MALAM itu hujan turun seperti seseorang yang berlari sangat kencang dan dia lupa cara berhenti. Begitu deras, sesekali terdengar gemuruh petir dan sambaran kilat yang menyayat. Hujan seperti ditumpahkan dari langit, seakan-akan seseorang di atas sana membalikkan lautan awan dan membiarkan airnya jatuh tanpa sisa ke bumi. Aku dan Arya duduk berhadapan di sebuah ruang kecil. Lampu redup. Jendela setengah terbuka. Udara begitu sejuk dan dingin bersamaan. Entah bagaimana aku menggambarkan suasana itu. Terlebih tercium aroma tanah basah diselingi aroma bunga kemboja yang menusuk hidung kami. Suasana malam itu terasa begitu jujur bagi aku dan Arya untuk memulai percakapan. Percakapan antarsahabat yang begitu dekat, jujur, dan peka.
Arya menatap cermin di dinding cukup lama sebelum mulai bercerita. “Aku pernah tersesat,” katanya pelan. “Saat mendaki gunung?” aku bertanya. Arya menggeleng. Aku melihat raut mukanya yang sedikit tegang, sejurus kemudian dia berkata sangat pelan, “Tidak. Aku tersesat di dalam diriku sendiri.”
Aku tersenyum dan melihat wajah sahabatku ini, “Maksudmu?” tanyaku memburu dengan keingintahuan yang tinggi. “Ya, aku tersesat di dalam diriku sendiri.” ujar Arya dengan tegas. Aku tidak melihat tanda-tanda kebohongan dalam dirinya, bahkan matanya tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda. Dia serius dengan perkataannya. Seketika, aku menjadi sangat serius dan bersiap mendengarkan ceritanya.
***
“Sore itu,” Arya memulai ceritanya dengan wajah yang tampak lebih serius dari sebelumnya. Awalnya aku hanya menatap cermin. Ya, cermin yang ada di ruangan ini. Ruangan yang sedang kita tempati. Ya, cermin itu. Arya menunjuk ke cermin yang tepat berada di belakangku. Arya melanjutkan ceritanya, aku tidak melakukan apa-apa. Tidak melakukan apa pun. Hanya menatap wajahku, dalam-dalam. Lama dan semakin dalam. Seketika, aku merasa asing dengan wajahku di dalam cermin itu. Wajah dalam cermin itu sering kali berubah, kadang berubah menjadi wajahku, wajahmu, atau bahkan berubah menjadi wajah seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Aku tidak memahami itu, tetapi aku penasaran dengan cermin itu. Semakin lama dan semakin dalam aku menatap cermin itu aku melihat sesuatu, seperti cahaya kecil yang perlahan membesar sehingga menyilaukan mataku. Cahaya itu semakin dekat dan semakin dekat. Dan, sebelum aku sempat berpikir apa-apa, aku sudah berada di tempat yang lain. Ya, tempat itu seperti sebuah lorong panjang, teramat panjang seakan tidak berujung.
Lorong itu sangat panjang, sunyi, sepi, dan hening. Tidak ujung yang tampak. Tidak ada langit-langit yang benar-benar jelas. Dan, dinding-dinding lorong pun tidak begitu tampak, lindap, samar, senyap, dan lengang. Seakan-akan lorong itu dibuat bukan oleh tangan manusia, melainkan oleh waktu yang menumpuk dan terus menumpuk sehingga berlapis-lapis seperti halaman buku yang saling menempel. Setiap lapisan memancarkan warna yang samar, seperti cahaya yang datang dari ingatan yang sudah lama tertimbun. Kadang kekuningan seperti foto lama yang disimpan di dasar laci, kadang kebiruan seperti kenangan yang perlahan memudar di ujung pikiran.
Udara di lorong itu berbau aneh. Ada bau tanah, bau hujan, bau dapur tua, juga bau kertas yang sudah terlalu lama disimpan. Seolah-olah seluruh masa lalu pernah lewat di lorong itu dan meninggalkan napasnya yang belum sempat hilang. Setiap langkahku di lorong itu menimbulkan gema yang tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa di dalam dada, seperti seseorang sedang mengetuk bagian terdalam dari dirinya. Dan setiap gema terasa seperti ingatan yang lama terkubur, perlahan bangkit dari tanah sunyi di dalam diriku.
