PAK IDRIS tidak memahami apa yang sedang diributkan orang-orang akhir-akhir ini. Dia hanya sering melihat di televisi orang-orang sedang ramai memperdebatkan ijazah Pak Presiden. Satu kubu menganggap bahwa ijazah Pak Presiden palsu, sedangkan di satu kubu yang lain mengatakan bahwa ijazah Pak Presiden itu asli dan sah. Ironisnya mereka yang berdebat pun sama-sama tidak memiliki ijazah. Yang satu hanya sampai kelas 5 SD yang lainnya malahan tidak sekolah. Aneh memang, tetapi apalah daya Pak Idris juga tidak memiliki ijazah karena tidak pernah menamatkan pembelajaran formal. Dia hanya pernah belajar mengaji di masjid kepada Kyai Sodli. Baginya itu sudah cukup. Tidak ada ijazah, tidak dapat surat keterangan lulus, tidak perlu gelar, dan tidak usah ada penghargaan. Baginya, Kyai Sodli sudah cukup jadi panutan dan pembimbingnya. Soal apa itu ijazah, Pak Idris tidak memperdulikannya.
Sekali lagi, Pak Idris tidak mengerti soal ijazah. Dia tidak pernah sekolah resmi. Bahkan, menurut Badan Pusat Statistik Negara, Pak Idris masih termasuk kepada orang-orang yang dicap buta huruf. Walaupun dia sangat fasih membaca dan menulis dalam aksara Arab, tetapi masih dianggap orang yang tidak bisa baca-tulis. Ironis memang. Bagi Pak Idris, karena tidak mengusai aksara latin dia dianggap manusia yang tidak berguna apalagi ditambah tidak memiliki ijazah. Terkadang, Pak Idris mempertanyakan tentang batasan buta huruf itu. Apakah hanya dilihat dari bisa tidaknya membaca dan menulis dalam huruf latin? Apakah sebegitu tertinggalnya dia karena hanya mengenal aksara Arab? Dia benar-benar tidak paham. Terlebih sekarang berita yang beredar tentang ijazah. “Ah, makhluk apa lagi itu?” gumamnya dalam hati. “Mengapa juga manusia memerlukan ijazah?” lirihnya.
Dalam kegiatan sehari-harinya sebagai bakul beras di Pasar Sidamulya, Pak Idris selalu mencatat aktivitasnya dengan Arab pegon, yaitu tulisan dalam aksara Arab dengan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda, kadang beberapa pelanggannya mengernyitkan dahi ketika memabacanya.
“Ini apa Pak? Saya gak bisa membacanya.” ujar pelanggannya sambil terlihat kesal.
“Udahlah Pak, pakai huruf latin dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sunda saja.”
“Tulisan begini adanya di pengajian sana.” pelanggan yang lain menimpali.
Dalam batin, Pak Idris merasa geli dengan tingkah mereka, “Jangan-jangan mereka yang buta huruf, bukan saya.” Batinnya.
Ya, baginya, mencatat adalah hal yang tidak pernah tertinggal. Apa pun dia catat sebagai pengingat dan sebagai tanda bahwa dia ingin selalu berpikir. Dia masih ingat amanat dari Kyai Sodli bahwa “Ilmu itu ibarat burung yang terbang dan menulis adalah talinya.” Ingat betul dia akan nasihat dari gurunya itu. Jadi, apa pun akan dia catat sebagai bagian dari pengikat dan pengingat pengetahuan, ilmu, pengalaman, dan wawasannya. Walaupun orang banyak yang tidak memahami dengan tulisannya tersebut dia tidak ambil pusing. Apalagi soal ijazah, dia bahkan tidak peduli sama sekali.
Suatu sore, setelah pasar mulai sepi, Pak Idris duduk di bangku kayu dekat kiosnya. Tangannya masih memegang buku catatan lusuh dengan tulisan Arab pegon yang memenuhi setiap halamannya. Dia menatap jauh, seolah mencari sesuatu yang lama hilang. Di benaknya, terlintas kenangan masa kecil ketika teman-temannya pulang membawa rapor dengan cap merah-biru, sementara dia hanya bisa membawa hafalan doa pendek dari Kyai Sodli.
“Kalau punya ijazah, hidup pasti enak ya?” gumam seorang pemuda yang lewat sambil merokok seolah menyindir dan menertawakan Pak Idris. Kata-kata itu menusuk seperti pisau kecil di ulu hati Pak Idris. Dia tidak tahu, apakah benar ijazah bisa membuat hidup enak? Pak Idris hanya tahu, banyak orang berijazah tinggi tetap datang ke pasar, menawar harga, bahkan ada yang berutang kepadanya.
