GIANYAR, Balipolitika.com– Pasca heboh menantang pihak-pihak yang keberatan dengan Pemadegan Bendesa Adat Selat, sosok Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet alias Ida Dewa Gede Ngurah Swasta kembali mencuri perhatian.
Yang terbaru terkait bocornya foto “Ratu Sukahet” pada prosesi Piodalan lan Mupuk Pedagingan di Padmasana Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Jalan Cok Agung Tresna No.67, Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali baru-baru ini.
Merespons hal tersebut, kritik tajam disampaikan Bendesa Adat Batuyang, Made Sukarta.
Posisi duduk Ketua MDA Bali yang duduk bersisian dengan seorang “sulinggih” (pendeta Hindu) dalam posisi “ngangge busana lengkap” dan “ngangge kedu”, saat prosesi “muput” itu dinilai bukan hanya melenceng dari tata titi adat Bali, melainkan juga salah satu bentuk pelecehan halus terhadap kehormatan adat Bali itu sendiri.
“Sepengetahuan titiang, tidak pernah ada Walaka (orang awam, nonpendeta, red) yang duduk sejajar dengan Ida Sulinggih ketika Ida sedang muput. Kalau Ida Sulinggih paruman, kumpul di balai gedong, di bale banjar, itu wajar. Tapi ini sedang muput, prosesi sakral, kok bisa duduk samping sulinggih? Ini namanya Ketua MDA Bali tidak paham tata titi agama Hindu,” ungkap Made Sukarta, Senin, 28 Juli 2025.
Made Sukarta juga menilai sikap Ketua MDA Bali sama saja dengan menginjak nilai-nilai yang seharusnya ia jaga dalam posisi sebagai Bendesa Agung.
“Katanya mau mengajegkan Bali? Tapi kalau tata titi dan etika dasar begini saja tidak tahu, mau mengajegkan Bali yang mana? Malah ikut melecehkan Bali, agama Hindu, dan kehormatan Ida Sulinggih,” sentil Made Sukarta.
Lebih lanjut, Made Sukarta juga menyoroti bagaimana masyarakat adat Bali seolah dipaksa menonton tingkah polah Ketua MDA Bali yang semakin jauh dari pakem yang diwariskan leluhur.
“Saudara Ketua MDA Bali umurnya sudah di atas 65 tahun, harusnya paham betul tata titi melinggih. Ini sedang muput, loh, sakral! Bukan paruman biasa. Kecuali paruman sulinggih dengan gubernur atau pejabat setingkat, baru wajar duduk sejajar. Kalau ini dibiarkan, benar-benar memalukan Bali punya pemimpin adat seperti ini,” tegas Made Sukarta.
Made Sukarta pun menegaskan bahwa tata titi, tata krama, dan sopan santun adalah napas kehidupan orang Bali.
Jika itu diacak-acak, lebih-lebih justru oleh orang yang mengklaim diri sebagai penjaga adat, maka tak heran jika masyarakat kini semakin gerah dan kehilangan kepercayaan.
“Kalau begini, biar masyarakat menilai. Sudah jelas tingkah laku Ketua MDA Bali ini tidak mencerminkan tata titi tata krama orang Bali. Jangan cuma teriak mengajegkan Bali di spanduk dan baliho, tapi tingkahnya malah menjatuhkan marwah agama Hindu sendiri,” kata Made Sukarta.
Made Sukarta berharap pemerintah daerah dan DPRD Bali untuk segera turun tangan, memanggil Ketua MDA Bali dan meminta pertanggungjawaban yang bersangkutan di depan publik.
“Kami harap DPRD Bali jangan tutup mata. Ini ranah sakral, bukan sekadar isu internal. Kalau Ketua MDA Bali tidak bisa menjaga tata titi, sebaiknya mundur saja. Bali ini tidak butuh simbol adat yang cuma retorika, tetapi tidak paham etika,” tutup Made Sukarta.
Dikonfirmasi terpisah soal foto viral tersebut Senin, 28 Juli 2025, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet alias Ida Dewa Gede Ngurah Swasta hingga kini belum menjawab konfirmasi Redaksi Balipolitika.com. (bp/tim)













