BISNIS, Balipolitika.com – Emas terus melambung tinggi, dan perkiraan akan kembali melambung pada 2026. Hal ini menjadi indikasi, bahwa akan terjadi krisis moneter.
Sebab banyak yang memilih emas untuk mengamankan uangnya, sehingga hal ini yang mendorong harga emas melambung naik terus. Bahkan dalam beberapa tahun saja, emas melambung cukup tinggi harganya.
Emas akan terus melambung pada tahun 2026, dengan beberapa analis memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5.000 per troy ons.
Faktor-faktor yang mendukung kenaikan harga emas termasuk risiko ekonomi global, pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia, dan inflasi.
Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas:
– Risiko Ekonomi Global: Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global membuat emas menjadi aset yang aman.
– Pembelian Bank Sentral: Bank sentral dunia terus membeli emas untuk meningkatkan cadangan mereka.
– Inflasi: Inflasi global yang belum sepenuhnya reda juga mendukung kenaikan harga emas.
Prediksi Harga Emas 2026:
– HSBC: US$ 5.000 per troy ons
– Goldman Sachs: US$ 3.000 per troy ons pada kuartal kedua 2026
– CoinCodex: US$ 6,837.40 pada kuartal keempat 2026
Namun, prediksi harga emas dapat berubah-ubah dan tidak ada jaminan bahwa harga emas akan mencapai level yang sesuai prediksi.
Krisis 2030
Tahun 2030 prediksi akan menjadi periode krisis moneter global karena beberapa faktor, antara lain:
Utang global telah mencapai lebih dari $300 triliun, dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat terus menaikkan pagu utangnya. Ini seperti bom waktu yang siap meledak.
Ketimpangan Ekonomi Digital: Revolusi digital menciptakan miliarder baru, tapi juga memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin.
Ketergantungan Terhadap AI dan Otomatisasi: Perusahaan-perusahaan besar kini mengganti manusia dengan AI, meningkatkan efisiensi tapi menurunkan daya beli masyarakat.
Perubahan Iklim dan Biaya Sosialnya: Bencana alam yang meningkat akibat perubahan iklim memicu biaya asuransi yang melonjak, gagal panen, kelangkaan air, dan migrasi massal.
Kerapuhan Sistem Perbankan & Investasi Spekulatif: Banyak bank dan perusahaan fintech menjalankan sistem yang sangat rentan terhadap fluktuasi.
Dampaknya bisa berupa:
– Hilangnya Pekerjaan: Disrupsi dan PHK massal di berbagai sektor.
– Inflasi: Harga pangan dan komoditas melonjak.
– Nilai Tukar dan Suku Bunga: Melejit di negara berkembang, menguras tabungan rakyat kecil.
Para ekonom dan tokoh dunia seperti Ray Dalio dan Robert Kiyosaki memperingatkan tentang potensi krisis ini, tapi juga melihat peluang bagi mereka yang siap beradaptasi. (BP/OKA)