Malamnya, di rumah sederhana yang berdinding bilik bambu itu, Pak Idris kembali membuka catatan. Di halaman terakhir, dia menuliskan sebuah kalimat dengan aksara Arab “Ilmu sejati tidak pernah butuh stempel.” Dia tersenyum kecil. Sesaat kemudian, dia mendengar suara ribut di warung sebelah. Beberapa orang kembali memperdebatkan ijazah Pak Presiden. Suaranya keras, nyaris seperti pertengkaran.
Pak Idris hanya menghela napas panjang. “Ijazah… ijazah…,” bisiknya. “Kalau ijazah bisa membuat orang lupa sopan santun, barangkali lebih berharga tidak punya ijazah.”
Di luar, bulan separuh menggantung. Pak Idris menatapnya dengan tatapan lega. Dia merasa, mungkin hanya bulan yang tidak pernah ditanya ijazahnya, tapi tetap setia menerangi malam. Malam itu, di kamar Pak Idris yang temaram. Lampu kecil lima watt di atas kepalanya menyala, memantulkan bayangan tubuhnya di dinding bilik bambu itu. Dia duduk bersila di atas tikar, buku catatan lusuh terbuka di depannya. Tangannya gemetar ketika menyusuri huruf-huruf Arab pegon yang sudah mulai pudar.
Pak Idris menghela napas panjang, lalu berbisik pelan, seakan sedang berbicara dengan dirinya sendiri:
“Ijazah, mengapa manusia begitu sibuk dengan benda itu? Apa gunanya selembar kertas bersampul biru kalau akhirnya manusia hanya bisa saling mencaci? Aku ini dianggap buta huruf, padahal huruf-huruf ini sudah menemaniku sejak kecil. Kalau aku bisa membaca ayat Tuhan, mengikat ilmu dengan tulisan, apakah aku tetap disebut bodoh? Kalau bodoh itu artinya tidak bisa baca latin, maka biarlah. Tapi kalau bodoh artinya tidak bisa menghargai ilmu, siapa sebenarnya yang paling bodoh?”
Dia berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. Bayangan Kyai Sodli muncul jelas di benaknya, dengan suara berat dan teduh yang dulu selalu mengajarinya sabar.
“Kyai, andai Engkau masih ada, pasti Engkau akan tersenyum melihatku tetap menulis. Tapi orang-orang hanya tertawa. Mereka bilang catatanku aneh, tak berguna. Mereka bilang aku bukan siapa-siapa karena tak punya ijazah. Padahal bukankah ijazah hanyalah cap manusia, sementara ilmu adalah cap Tuhan?”
Pak Idris menunduk, menuliskan kalimat baru di catatannya: “Ilmu yang sejati adalah akhlak.” Tulisan itu tampak miring, terlihat terburu-buru, tetapi baginya sangat sempurna.
***
Beberapa hari kemudian, pasar Sidamulya gempar. Ada pengumuman yang ditempel di papan pengumuman dekat pintu masuk pasar. Surat dari pemerintah kabupaten, berkop resmi dan bertanda tangan tebal, isinya: “Setiap pedagang wajib memiliki ijazah minimal SMP sebagai syarat melanjutkan usaha di pasar.” Para pedagang saling berbisik. Ada yang mencibir, ada yang bingung, ada pula yang langsung panik. Pak Idris tidak bisa membaca tulisan itu. Huruf latin terlalu sulit baginya, tetapi dia masih bisa menangkap maksudnya dari perbincangan orang-orang sekitarnya.
“Wah, Pak Idris gimana tuh? Bapak kan gak punya ijazah.” celetuk seorang pedagang sayur sambil tertawa hambar.
Yang lain menimpali, “Iya, jangan-jangan nanti kiosnya ditutup.”
Pak Idris hanya diam. Dadanya sesak. dia pulang dengan langkah gontai, jauh lebih berat dari biasanya.
Di kamarnya yang temaram, dia kembali membuka buku catatan lusuh itu. Lampu menyala redup, seakan ikut merasakan getir yang dia tanggung. Dia berbicara lirih, seperti curhat pada dirinya sendiri:
“Apakah hidup ini hanya selembar kertas? Kalau begitu, aku sudah kalah bahkan sebelum berperang. Lalu, untuk apa aku menulis, mengingat, dan berdoa? Apakah semua itu tidak dianggap ilmu? Apakah semua itu tidak sah?”
Tanpa disadari air matanya jatuh mengenai kertas. Dia lalu menulis terburu-buru dalam aksara pegon: “Ijazahku adalah kejujuran. Ijazahku adalah amanah. Ijazahku adalah doa-doa yang tidak pernah putus.”
