DI sebuah desa yang terletak di kaki bukit Sumba, hidup seorang pemuda bernama Umbu Wulang. Desa itu, meskipun terbilang kecil, kaya akan keindahan alam yang menawan. Bukit-bukit hijau yang menjulang tinggi, sungai yang mengalir jernih, dan hutan yang lebat memberikan kehidupan yang melimpah bagi warganya. Bagi Umbu Wulang, alam bukan sekadar pemandangan indah, melainkan sahabat yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Sejak kecil, Umbu Wulang diajarkan oleh orang tuanya untuk selalu menghormati alam. Ayahnya, adalah seorang yang mencintai alam, sering mengatakan, “Tanah ini bukan milik kita, Nak, melainkan titipan dari nenek moyang kita. Kita hanya pemegang amanah yang harus merawatnya dengan bijak.” Begitu pula dengan ibunya, yang selalu menjaga keindahan halaman rumah mereka dan mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Namun, seiring berjalannya waktu, Umbu Wulang mulai melihat perubahan yang mengkhawatirkan di desanya. Di balik keindahan alam yang dulu tampak tak terjamah, mulai ada kerusakan yang perlahan terjadi. Sungai yang dulunya jernih kini mulai tercemar sampah. Hutan yang lebat mulai berkurang karena banyak pohon ditebang untuk membuka lahan pertanian baru. Tanah yang dulu subur kini mulai gersang.
Keresahan itu semakin terasa saat sebuah perusahaan besar datang ke desa mereka. Mereka menawarkan pembukaan lahan untuk perkebunan besar yang katanya akan memberi kemakmuran bagi warga desa. Tawaran itu sangat menggoda, mengingat banyak yang melihat keuntungan jangka pendek yang bisa diperoleh dari menjual tanah mereka. Namun, Umbu Wulang yang sejak awal sudah menyadari dampak buruk dari perubahan ini, merasa cemas.
Suatu sore, setelah mendengar kabar bahwa lebih banyak warga yang mulai menjual tanah mereka untuk proyek tersebut, Umbu Wulang duduk di bawah pohon beringin besar di pinggir desa, tempat yang biasa ia kunjungi untuk merenung. Di sana, ia merasakan bisikan angin yang lembut, seolah-olah alam itu berbicara padanya. Ia merasa bahwa ia harus berbuat sesuatu.
Keesokan harinya, Umbu Wulang mengumpulkan para tetua desa di balai pertemuan desa. Semua orang tampak khawatir dan bingung dengan pilihan yang harus mereka ambil. Perusahaan itu menawarkan harga yang sangat menggiurkan, namun ada rasa takut akan kerusakan yang mungkin ditimbulkan.
“Desa ini, tanah kita, dan alam ini telah memberi kita hidup selama bertahun-tahun. Tanpa mereka, kita tidak ada apa-apanya,” kata Umbu Wulang dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan. “Jika kita menjual tanah kita, kita tidak hanya menjual lahan, tetapi juga kehilangan bagian dari diri kita. Kita akan kehilangan tanah yang memberi kita makanan, hutan yang memberi kita udara segar, dan sungai yang memberi kita kehidupan.”
Tetua desa yang hadir mendengarkan dengan seksama. Umbu Wulang melanjutkan, “Kita tidak hanya bertanggung jawab untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Alam ini bukan hanya milik kita, tapi juga milik anak cucu kita. Jika kita merusaknya, mereka akan mewarisi kehancuran, bukan kekayaan.”
Para tetua dan warga desa yang hadir mulai merenung. Umbu Wulang tahu bahwa tidak semua orang akan setuju dengan pendapatnya, tetapi ia berharap mereka akan melihat kebenaran dalam kata-katanya. Keputusan besar ini akan menentukan masa depan mereka.
Beberapa hari kemudian, Umbu Wulang mengusulkan sebuah rencana kepada desa: mereka akan menjalankan pertanian berkelanjutan yang menghormati alam, menjaga hutan, dan mengelola sumber daya alam dengan bijak. Ia mengajak semua orang untuk menanam lebih banyak pohon, menjaga kebersihan sungai, dan memanfaatkan hasil bumi dengan cara yang tidak merusak ekosistem.
Umbu Wulang juga mengadakan pelatihan bagi pemuda desa untuk belajar tentang cara bertani yang ramah lingkungan, serta bagaimana mereka bisa mengelola tanah mereka dengan cara yang tidak hanya menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan untuk masa depan. Ia mengajarkan mereka untuk memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan, seperti sistem irigasi yang hemat air dan teknik pertanian organik.
Tantangan terbesar datang ketika beberapa warga yang lebih terpesona dengan tawaran perusahaan mulai meragukan usaha yang diusulkan Umbu Wulang. Mereka merasa bahwa pendekatan yang lebih modern dan instan akan lebih menguntungkan. Namun, Umbu Wulang tetap teguh pada pendiriannya. Ia tak berhenti berbicara dengan mereka, mengingatkan mereka akan betapa berharganya alam yang telah memberi mereka kehidupan.
“Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan masa depan kita,” kata Umbu Wulang. “Kita bisa memilih untuk mengejar keuntungan sesaat, atau kita bisa memilih untuk menjaga warisan kita, untuk menjaga alam yang memberi kita semuanya.”
Meskipun tak mudah, perlahan-lahan lebih banyak warga yang mulai mengikuti langkah Umbu Wulang. Mereka menanam pohon di sekitar desa, membersihkan sungai, dan menjaga tanah mereka dengan cara yang lebih alami. Proyek perusahaan akhirnya gagal karena banyak warga desa yang menolak untuk menjual tanah mereka. Mereka memilih untuk menjaga desa mereka tetap asri dan subur.
Beberapa tahun kemudian, desa mereka menjadi contoh bagi desa-desa lain tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan dan alam. Sungai yang dulunya tercemar kini kembali jernih, hutan yang pernah gundul mulai tumbuh kembali, dan tanah mereka kembali subur. Alam memberikan hasil yang berkelanjutan, dan kehidupan di desa mereka pun semakin baik.
Umbu Wulang tidak pernah mencari pujian atau pengakuan. Bagi dirinya, perubahan itu sudah cukup. Ia tahu bahwa perjuangannya untuk melindungi alam dan lingkungan hidup bukanlah perjuangan yang bisa dilihat dalam sekejap, tetapi dampaknya akan terasa untuk generasi yang akan datang.
Saat ia duduk di bawah pohon beringin yang sama, Umbu Wulang merasa damai. Ia tahu bahwa meskipun langkahnya kecil, ia telah melakukan sesuatu yang besar melestarikan warisan alam, menjaga tanah, dan mewariskan sebuah dunia yang lebih baik kepada anak cucu.
Umbu Wulang adalah contoh hidup bahwa meskipun kita hanya satu orang, dengan tekad dan cinta pada alam, kita bisa membuat perubahan besar bagi lingkungan hidup dan masa depan yang lebih baik.
BIODATA
Ia bernama lengkap Rambu Raina Wangi Pawulung Wulang Paranggi, lahir di Lewa, Sumba Timur, NTT, 19 Juli 2002 dari pasangan Umbu Domu Wulang Maramba Andang dan Ermilda Ester Peda. Setelah menamatkan sekolah di Kananggar, Sumba Timur, ia melanjutkan kuliah “Sistem Informasi” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Ia menggemari puisi sejak tahun 2017 dan baru belajar menulis puisi secara otodidak sejak tahun 2021.













