JAKARTA, Balipolitika.com- Aksi lepas portofolio oleh pemodal internasional kembali menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan domestik secara signifikan. Arus modal keluar tersebut langsung memicu koreksi tajam bursa saham dalam negeri hingga rekor terendah mingguan. Data perdagangan Bursa Efek Indonesia mencatat nilai penjualan bersih asing menembus angka Rp515,34 miliar.
Tekanan jual investor asing saham paling kuat melanda instansi komoditas energi serta sektor infrastruktur pendukung bursa. Para manajer investasi global melepas kepemilikan aset mereka secara masif sepanjang jam perdagangan sesi pertama. Kondisi kurang menguntungkan ini otomatis menyeret jatuh performa indeks saham gabungan sebesar 2,76 persen.
Kejatuhan mendalam ini menempatkan pasar modal Indonesia sebagai zona investasi berkinerja paling buruk di Asia Pasifik. Pelaku pasar keuangan internasional cenderung memindahkan aset likuid mereka menuju instrumen investasi yang jauh lebih aman. Fenomena tersebut mencerminkan tingginya tingkat kecemasan investor terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi makro di kawasan berkembang.
Meski demikian beberapa emiten berbasis sumber daya alam justru berhasil membukukan nilai pembelian bersih cukup tinggi. Investor menyasar emiten pertambangan terafiliasi konglomerasi besar seperti korporasi Bumi Resources dan Bakrie Brothers. Saham Bumi Resources Minerals juga masuk dalam incaran utama perburuan aset murah oleh pelaku pasar modal.
Kelompok pemodal lokal turut mengoleksi saham teknologi GoTo Gojek Tokopedia demi mengimbangi tekanan jual yang masif. Volume transaksi pembelian bersih saham teknologi ini tercatat menembus angka enam puluh dua juta lembar. Selain itu emiten properti Sentul City ikut meramaikan daftar perburuan aset potensial pada akhir sesi perdagangan.
Sebaliknya arus pelepasan aset paling parah justru menimpa saham Dian Swastatika Sentosa dengan volume penjualan fantastis. Korporasi properti DMS Propertindo bersama Astrindo Nusantara Infrastruktur juga mengalami nasib serupa akibat gelombang likuidasi global. Tekanan berkelanjutan ini memaksa otoritas bursa memperketat pengawasan pergerakan harga saham sensitif demi menjaga stabilitas pasar. (BP/CHA).













