JAKARTA, Balipolitika.com- Bank Indonesia secara resmi meluncurkan layanan konektivitas pembayaran berbasis kode QR lintas negara dengan Republik Rakyat China. Inovasi finansial ini memungkinkan warga dari kedua negara melakukan transaksi ritel hanya dengan memindai kode digital pada ponsel. Langkah strategis tersebut menjadi tonggak sejarah baru dalam memperkuat integrasi keuangan bilateral serta mendukung pemulihan sektor pariwisata regional.
“Terima kasih atas kerja keras seluruh pihak karena kini sistem kode QR Indonesia dan China sudah saling terhubung sepenuhnya,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan resmi di Gedung Bank Indonesia.
Implementasi teknologi ini memanfaatkan mekanisme penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal tanpa melibatkan mata uang pihak ketiga. Penggunaan skema tersebut bertujuan untuk memangkas ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam setiap aktivitas perdagangan internasional. Pengguna aplikasi perbankan nasional kini bisa langsung berbelanja di berbagai gerai di China tanpa perlu menukar uang tunai.
“Masyarakat tidak perlu lagi membawa uang tunai karena cukup menggunakan ponsel untuk membeli segala kebutuhan di luar negeri,” kata Perry Warjiyo dengan nada penuh optimisme di hadapan para undangan.
Integrasi sistem pembayaran ini juga mencakup layanan bagi wisatawan asal China yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata Indonesia. Para pelancong cukup memindai kode QRIS pada setiap gerai usaha mikro menggunakan aplikasi Alipay atau UnionPay mereka. Transformasi digital ini diharapkan mampu menekan biaya konversi valas yang selama ini membebani para pelaku perjalanan bisnis.
“Sistem ini membuat pembayaran lintas perbatasan menjadi jauh lebih lancar dan sederhana bagi para pelancong maupun pelaku usaha,” tutur Wakil Manajer Umum UnionPay International Asia Tenggara Xie Dai melalui keterangan resminya.
Data otoritas moneter menunjukkan pertumbuhan transaksi digital nasional mencapai angka 14,39 miliar kali pada kuartal pertama tahun ini. Lonjakan penggunaan QRIS yang mencapai 119 persen memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama ekonomi digital di Asia. Bank Indonesia terus berkomitmen memperluas jaringan kerja sama serupa ke berbagai negara lain untuk menjaga kedaulatan rupiah.
“Penggunaan mekanisme kuotasi langsung antara rupiah dan yuan akan meningkatkan efisiensi serta menurunkan biaya transaksi bagi konsumen,” ungkap Assistant Country Manager Bank of China Jakarta Liu Yue secara lugas.
Pemerintah China menyambut baik langkah progresif ini sebagai bentuk adaptasi terhadap arus digitalisasi keuangan global yang semakin masif. Kerja sama ini tidak hanya sebatas inovasi teknis melainkan juga mencakup visi strategis kedaulatan digital antar bangsa. Sinergi lembaga perbankan dari kedua negara akan terus berkembang guna memastikan keamanan serta kenyamanan setiap pengguna layanan.
“Kita perlu beradaptasi dengan inovasi serta kecerdasan buatan dalam menghadapi transisi sektor perbankan dunia yang sangat cepat,” tegas Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia Wang Lutong dalam acara peluncuran tersebut. (BP/CHA).