Tiba-tiba dia berhenti, lalu menatap langit-langit bilik. Suaranya naik, penuh keyakinan:
“Kalau pemerintah meminta selembar ijazah, biarlah mereka ambil kios itu dariku. Tapi aku punya ijazah yang tak bisa digugat siapa pun. Ijazahku adalah hidupku sendiri. Ijazah sejati, yang kutulis dengan peluh, dengan doa, dengan huruf-huruf yang hanya aku dan Tuhanku yang tahu.”
Dia menutup buku itu rapat-rapat, lalu menaruhnya di atas dadanya. Di luar, malam begitu hening. Angin meniup perlahan, seakan mengamini tekad seorang manusia sederhana yang menemukan ijazahnya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian, petugas dari kecamatan datang memeriksa para pedagang. Satu per satu diminta menunjukkan ijazah. Banyak yang panik, sebagian sibuk mencari-cari di rumah, ada pula yang nekat membeli ijazah palsu. Ketika giliran Pak Idris, dia hanya tersenyum. Petugas yang membawa map tebal menatapnya dengan alis terangkat.
“Pak, ijazahnya mana?” tanya petugas itu.
Pak Idris membuka tas kain hitamnya, mengeluarkan buku catatan lusuh penuh tulisan Arab pegon. Dengan tenang, dia menyerahkannya.
“Ini ijazah saya.”
Petugas itu tertegun. Alisnya mengerut. “Pak, ini tulisan apa? Ini bukan ijazah.”
Pak Idris menatapnya dengan mata teduh. “Di sinilah seluruh hidup saya tercatat. Ilmu yang saya pelajari dari guru, yakni tentang kejujuran dalam berdagang, doa-doa yang saya tulis. Kalau ini bukan ijazah, lalu apa yang disebut ijazah sejati?”
Petugas itu tak menjawab. Pasar hening seketika. Para pedagang menunggu, menahan napas. Tiba-tiba, salah seorang pedagang yang dulu mengejek Pak Idris bersuara lirih, “Pak, boleh saya lihat catatan itu?”
Dia membuka halaman demi halaman, terdiam lama, lalu menutup buku itu dengan tangan bergetar. Wajahnya pucat.
“Kenapa, Pak?” tanya yang lain.
Pedagang itu menelan ludah, lalu berbisik, “Tulisan ini, ini, ini adalah doa. Tapi bukan doa biasa. Ada nama-nama kita semua di dalamnya.”
Semua orang terperanjat. Petugas pun ikut mendekat, tampak gelisah.
Pak Idris hanya tersenyum samar. “Itu ijazah saya,” katanya pelan.
Petugas yang lain mendekat, membuka beberapa lembar catatan Pak Idris. Semakin dibaca, wajahnya semakin pucat. Dia menutup buku itu tergesa, seperti sedang menyentuh sesuatu yang terlalu panas.
“Pak, ini catatan apa sebenarnya?” suaranya bergetar dipenuhi rasa penasaran.
Pak Idris tersenyum samar. “Itu bukan sekadar catatan. Itu pengikat ilmu, pengikat doa, pengikat hidup. Kyai saya bilang, menulis adalah tali yang mengikat burung ilmu agar tidak terbang. Jadi semua doa, semua nama, semua janji, saya ikat di sana. Kalau kau bilang itu bukan ijazah, biarlah. Tapi bagi saya, itu ijazah sejati.”
Para pedagang terdiam. Angin pasar tiba-tiba berhembus lebih dingin. Selembar kertas dari buku itu terlepas, melayang, lalu jatuh tepat di kaki petugas. Di lembar itu tertulis doa dengan huruf Arab pegon: “Semoga siapa pun yang menindas orang kecil akan kehilangan jalan hidupnya.”
Petugas menelan ludah. Dia buru-buru menutup mapnya, lalu pergi tergesa tanpa menyinggung soal ijazah lagi. Sejak kejadian itu, tak ada lagi yang berani membicarakan aturan “Wajib Ijazah” di Pasar Sidamulya. Anehnya, seolah-olah pengumuman itu tidak pernah ada. Tapi bisik-bisik mulai terdengar di antara pedagang, “Konon, catatan Pak Idris keramat. Siapa pun yang mencoba meremehkannya akan ketiban sial.”
Pak Idris sendiri hanya tertawa kecil setiap kali mendengar gosip itu. Malam-malam berikutnya, dia tetap menulis di bawah lampu lima watt, menambahkan doa dan catatan dengan tenang. Di dadanya, dia merasa, itulah ijazah yang tak bisa digugat siapa pun. Dan entah mengapa, sejak saat itu, semua orang di pasar justru lebih sering mencatat, seperti meniru kebiasaan Pak Idris.
BIODATA
HERI ISNAINI lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Kegiatan sehari-harinya adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Cimahi.













