JEMBRANA, Balipolitika.com- Gelombang kendaraan angkutan logistik mulai memadati jalur nasional menuju Pelabuhan Gilimanuk menjelang puncak mudik Lebaran 2026. Ribuan truk berbagai ukuran terjebak dalam antrean panjang yang melelahkan di wilayah Kecamatan Melaya sejak Jumat pagi. Kemacetan parah ini mengular hingga kawasan hutan Cekik yang berada di area Taman Nasional Bali Barat.
“Antrean kendaraan sudah mulai terjadi sejak Kamis malam karena adanya peningkatan volume angkutan logistik yang hendak keluar dari Pulau Bali,” kata Kanit Lantas Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, AKP Kukuh Emanuel, Jumat, 13 Maret 2026.
Para sopir truk angkutan barang harus bersabar menghadapi kemacetan yang melumpuhkan pergerakan kendaraan selama berjam-jam. Kendaraan jenis tronton dan truk besar mendominasi badan jalan sehingga menutup akses utama menuju dermaga penyeberangan. Kondisi cuaca yang panas di wilayah Jembrana semakin menambah beban para pengemudi yang mengejar jadwal pengiriman barang.
“Saya sudah terjebak macet total sejak pukul setengah enam pagi tadi dan baru sampai depan Masjid Al-Mubarok saat jam sepuluh,” ujar Aris, seorang sopir truk pengangkut ternak tujuan Jakarta.
Pihak kepolisian melaporkan bahwa ekor antrean kendaraan saat ini telah mencapai jarak empat kilometer dari gerbang pelabuhan. Petugas di lapangan terus berupaya mengatur lalu lintas agar kendaraan kecil dan sepeda motor tetap bisa melintas. Fenomena lonjakan angkutan logistik ini rutin terjadi sebelum pembatasan operasional truk berlaku saat masa puncak mudik.
“Kami baru menggunakan satu jalur pemukiman saja karena kendaraan kecil dan sepeda motor terpantau masih bisa melintas dengan cukup lancar,” ucap AKP Kukuh Emanuel menjelaskan situasi terkini.
Otoritas pelabuhan segera menerapkan pola operasi padat guna mempercepat proses bongkar muat kapal di dermaga Ketapang dan Gilimanuk. Sebanyak 30 armada kapal motor penumpang beroperasi secara maksimal untuk mengurai penumpukan kendaraan di kantong parkir. Langkah darurat ini bertujuan agar distribusi bahan pokok ke Pulau Jawa tidak terhambat oleh kemacetan panjang.
“Pihak pengelola pelabuhan kini sudah menerapkan pola operasi padat dengan mengoperasikan tiga puluh armada kapal untuk mengurai kepadatan volume kendaraan,” pungkas AKP Kukuh Emanuel kepada awak media.
Sejumlah pengemudi truk kecil juga mengeluhkan lambatnya pergerakan arus lalu lintas yang hanya bergeser beberapa meter setiap jam. Mereka berharap petugas keamanan dapat memberikan prioritas bagi kendaraan yang membawa muatan bahan pangan yang mudah busuk. Ketidakpastian waktu penyeberangan menjadi kendala utama bagi para pelaku usaha logistik dalam memenuhi target waktu distribusi.
“Dua jam lebih saya terjebak macet di tengah hutan Cekik dan kendaraan hanya bisa berjalan selangkah demi selangkah saja,” keluh Wahyu, pengemudi truk logistik ringan.
Pemerintah daerah mengimbau para pengguna jalan untuk tetap waspada dan menjaga kondisi fisik selama mengantre di jalur menuju pelabuhan. Fasilitas posko kesehatan dan tempat istirahat sementara telah tersedia di beberapa titik strategis sepanjang jalur hutan Cekik. Pengamanan ketat akan terus berlangsung hingga seluruh rangkaian arus mudik dan balik Lebaran tahun ini dinyatakan selesai. (BP/CHA).












