SULAMAN SAGA
mata tua yang renta
cemas mengemas hari
malam ini pun sama,
menatap pintu begitu dingin
tak ada yang pulang
tak ada yang pulang
di jelajah rimba perjalanan ini,
bulan jatuh menimpa kemalangan demi kemalangan
dan matahari tak mampu menyelamatkan
hanya ini, seikat kenangan
dari doa perempuan tua
yang menggigil menyebut nama suaminya
tak henti
o, begitu dekatkah kematian?
ambil nyawaku sekarang!
mata beradu mata, liar!
pertarungan purba dan sengit
kini harus kuhadapi dengan berani
kini harus kumenangkan
agar hari-hari basah dalam dongeng,
dapat kuberikan padamu
mereka yang sembunyi
mengirimkan mimpi buruk
dan rencana-rencana
melepas ular yang mendesis
di hati yang memerah saga
tahun-tahun renyap penuh congkak
ternyata masih di sini, tersudut, terdiam
mengutuk malam
o, jemari tua yang bergetar,
kau rajut benang panjang
menyulam ingatan,
kisah-kisah pilu
bergumam tentang matahari
yang telah lama mati
kita tentu tak saling menyahut lagi
di seberang sungai, suaramu tertelan kecipak ikan
dan mata lamurmu tentu sulit membedakan
mana aku dan mana masa lalu
saat itu, kau sulam bunga-bunga emas untukku
di selendang yang tak sempat lagi kusentuh
di kejahanaman malam yang tak terulang,
harusnya kupeluk kau lebih lama
lebih lama
TAHANAN
kita para tahanan terberangus sunyi
dalam rantai yang berdentangan
terselip puji-pujian sayup
dari terali tampak bulan begitu pucat
kita mengemis kasih awan dan burung malam
mengharap esok benar ada
dalam sekian pertikaian
kau pun akhirnya mengerti
dalam napasmu yang memburu
kau pun paham
kita memang kuda hitam
yang memanggul nasib
dalam belukar tak berkesudahan
PUSARAN
lalu ke mana kita menuju?
sekian persimpangan perpisahan
menjadikanku angkuh sendiri
mati dan hidup sendiri.
kita pun berakhir, menjadi bayang di cermin sendiri
memburu napas yang lepas, terputus. lalu apa
yang musti ditertawakan dan yang tersisa
untuk dibawa pulang?
segenggam pasir yang meluncur di sela jari
atau kenangan samar yang terpenjara
di lembar potret tua?
percakapan tak tuntas. kau tinggalkan
cangkir teh mengepul, kau hantam
pertanyaan walau sedepa tak pernah kutuju
jawaban.
jika esok memang seperti yang kau tawarkan,
bagaimana harus kubunuh masa lalu?
atas siapa aku, siapa langit dan siapa bumi.
ANAK YANG MEMELUK MATAHARI
Seorang anak meneropong bintang
menggali ibu dan perca masa lalu
Di tikungan dan trotoar,
wajahnya pilu menghitung lalu lalang
Menanti kepulangan demi kepulangan
menunggu pintu yang begitu dingin
diketuk
tak ada yang pulang
Di bawah bayang pohon Ketapang,
ia menggigil, meraba sepetak rindu ibu
memeluk doa-doanya yang wangi
Seorang ayah gelisah
mengunyah siang dan petang
bergetar ia tuntun anaknya
berbaris menadah hujan
Negeri yang begitu padi
terlukis di buku gambar anak-anak
yang warnanya merembes
terkena hujan semalaman
lalu mereka sibuk berlarian
menangkap bulan
Ayah, dari matanya yang terbata
teguh merajut tubuh
Menata jalan menuju awan
agar anak-anaknya kelak
bisa memeluk matahari
Negeri yang lahir dari perang
dan kobar api
Rumah-rumah puisi
Tanah renta
dalam doa yang begitu panjang
Para serdadu menahan desing peluru
agar tawa anak-anak
selalu bergema berpantulan
BIODATA
Moch Satrio Welang adalah aktor teater dan penyair yang lahir di Surabaya, 14 April 1982. Bergabung di Teater Orok Universitas Udayana (2003), Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo (2004). Mendirikan Teater Sastra Welang (2010). Menerima penghargaan Aktor Terbaik Gelar Teater La Jose 2010. Menggagas Sawma Awards berupa penghargaan seni teater monolog di Bali. Menggagas sayembara sastra Sawtaka Nayyotama Award dan anugerah buku puisi Siwa Nataraja Literary Award.













