatan kerja bagi tenaga medis profesional Bali di masa-masa mendatang di mana saat ini mereka masih bekerja di Jepang.
“Osaka Social Welfare adalah sebuah perusahaan dan yayasan swasta di Jepang yang pengelolaannya masih memiliki afiliasi dengan Pemerintah Prefektur Osaka. Pihak Osaka Social Welfare memiliki rencana membangun pusat nursing care bertaraf internasional di Bali, khususnya Kota Denpasar,” jelas Made Sukadana Antara.
Menarik diketahui publik, dr. Hatano Waka, Direktur Rumah Sakit Valtsa Gardel Nara dalam kunjungan tersebut mengatakan bahwa usia panjang penduduk Jepang jomplang dengan tingkat kelahiran, sehingga saat ini terjadi krisis penduduk usia muda.
“Kesehatan di Jepang dimulai sejak anak-anak sehingga harapan hidup masyarakat sangat panjang. Tapi di sisi lain, jumlah anak di Jepang sangat sedikit. Ini menjadi tantangan. Pengobatan di Jepang sangat bagus. Seseorang kalau mau hidup terus bisa. Tapi ini juga menjadi kendala, karena tetap hidup, tapi tidak berdaya akan menjadi beban bagi orang lain,” ucap dr. Hatano Waka.
Menghadapi tantangan ini, Pemerintah Jepang ungkap dr. Hatano Waka sedang berjuang memberikan pemahaman agar masyarakat setempat tidak sekadar berumur panjang, namun juga bisa hidup lebih berkualitas.
“Pasien bisa memilih mau tetap hidup atau meninggal dunia, semisal sampai umur 90 tahun. Ini sedang berkembang di Jepang. Dunia medis di Jepang saat ini sedang menekankan apa itu makna hidup. Ini sedang dipikirkan belakangan ini tentang filosofi hidup. Di mata anak muda Jepang, kini sedang terjadi polemik agar hidup tak sekadar hidup ratusan tahun. Mending dari kecil sehat, kalau sudah selesai, ya selesai. Ada pemikiran seperti itu. Kesadaran akan pentingnya kesehatan di Jepang, bukan hidup lama, tapi sakit, melainkan hidup lama dan berkualitas,” tegas dr. Hatano Waka diterjemahkan oleh Made Sukadana Antara.
Sementara itu, Mr. Tsujino Shigeo (General Manager SFJ) menjelaskan tentang kaum disabilitas Jepang yang didominasi oleh disabilitas mental (55 persen), disabilitas fisik (35 persen), dan lain-lain 10 persen.
Pemerintah Jepang mengcover semua kaum disabilitas sejak tahun 1970 dan sejak tahun 2000 mereka diperlakukan sama dan hidup berdampingan dengan warga kebanyakan.
“Belakangan ini, pemerintah menyusun undang-undang untuk mewajibkan perusahaan menerima orang dengan disabilitas. Sesuai undang-undang ketenagakerjaan sebesar 2,5 persen harus orang dengan disabilitas. Lebih dari itu dapat insentif. Yang kurang dikenakan denda. Tujuan terbesarnya adalah untuk tidak membeda-bedakan manusia,” ungkap Mr. Tsujino Shigeo.
Atas paparan yang disampaikan Osaka Social Welfare Corporation dan Bali Japanic, Wawali Arya Wibawa menyambut baik kunjungan tersebut dan mendukung kerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka kemajuan pembangunan Denpasar.
“Pada prinsipnya kami selalu membuka diri menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka memajukan pembangunan di Kota Denpasar, tidak terkecuali di bidang ketenagakerjaan,” kata Arya Wibawa
Arya Wibawa menambahkan, saat ini demografi di Kota Denpasar mencakup 60 persen penduduk yang masih berusia produktif. Hal ini menjadi tantangan kebijakan pemerintah untuk bisa terserap di dalam dunia kerja.
“Kami sangat berharap penjajakan kerja sama ini ke depan dapat berlanjut, khususnya bidang pengembangan SDM sehingga diharapkan ke depan generasi muda berasal dari Bali dapat mengembangkan skills, khususnya bidang kesehatan,” ungkapannya. (bp/ken)













