MEMARGI: Pelaksanaan Puncak Karya Agung Pura Penataran Agung Pucak Mangu, oleh Ida Ratu Cokorda Mengwi XII, purnama sasih kelima, Buda Umanis, Wuku Julungwangi, Rabu, 5 November 2025. (Sumber: Gung Kris)
BADUNG, Balipolitika.com – Turunnya hujan menjadi sebuah pertanda yang memaknai kesakralan prosesi Karya Puncak Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, Mapadanan Medasar Tawur Balik Sumpah Utama yang digelar di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, pada purnama sasih kelima, Buda Umanis, Wuku Julungwangi, Rabu, 5 November 2025.
Manggala Karya, sekaligus Pangempon Pura Pucak Mangu, Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII saat ditemui wartawan Bali Politika disela-sela upakarya menjelaskan, Karya Puncak Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, Mapadanan Medasar Tawur Balik Sumpah Utama bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan alam semesta beserta isinya dari segala pengaruh negatif, serta memohon kerahayuan dan kesejahteraan bagi seluruh krama (masyarakat) Bali.
“Prosesi ini juga merupakan bagian dari Karya Padudusan Agung Pura Penataran Agung Pucak Mangu. Selain bertujuan untuk menyucikan alam semesta beserta isinya, ritual ini juga bertujuan untuk mempererat rasa syukur dan bakti kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Ida Cokorda, dikutip Bali Politika pada Kamis, 6 November 2025.
Lebih lanjut Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII menambahkan, secara khusus, upakarya digelar bertujuan untuk mencapai keseimbangan dan keselamatan bagi masyarakat dan alam semesta, mencegah kejadian yang tidak diinginkan seperti salah pati atau ulah pati. Selain itu, upakarya ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diterima dan untuk membangun kesadaran kolektif akan kewajiban spiritual.
“Intinya kesetaraan jagat. Menjaga keharmonisan Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam,” imbuhnya.
Rentetan upakarya Pura Penataran Agung Pucak Mangu diawali Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara (Pantai) Kramat Seseh, pada Kamis, 30 Oktober 2025. Dilanjutkan dengan prosesi Danu Kertih, yang berlangsung pada Sabtu, 1 November 2025. Kemudian dilanjutkan prosesi Wana Kertih pada Selasa, 4 November 2025.
Prosesi ini tak luput dari keterlibatan Asta Puri Ageng Mengwi dan para Yowana, juga dihadiri Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Badung, I Gusti Anom Gumanti, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, serta para pejabat daerah di wilayah setempat.
Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII berharap, dengan digelarnya Karya Puncak Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, Mapadanan Medasar Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, dapat menjadi momentum refleksi bagi masayarakat Bali agar kembali menyatu dengan alam.
“Berbagai peristiwa bencana alam baru-baru ini adalah alarm (tanda) agar manusia kembali mengimplementasikan nilai-nilai luruh Tri Hita Karana. Semoga upakarya ini mampu menjadi momentum refleksi bagi masayarakat Bali khsususnya di di wawidangan Badung,” tutupnya. (bp/gk)













