SETIAP sore lelaki tua itu menaburkan beras di halaman rumahnya. Tangannya gemetar ketika menggenggam mangkuk kecil berisi butiran-butiran putih, tetapi gerakannya selalu sama, yaitu melangkah pelan menuju pohon mangga di depan rumah, berhenti di dekat sumur tua, lalu menebarkan beras ke tanah sambil memanggil satu nama yang tidak pernah dijawab siapa pun. “Laras”
Suaranya lirih. Kadang tenggelam oleh suara angin. Kadang kalah oleh deru motor dari jalan raya kecil di depan gang. Tetapi lelaki tua itu tidak pernah berhenti memanggil. Anak-anak kampung mulai menganggapnya gila. Mereka sering mengintip dari balik pagar sambil berbisik-bisik.
“Itu Pak Wiryo lagi manggil burung,” ujar seorang anak.
“Kata ibu, anaknya hilang,” anak lain menimpali.
“Bukan hilang. Tapi mati,” kata yang lain.
“Katanya jadi burung,” mereka meyakini itu.
Lalu mereka tertawa kecil sebelum berlarian pulang ketika matahari mulai tenggelam.
Pak Wiryo tidak pernah marah. Ia hanya terus menunggu di halaman rumah setiap senja, ditemani suara burung dan bau tanah yang perlahan dingin setelah seharian dibakar matahari.
Rumah Pak Wiryo sudah sangat tua. Dindingnya kusam. Cat hijaunya mengelupas seperti kulit yang lelah. Atapnya bocor di beberapa bagian. Di teras depan terdapat kursi kayu panjang yang mulai rapuh dimakan usia. Di samping pintu tergantung sangkar burung kosong berwarna cokelat tua, bergoyang pelan setiap kali angin lewat.
Dulu rumah itu ramai. Suara perempuan memasak dari dapur. Radio tua yang memutar lagu keroncong. Tawa anak kecil. Dan seorang gadis yang suka menyiram bunga melati setiap sore. Namanya Ayu Laraswati. Putri satu-satunya Pak Wiryo. Sudah sebelas tahun sejak gadis itu pergi. Tetapi bagi Pak Wiryo, waktu seperti berhenti berjalan sejak hari itu.
Laras menyukai burung sejak kecil. Ia sering duduk di bawah pohon mangga sambil membawa buku gambar dan menggambar burung-burung yang hinggap di kabel listrik. Burung pipit. Burung gereja. Kadang-kadang kutilang yang datang selepas hujan. “Ayah tahu?” katanya suatu sore ketika masih kecil. “Burung tidak pernah benar-benar tersesat,” katanya. Pak Wiryo yang sedang memperbaiki radio hanya tertawa kecil. “Kalau sayapnya patah?” tanya Pak Wiryo. Laras berpikir lama sebelum menjawab. “Berarti langit sedang lupa jalan pulangnya,” jawab Laras.
Sejak kecil anak itu memang sering berbicara aneh. Ibunya bilang Laras terlalu banyak membaca puisi. Tetapi Pak Wiryo menyukai cara putrinya melihat dunia. Gadis itu seperti selalu menemukan kehidupan pada hal-hal kecil: suara hujan di genting, daun yang jatuh, uap teh panas, atau cahaya senja di dinding rumah.
Ketika dewasa, Laras sering pergi ke kota untuk kuliah. Ia belajar sastra. Pulang hanya beberapa bulan sekali. Dan setiap pulang, rumah tua itu kembali hidup. Ada suara langkah kecil di lorong. Aroma kopi dari dapur. Dan tumpukan buku puisi di meja ruang tamu. Kadang malam-malam Laras membaca puisi keras-keras di teras sambil mendengar hujan.
Kadang ia tiba-tiba bertanya, “Ayah pernah merasa seseorang bisa hilang tanpa benar-benar pergi?” Pak Wiryo tidak pernah mengerti pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Ia hanya mengangguk sambil mengisap rokok kretek pelan.
***
Hari terakhir Laras pulang adalah malam musim hujan. Langit sangat gelap waktu itu. Angin membuat pohon mangga di depan rumah bergerak liar seperti seseorang yang sedang ketakutan. Laras duduk di teras sambil memegang secangkir teh hangat.
