DENPASAR, Balipolitika.com– Tidak ada lagi kubu-kubuan alias dualisme di tubuh Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI).
Berakhirnya dualisme ini disepakati dalam Musyawarah Nasional HKTI ke-10 seiring terpilihnya Dr. Sudaryono, B.Eng., M.M., M.BA. sebagai Ketua Umum DPN HKTI periode 2025–2030.
Semangat “Satu Komando” ini digelorakan sosok yang juga mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia sampai ke Pulau Dewata.
Made Muliawan Arya, S.E., M.H. alias De Gadjah didaulat sebagai karateker “penyatuan” dua kubu Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali yang masing-masing dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA. dan I Made Edi Wirawan.
Gayung bersambut, De Gadjah yang saat ini menerima mandat membentuk kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI tingkat kabupaten/kota se-Bali digadang-gadang menjadi Ketua DPD HKTI Provinsi Bali.
Dukungan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Calon Pengurus DPC HKTI Kabupaten/Kota se-Bali yang digelar di Yayasan De Gadjah Bali, Renon, Denpasar, Rabu, 10 Juni 2026.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kepengurusan DPC HKTI di seluruh kabupaten/kota di Bali sebelum dilaksanakannya Musyawarah Provinsi (Musprov) untuk memilih Ketua DPD HKTI Bali.
Rapat dihadiri para calon Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPC HKTI Kabupaten/Kota se-Bali, serta sejumlah tokoh yang diproyeksikan menjadi penasihat organisasi, di antaranya Dr. dr. Ketut Putra Sedana, SpOG atau dokter Caput dan mantan Bupati Bangli, I Made Gianyar.
Sebagai Pemegang Mandat Karateker HKTI Bali, Made Muliawan Arya menegaskan pentingnya menyamakan visi dan tujuan organisasi sejak awal pembentukan kepengurusan.
“Pertemuan pertama kita ini adalah untuk menyamakan persepsi. Kita brainstorming dulu bahwa tujuan HKTI itu apa,” ujarnya.
Menurut De Gadjah, proses administrasi pembentukan kepengurusan DPC HKTI di seluruh Bali saat ini telah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu pengukuhan resmi.
“Nama-nama mereka sudah masuk, secara de jure mereka di-SK-kan, lalu langsung dikukuhkan secara seremonial. Nah, setelah dikukuhkan langsunglah Musprov untuk memilih Ketua HKTI Bali,” kata De Gadjah usai rapat.
Dalam rapat tersebut juga disepakati bahwa agenda pertemuan DPC HKTI se-Bali akan dipusatkan di Kabupaten Tabanan.
Kegiatan itu rencananya akan menghadirkan Ketua Umum DPN HKTI sekaligus Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono.
Kegiatan tersebut diproyeksikan melibatkan 3.000 hingga 5.000 peserta dan dirangkaikan dengan berbagai kegiatan yang berkaitan langsung dengan sektor pertanian dan kelautan, seperti panen raya, penyaluran bibit, hingga bantuan untuk nelayan.
De Gadjah menegaskan HKTI Bali harus menjadi organisasi yang hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya petani, peternak, dan nelayan.
“Kita bukan hanya berada di ruangan atau di kantor, tetapi kita akan selalu berada di sawah dan kebun bersama petani. Bukan sekadar nongkrong, tapi bekerja,” tandasnya.
Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Bali yang tidak hanya dilihat dari ramainya pariwisata tetapi juga bisa dari para petani tersenyum karena hasilnya banyak dan harganya bagus.
Bagaimana peternak tersenyum karena ternaknya lancar dan hasilnya baik, serta nelayan juga merasa diperhatikan.
“Itu yang kita harapkan sebagai capaian,” katanya.
Ketua DPD Partai Gerindra Bali itu juga akan merangkul mantan pengurus HKTI Fadli Zon dan HKTI Moeldoko serta para rekan yang berkenan dan bersedia juga ‘ngayah’ untuk petani, nelayan dan peternak di Bali.
“Karena HKTI sekarang hanya 1 HKTI yaitu HKTI Sudaryono atau Mas Dar dan Pembinanya Presiden Prabowo Subianto,” tegasnya.
Dalam sesi penyampaian aspirasi, para calon ketua DPC HKTI dari seluruh kabupaten/kota memaparkan berbagai potensi dan tantangan sektor pertanian di daerah masing-masing.
Mereka juga menyatakan dukungan agar De Gadjah memimpin HKTI Bali pada periode mendatang.
Dukungan tersebut salah satunya datang dari dokter Caput yang menilai HKTI dapat menjadi wadah untuk menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani.
“Karena kita ketahui sampai saat ini hampir-hampir mirip masalah besar ada di petani, sehingga kehadiran dari HKTI ini adalah solusi dari masalah yang ada di petani ini,” ungkapnya.
Ia mendukung figur De Gadjah sebagai calon pemimpin HKTI Bali karena dinilai sebagai sosok yang mampu memfasilitasi dan juga mencari solusi masalah-masalah pertanian yang ada di Bali.
“Ini jelas, ya kita tahu bagaimana karakter beliau,” sebutnya.
Sementara itu, di tingkat pusat, Munas HKTI ke-10 secara resmi mengakhiri dualisme kepengurusan yang sebelumnya sempat melanda organisasi petani tersebut.
Sudaryono menegaskan bahwa HKTI harus tegak lurus mendukung visi pemerintah dalam mempercepat swasembada pangan serta memastikan tata kelola dan distribusi pupuk tepat sasaran bagi petani.
Melalui perannya ganda di kementerian dan organisasi, ia secara konsisten memperjuangkan kesejahteraan petani, termasuk mendukung arahan untuk menyetop impor beras di masa panen demi melindungi hasil produksi dalam negeri. (bp/ken)













