BADUNG, Balipolitika.com- Kabar gembira bagi para pencinta layangan atau rare angon di Pulau Dewata, khususnya Kabupaten Badung dan sekitarnya.
Salah satu event budaya lokal yang dinantikan, Sabdha KITE Festival, dipastikan akan kembali mengudara di Desa Pecatu pada Minggu, 2 Agustus 2026 mendatang.
Festival layangan tahunan yang rutin diadakan oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) Bakti Dharma, Banjar Kangin, Pecatu ini kini resmi memasuki gelaran yang ke-6.
Guna mengetahui sejauh mana kesiapan jelang acara, Ketua Panitia Sabdha KITE Festival, I Kadek Adi Widnyana membagikan perkembangan terbaru mengenai rencana kompetisi tersebut saat ditemui di kediamannya baru-baru ini.
Adi menceritakan latar belakang dibentuknya festival layangan ini di wilayah Desa Pecatu oleh STT Bakti Dharma.
Ia menjelaskan bahwa ide kompetisi ini sebenarnya lahir dari kedekatan para pemuda setempat dengan tradisi melayangan.
Menurut Adi, acara ini berawal dari banyaknya pemuda di lingkungan sekitar yang memang gemar melayangan.
Dari sana, muncul ide dan inisiatif bersama dari para anggota sekaa teruna untuk mewadahi hobi tersebut ke dalam sebuah bentuk perlombaan yang lebih terarah.
Mengingat jadwal pelaksanaan yang jatuh pada awal Agustus 2026 nanti, pihak panitia terus bergerak untuk mematangkan segala kebutuhan di lapangan agar acara dapat berjalan dengan lancar.
Adi menjelaskan bahwa hingga saat ini, persiapan yang dilakukan oleh rekan-rekan panitia sudah berjalan dengan baik.
Pihak panitia telah merampungkan penyusunan proposal, mengurus surat izin peminjaman tempat, serta menyebarkan surat undangan.
Di samping urusan administrasi, panitia juga sudah mematangkan konsep, tema acaraan, hingga penentuan lokasi utama.
Untuk memeriahkan festival ke-6 ini, kompetisi dirancang untuk mewadahi berbagai kreativitas para pelayang lokal dari berbagai kelompok usia.
Panitia membuka pendaftaran untuk beberapa kategori layangan tradisional maupun kreasi yang cukup populer di Bali.
Mengenai hal tersebut, Adi memaparkan bahwa ada 7 jenis atau kategori layangan yang bisa ikut mendaftar.
Kategori tersebut meliputi layangan dewasa, layangan remaja, layangan big plastik, layangan plastik, cotekan blolong, cotekan kain dewasa, hingga kategori layangan baru yaitu layangan mini.
Selain kesiapan teknis lomba, pihak panitia juga telah mengunci lokasi yang akan dijadikan arena utama tempat mengudaranya layangan para peserta.
Lapangan di kawasan Desa Pecatu dipilih karena dinilai memenuhi syarat untuk festival skala ini.
Ia membeberkan bahwa festival layangan ini nantinya akan diadakan di Lapangan PT Indowisata Makmur.
Alasan pemilihan lokasi tersebut karena tempatnya yang strategis, memiliki area yang luas, serta akses menuju lapangan yang mudah lantaran posisinya berada dekat dengan jalan besar.
Ketika disinggung mengenai tantangan berkurangnya lahan kosong di masa-masa mendatang dikaitkan dengan hobi melayangan dan kegiatan Sabdha KITE Festival, Adi memberikan pandangan yang sangat logis terkait kondisi geografis dan regulasi yang berlaku di Pulau Dewata.
“Tantangan lahan memang ada, tapi astungkara di Pecatu kita sangat terbantu karena adanya aturan Bali yang melarang bangunan berdiri melebihi tinggi pohon kelapa atau maksimal 15 meter. Jadi dari segi ruang udara dan angin, langit Pecatu sebenarnya akan tetap aman dari kepungan gedung pencakar langit,” jelas Adi.
Ia menambahkan kunci utama agar festival ini tetap eksis dalam jangka panjang adalah konsistensi dari generasi muda dan sinergi dengan pemilik lahan.
“Untuk 10 tahun ke depan, pemuda STT Bakti Dharma harus terus kompak menjaga hubungan baik dan kerja sama dengan para pemilik lahan luas, seperti pihak PT Indowisata Makmur saat ini, serta selalu mendapat dukungan dari pihak desa adat,” imbuhnya.
Melalui kerja keras seluruh panitia dan dukungan dari komunitas pelayang lokal, event ini diharapkan mampu menjadi wadah pelestarian budaya melayangan yang positif di Badung Selatan.
Menutup perbincangan, Adi selaku menyampaikan harapan terbesarnya untuk kesuksesan Sabdha KITE Festival 2026.
“Harapan kami tentu target peserta lomba bisa tercapai atau bahkan melonjak dari perkiraan. Saya juga berharap festival tahun ini bisa jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, apalagi sekarang ada tambahan kategori layangan baru. Semoga event ini benar-benar bisa menjadi wadah berkreasi untuk melestarikan budaya lokal yang sudah ada sejak dulu,” pungkasnya. (bp/Dwi Rossehana Paramitha/4A/Basindo/Undiksha)










