Januari
kayu-kayu bakar, telah
raib didahar api
di tungku
perapian nenek
saat menanak nasi
di bawah atap
dapur tua
pagi hari
kayu menjelma arang hitam
temaram. bagai jelajah
tapak kaki tahun
menyulam waktu
telah berlalu
kini, di balik bilik rindu
ada lindu terkutuk
di dahan batin.
akan kulupakan
nyanyian asmara
tahun lalu. demi menjenguk
tamu dewata. malam
purna Januari
Kedai Kang Malik, Lombok 2025
Lampu Merah
aku mengira ada firdaus
di simpang jalan berbatu
nyatanya, yang ada hanyalah
sepasang mata kaki kering
yang menapaki jalan
peruntungan di bawah
tiang-tiang baja lampu merah
simpang jalan Manggalewa
anak mungil itu tampak segan
memandang langit;
wajahnya kering
bagai sahara tandus
yang jarang disapa gerimis
di pangkuannya
sebakul rujak gula aren
lelah letih menganggur menunggu;
apatah pula si dermawan
kenapa jua tak kunjung datang
mencicipi gula aren
walau sepucuk lidah
dengan suka-duka
supaya duka tak lagi
abadi untuknya
di saat sambekala mulai redup
dia ingin memeluk kasih ibu
walau badan bau basah
tapi ibu lebih dahulu
meregang nasib
di Malaka
dipeluk tanah
peristirahatan abadi
Pancor, Lombok Timur, 2024
Ziarah Kubur
bersama desir angin
nisan kutatap. catatan
bertajuk -nama ayah-
seraya memanggil,
kapankah dikau mudik
kembali membawa
seikat kasih?
kapan kita sudahi
percakapan bisu
di sisi kubur ini?
kenapa ayah tak lagi arif
seperti dahulu kala?
saat ayah sibuk
meraba kata
menitis serangkai prosa padat,
menghujam dalam-dalam
ke kawah batin
semasa gersang
di atas kepalamu,
aku menjumpai
ulah durhaka
di laut karam
saat di mana ayah
berhenti melempar jala;
jasadmu basah,
keringatmu tumbang,
menyumbang bau
amis lelautan
sedang aku
hanya
menatap
dari kejauhan,
dari tepi tanah rantau
yang beringas dan gelap
kamatianmu, Ayah
membikin lengang
seisi rumah
kau membingkis
segala berkat saat
kau pergi bersahaja
tanpa menitip
seberkas kata derita
yang dapat kutanam
di tanah basah kalis,
tempat pertapaan nun panjang
tak terhitung kala
di rumahmu ini.
Lombok Timur, 2025
Pesan dari Pendahulu
di sini, di tanah
bumantara yang agung
pesan ternukil dari
para leluhur:
“kami serahkan
tanah ini
untuk
kau tanami
benih-benih padi.”
tulang-tulang telah terkubur
hancur oleh air mata dan darah
dari lapisan kafan lusuh
mereka bertuah:
“kami serahkan tanah
yang luhur ini;
menggali
mata air
di sela-sela
akar pohon purbani
bukan menimba air mata
di tanah tandus,
gersang dan
lapar ini.”
sawit yang tertanam
selepas menebas
hutan-hutan nafas
hanyalah untuk
mengairi limpa
kawah bumi
manusia
bukan membakar
pundak-pundak miskin
yang menyemai
hidup di bawah
kayu ara
Pancor Bermi, Lombok Timur 2025
Membingkai Kata di Mpode
separuh waktu
roda berputar tulus
di antara dua sisi jalan
gubuk sunyi nan rindang
derai suara angin
melantunkan kejujuran
tidak seperti kota
berparas tampan, berhati kumuh
tapi, tidak dengan Mpode
yang rindang nan ramah
setelah suara mu’azzin
mengecup langit
berjejerlah mereka
bersama roh para leluhur
bertapa,
menenun doa,
menjahit asa
seusai sungai-sungai kecil mengering
pada daging-daging paras
berkumpullah mereka
di rumah pagar beratap
berlantai tanah
bersila tatap
dipersilakannya aku
memuja arwah para leluhur tua
supaya datang dan tak pergi
keberkatan. bagi tuan rumah
bagi seisi gubuk dan tanah
purba Mpode
di bawah lereng gunung
Ia senantiasa menitip pesan
pada awan bebukitan
pada gugusan batin
pintu-pintu pengampunan
semogalah tuhan
menyehatkannya dalam sentosa
dalam keabadian,
tak lelah jua memberi pesan
bagi siapa saja yang melintas
bagi ia yang pandai mengambil tuah
selamat jalan Mpode
gubuk yang tulus nan beradat
Mpode, Bima 2024
BIODATA
Khaerul Majdi lahir di Aikmel, Lombok Timur, 9 Agustus 2002. Kuliah di Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur. Aktif berhimpun di Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (HIMMAH NWDI). Selain itu, Ia juga aktif di perpustakaan mini Keluarga Nomaden sebagai ketua pustaka. Selain mencoba menulis puisi, juga gemar menulis cerpen. Cerpen terakhir yang dimuat; Guru Besar Mars dan Ajaran Sang Agung (Balipolitika: 2024).










