MEMAR
langit telah memandikan rumah-rumah
dengan warna jingga
bola api matahari hanya menerangi,
belum menghangatkan. udara dingin mengguyur,
tak terjangkau, melayang. burung-burung merpati
mengeluh sambil berputar-putar
tak ada hembusan napas menggerakkan panas
menekan tubuh berat dan beruap sepanjang jalan
sepukulan penuaan dini, memudar oleh waktu
orang berseliweran dengan langkah bergegas
jalanan merayap, bergelombang seperti sungai keruh
gelombang daging berat menerobos trotoar
berderak seperti ombak dan terus berjalan
laut tampak seperti mengintip dari kejauhan
naik perlahan ke atas kota lusuh dan layu
desiran angin dingin menyapa tanpa basa-basi
di antara pohon-pohon telanjang
cahaya matahari jatuh diam-diam di bahu gereja
menciptakan bayang lembut di atas jalan berbatu
daun-daun beranjak menguning sebelum kemerahan
akhirnya jatuh dimakan musim
berbilang abad melihat bagaimana orang-orang
dihisap pabrik-pabrik lalu menetap di dalam ingatan
diam-diam membentuk cara kita memandang dunia
waktu berputar seperti jarum jam di otak
dan hari-hari menggila melihat wajah-wajah bernoda
dalam terang lilin-lilin, apakah aku batu atau domba,
berdiri di bawah salib-Mu, berkilauan dalam cahaya kristal
mendengar pujian dilantunkan seperti ringkik patah
di depan gerbang tuhan yang tertutup
aku tak punya ucapan untuk menyampaikan
lingkar kenyataan di sekelilingku
dalam cahaya dingin wajah-wajah pucat
sepanjang hari bergumul dengan mesin-mesin mendengung
debu halus beterbangan hingga tenggorokan kering dan gatal
jari-jari berkeringat gemetar seperti batang sebuah piston
hitam tipis terbang, menyatu dengan mesin
roda penggerak dan baja menggigit hingga linu di persendian
bersepah sisa nyeri di dada sebelum petang surut
malam hari membaca buku-buku
meragukan dengan keras kubu-kubu
mengingat dengan lembut sebuah ungkapan:
ide punya kaki, pikiran melompat jadi letupan-letupan kecil,
melebur, membara, menyemburkan api di alun-alun
di sebuah aksi protes, mata menyala membangkitkan
massa yang tak bisa lagi menangis
buruh berpeluh bersama, meremas nasib samsara
berapa lama lagi hidup serupa ternak di pasar
pikiran tergores masa depan paling mengerikan
dalam mabuk panjang, kelopak mata terkulai
empat puluh tahun hidup dalam diam di apartemen sempit,
memegangi dadanya dan terengah-engah,
hingga nyanyian masa mudanya penuh intelektual berubah
menjadi raungan serak mendengus dan menggeram ditiup takdir
mata yang keruh bertemu dengan fajar
setitik cahaya menggantung membisikan harapan:
semoga hari ini dunia bisa bijak sejenak
bersiaplah untuk hari padat, diperkuda kerja
seperti ngengat berputar-putar di sekitar cahaya
ketika semua gerak-gerik menindas ruang
baku tipu menggerus diri
beradaptasi dan menerima paranoia
rasa sakit memprovokasi pemahaman
jebakan-jebakan mengedipkan mata
hasrat absurd pun bermain, menghindari kehancuran
sedetik kita telah selamat dari seluruh skenario
(teknologi, dolar, kekuasaan)
lahir dari repetisi kecil yang tabah
riak tubuh ditulis di telapak tangan
sebelum detik berayun, pikiran berpendar
di bawah pengawasan mikroskop,
kehidupan terus berlanjut
hidupmu melahap hidupku
MAGIC MUSHROOM
1.
dari peri tumbuhan
jamur muncul dalam semalam
tudungnya secercah koin
topi hantu berkilau
di antara rerumputan
di bawah kaki sapi
dilewati petani sebelum membajak
mata pekat menatap lanskap
hamparan pakis, semak berduri
perdu luas, sejenis relief
coretan-coretan piksel kecil
tersusun di dalam blok
kata dan kalimat
menerjemahkan ledakan di otak
2.
pergilah ke batas gelap itu
berdirilah tegak, hadapi sang liyan
yang sedang berlutut
seperti biarawan telanjang
diam di bawah tunggul pohon
rasa miring, melayang, mengguncang
berputar pikiran dan kehampaan
naik roller coaster, menjelma burung
naik ke surga
panggung telah disiapkan
langit mengulurkan tangan
mengupas dinding waktu
meraih wajah monster yang meleleh
3.
gedung abu-abu, fasad melengkung
kubah mewah berkilauan diselimuti senja
patung kecil malaikat telanjang di puncaknya
menonjol gaya gotik dalam tuhan
dalam gemerincing hari-hari
aku menari histeris
bersama para darwis
topi runcing dan jubah berkibar
sebuah rebana raksasa ditabuh
kupu-kupu menari-nari
keluar dari bibirku
di bawah labirin kerutan
4.
aku duduk patuh di kuil Buddha
menumbuhkan janggut
bergerak linglung, sebelum entropi
di antara dewa dan belatung
aku menangis di biara-biara gurun
cahaya menyelubungi wajahku
di makam para santo
melampaui paranoia
5.
mataku menatap kepergian para pagan
berambut acak-acakan, rasa yang tertinggal
dari keheningan tanpa batas
jalur cahaya bulan purnama tak terduga
telah kutelusuri lelaku para tetua
aku hanyalah sejenis hewan bijaksana
selebihnya sekumpulan orang waspada
menanggung kegilaan ini dengan cambuk tawa
IRAMA KOTA
grafiti di dinding
lorong panjang kumuh
lampu neon letih
langkah-langkah tergesa
sambil memeluk jaket tanpa menoleh
pada gembel tidur di emperan
pada sampah tertinggal
di sudut Stasiun Central
di bawah langit kelabu musim dingin Sydney
di George Street gerombolan
gelandangan lapar kedinginan
terpaku dalam selimut malaikat putih
mengemis uang receh dan sigaret
di jalan setapak di dekat Balai Kota
kota masih enggan membuka lengannya
menatap dengki nuansa tropis
bahasa bercampur dalam darah
suasana meriah, ganja diedarkan
orang-orang bersulang anggur merah
penyanyi jalanan melantunkan lagu tua
kebanggaan kaum Bogan
senandungnya melawan cuaca
TATKALA
terlalu lama diam melihat gebalau dunia
kata-kata telah membelah kita
kau di sana, aku di sini
di tengah bercokol sang takut
pandangan mata kosong
tak lagi merindu
pertemuan penuh basa-basi
sambil mengingat
kita dilahirkan tidak untuk sakadar
bertahan hidup
bagaimana suara muncul dalam kata-kata
siapa yang membayar apa
untuk berbicara
kata-kata membuka cangkang
buku-buku bernyanyi
cinta menyala dan berdenyut di halaman
meledak di ujung bibir
sampaikah di ruang-ruang gelap kekuasaan
kata-kata yang tertinggal
di dasar jurang rahang
menjadi sedimen, sarang ular berbisa
BIODATA
Helmi Y. Haska, lahir di Bandung, 4 Juli 1967. Karya-karyanya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media cetak nasional. Puisinya terbit dalam antologi Bali The After Morning (2001) dan esainya dimuat dalam buku Post Modern dan Masa Depan Peradaban (1994). Ia menulis buku Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Jakarta, Kepak Books, 2005). Kini, ia menetap di Bali.