“Ayah,” katanya pelan.
“Hm?” timpal Pak Wiryo
“Kalau suatu hari aku tidak pulang, Ayah jangan sedih,” Laras melanjutkan.
Pak Wiryo tertawa kecil. “Ke mana memangnya?”
Laras memandang hujan cukup lama sebelum menjawab. “Kadang manusia harus hilang supaya bisa benar-benar ditemukan,” ujar Laras.
Jawaban itu membuat Pak Wiryo mengernyit. “Kamu ini kalau ngomong kayak orang tua.” Laras hanya tersenyum. Tetapi matanya tampak sedih malam itu. Sangat sedih. Keesokan paginya ia pergi ke kota. Dan tidak pernah kembali lagi.
***
Orang-orang mengatakan Laras hilang. Sebagian bilang ia kabur. Sebagian bilang bunuh diri. Sebagian lagi percaya ia menjadi korban kecelakaan saat hujan deras. Tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan. Yang ditemukan hanya tas kecil berisi buku puisi basah di terminal kota.
Sejak itu Pak Wiryo mulai menunggu. Mula-mula di depan rumah.
Lalu di ujung gang. Lalu di terminal. Ia menunggu berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Sampai suatu sore seekor burung kecil hinggap di pagar rumahnya tepat ketika matahari tenggelam. Burung itu diam cukup lama. Tidak takut manusia.
Dan entah kenapa, Pak Wiryo merasa matanya basah saat melihat burung tersebut. “Aku tahu itu kamu,” bisiknya. Sejak hari itu ia mulai memberi makan burung setiap senja. Karena ia percaya: Laras pulang sebagai burung.
Waktu membuat ingatan Pak Wiryo perlahan keropos. Ia mulai lupa tanggal. Lupa nama tetangga. Kadang lupa sudah makan atau belum. Tetapi ia tidak pernah lupa menunggu senja. Dan tidak pernah lupa nama Laras.
Sore itu hujan baru saja reda ketika seorang lelaki muda datang ke rumah tua tersebut. Namanya Damar. Ia berdiri ragu di depan pagar sambil membawa buku tua bersampul biru. “Permisi…” Pak Wiryo menoleh pelan. Tatapannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus. “Ada perlu?” ujarku penasaran. “Saya menemukan alamat ini di dalam buku,” kata Damar sambil menyerahkan buku itu perlahan.
Tangan Pak Wiryo gemetar ketika menerimanya. Buku puisi itu lembap.
Sampulnya nyaris rusak dimakan air. Tetapi ia mengenalinya. “Itu punya Laras…” Suara lelaki tua itu nyaris patah.
Angin sore bergerak pelan membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari halaman samping rumah. “Bapak kenal perempuan bernama Ayu?” tanya Damar hati-hati. Pak Wiryo mendadak diam. Matanya menatap jauh ke arah pohon mangga. Seolah sedang mencari sesuatu di antara daun-daun yang bergerak pelan. “Ayu…” bisiknya. Nama itu terdengar asing sekaligus akrab.
Lalu seekor burung kecil hinggap di sangkar kosong dekat pintu rumah. Pak Wiryo memandangnya lama sekali Air matanya jatuh perlahan. “Aneh,” katanya lirih. “Laras dulu juga suka dipanggil Ayu oleh ibunya.”
Langit mulai berubah jingga. Burung kecil itu berkicau pelan sebelum terbang ke arah senja. Pak Wiryo berdiri tertatih menuju halaman. “Laras…” Angin berembus lembut. Daun-daun mangga berguguran.
Dan untuk sesaat, Damar merasa melihat sosok perempuan berdiri di bawah pohon: rambut panjang, sweater abu-abu, dan senyum yang sangat samar. Lalu bayangan itu lenyap bersama cahaya senja. Yang tertinggal hanya suara lelaki tua memanggil anaknya pada langit yang perlahan gelap.
Dan di meja ruang tamu, tepat di bawah buku puisi basah itu, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang mulai pudar: Tidak semua yang hilang benar-benar pergi. Di bawahnya terdapat satu kalimat lain yang nyaris tak terbaca:
“Kamar 13 menunggu hujan berikutnya.”
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.










