FASILITATOR: Foto bersama, seusai kegiatan Diskusi dan Bedah buku Singgasana Battisi, Canakaya Academy, difasilitasi Partai NasDem. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Partai Nasional Demokrat (NasDem), melalui Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Bali, memfasilitasi kegiatan Diskusi & Bedah Buku Singgasana Battisi oleh Canakaya Academy, turut diisi kegiatan peluncuran yang langsung dihadiri sang penulis, Prof. Gautam Kumar Jha sebagai Pakar Studi Asia Tenggara dari Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India, bersama Tokoh Publik, Dr. Somvir yang juga Anggota DPRD Provinsi Bali, bertempat di Auditorium NasDem Bali, Renon, Denpasar, Selasa, 12 Agustus 2025.
Mewakili NasDem, Anak Agung Ngurah Gede Widiada selaku Ketua Bapilu DPW Partai NasDem Bali mengatakan, kegiatan Diskusi dan Bedah Buku merupakan agenda sosial Partai NasDem yang aktif diselenggarakan, sebagai wadah di mana sebuah buku dibahas secara mendalam, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang isi buku, serta memberikan ruang bagi diskusi dan kritik terhadap buku-buku yang dibedah.
“Forum ini kan sebenarnya dicetuskan oleh Ketum (Ketua Umum, red) NasDem Bapak Surya Paloh untuk siapa (Umum, red) saja. Kebetulan di Bali, kali ini kami berkolaborasi dengan tokoh-tokoh intelektual, spiritual, politik hingga lintas profesi. Sinergi ini tentu menjadi kehormatan bagi kami, bagaimana DPW NasDem dapat dijadikan suatu wadah akademik selain agenda politik yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat,” ungkap Turah Widiada sapaan akrabnya, kepada wartawan Bali Politika.
Selanjutnya, Turah Widiada berharap kolaborasi dalam kegiatan Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi yang digelar di Auditorium NasDem Bali ini, diharapkan dapat memperdalam pemahaman masyarakat tentang buku yang dibahas, sehingga mampu memberikan wawasan baru dan memotivasi masyarakat untuk menulis.
“Sejalan dengan kegiatan kali ini, mudah-mudahan bisa memberikan dampak positif secara akademis bagi semua masyarakat, khususnya Kader NasDem Bali yang memperkuat etika dalam berpolitik mereka,” cetusnya.
Acara ini dipandu langsung Akademisi, Penulis asal Bali dan juga Pimpinan Canakya Academy, Dr. N.K. Surpi Arya Dharma. Sementara, sebagai Penulis Singgasana Battisi, Prof. Gautam Kumar Jha mengatakan, karya tulisnya diharapkan mampu membuka ruang dialog yang kaya akan perspektif, mempertemukan khazanah sastra klasik dengan tantangan dunia modern.
“Melalui bedah buku ini, kami ingin menunjukkan bahwa kisah-kisah klasik tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber nilai dan kebijaksanaan yang relevan untuk membentuk kepemimpinan yang berintegritas di masa kini,” terangnya.
Dalam diskusi buku yang digelar, menggambarkan sedikit literasi yang ada dalam karya Singgasana Battisi, menjelaskan tentang penguasa Malwa yang memulai era penanggalan Vikram Samvat pada 57 SM, meski bukti arkeologis untuk periode tersebut masih diperdebatkan.
Disisi lain, sumber utama yang membentuk citra Vikramaditya banyak berasal dari karya sastra seperti Vikram-Betaal dan Simhasana Dvatrimsika, yang lebih berfungsi sebagai literatur moral-filosofis ketimbang catatan kronik faktual.
Menariknya, konstruksi legenda ini tampaknya bersifat retroaktif mencampurkan ingatan kolektif akan raja-raja bijak dari masa Gupta dan Shaka, lalu meramunya menjadi satu figur ideal yang dijadikan model kepemimpinan.
Jika dilihat dari perspektif historis-budaya, ajaran yang dilekatkan pada sosok ini bukanlah sekadar nasihat moral, melainkan representasi nilai-nilai politik dan sosial yang memang dipraktikkan pada masa kejayaan India kuno.
“Prinsip keadilan tanpa pandang bulu, keberanian dalam menghadapi tantangan eksternal, dukungan terhadap seni dan ilmu, serta kemampuan mengintegrasikan logika dengan etika, semuanya adalah refleksi dari tata pemerintahan yang menjadi fondasi stabilitas imperium,” imbuhnya.
Di era modern, relevansinya tetap kuat, yakni integritas hukum seperti yang diceritakan dalam Simhasana Dvatrimsika menjadi tolok ukur kepemimpinan politik, keteguhan menghadapi risiko ala kisah Vikram-Betaal menjadi inspirasi inovasi, sementara perlindungan terhadap cendekiawan dan seniman mengingatkan bahwa modal intelektual adalah kunci daya saing bangsa.
Dengan demikian, meskipun identitas Vikramaditya sebagai tokoh tunggal sulit diverifikasi secara historis, ajaran yang dikaitkan dengannya merupakan kristalisasi pengalaman politik, sosial, dan kultural India kuno yang tetap relevan hingga sekarang. (bp/gk)