Di sebelah kiri, tiba-tiba terbuka sebuah ruangan kecil. Ruangan itu hanya diterangi cahaya redup seperti senja yang tidak pernah selesai. Di sana aku melihat ada seorang anak laki-laki sedang duduk di lantai, memegang mangga muda yang baru saja dipetik. Sebuah piring kecil berisi garam diletakkan di sampingnya. Anak itu menggigit mangga itu keras-keras. Wajahnya meringis karena asam. Kemudian, ia tertawa. Aku memandangnya sambil tersenyum tipis. “Bukankah itu aku,” gumamku hampir tak terdengar. Anak itu menoleh. Matanya jernih seperti pagi yang belum sempat disentuh waktu. “Kenapa lama sekali, baru kembali?” tanyanya. Aku terdiam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada, seperti pintu lama yang tiba-tiba diketuk dari dalam. Aku ingin menjawab, tetapi kata-kata terasa seperti sesuatu yang terlalu berat untuk dibawa keluar dari tenggorokan, seolah setiap huruf dipenuhi oleh tahun-tahun yang sudah lewat.
Anak itu hanya memandangku, menunggu. Tatapannya membuatku merasa seperti seseorang yang pulang terlalu lama untuk kembali ke rumah yang pernah ia tinggalkan. Namun, sebelum aku benar-benar menemukan kata yang tepat, ruangan itu perlahan memudar, seperti gambar yang dilap dengan air. Warna-warnanya larut sedikit demi sedikit, seperti kenangan yang kehilangan bentuknya, seperti lukisan lama yang perlahan disapu hujan dari kanvas waktu. Yang tersisa hanya bau mangga muda yang samar di udara, seperti jejak kecil dari waktu yang pernah tinggal di dalam diriku, seperti napas masa kanak-kanak yang terlambat pulang ke ingatan.
Aku melanjutkan perjalanan. Lorong berikutnya lebih lebar. Lantainya seperti batu yang sudah dipijak ribuan kali oleh langkah-langkah yang tidak pernah tercatat. Di dinding kiri tampak bayangan bergerak-gerak seperti adegan film lama. Aku tiba-tiba mencium bau nasi hangat dan ikan goreng. Bau itu begitu akrab sehingga dadaku terasa penuh dan sesak. Aku menoleh. Sebuah dapur kecil muncul di samping lorong. Seorang perempuan tua sedang berdiri di depan kompor minyak tanah. “Itu Ibu.” kataku setengah berteriak. Api kecil menari-nari di bawah wajan yang berisi ikan yang sedang digoreng. Suara minyak yang mendesis terdengar seperti bisikan. Perempuan itu menoleh tanpa terkejut. “Kamu sudah makan?” tanya perempuan itu. Sebelum aku sempat menjawab, dapur itu perlahan memudar.
Bau ikan goreng masih tertinggal beberapa saat sebelum akhirnya hilang juga.
Semakin jauh aku berjalan, lorong semakin dalam. Di sebuah ruangan aku melihat seorang pemuda duduk di kursi kayu. Di tangannya ada sebuah buku yang dia buka halaman demi halamannya. “Siapa kamu?” tanyaku. Pemuda itu tersenyum pahit. “Aku adalah cita-citamu yang tidak pernah kamu kejar.” Aku melihat buku yang dipegang pemuda itu, halaman-halamannya kosong. “Aku dulu ingin menulis dunia,” katanya. “Tapi kamu terlalu sibuk menjadi seseorang yang diinginkan orang lain.” aku menunduk. “Kamu egois, Arya.” hardik pemuda itu. Ketika aku mengangkat kepala lagi, pemuda itu sudah hilang.
Aku makin bingung dengan apa yang aku lihat dan aku alami. Peluh semakin deras, aku juga merasa lelah dan kehausan. Tapi, aku masih harus tetap berjalan untuk menemukan jalan pulang. Lorong berikutnya lebih gelap. Udara terasa lebih dingin. Di ujung ruangan ia melihat seorang kakek tua duduk di atas kursi bambu. Wajahnya tidak begitu jelas, seperti tertutup kabut tipis. “Kakek siapa?” tanyaku. “Aku ingin ke luar dari lorong ini.” ujarku sambil memelas. Kakek tua itu tersenyum. “Aku adalah nenek moyangmu yang sudah kamu lupakan.” “Kenapa aku ada di sini?” lanjut kakek tua itu. “Karena darahku masih mengalir di dalam tubuhmu.” Kakek tua itu menunjuk lorong yang lebih gelap lagi. “Pergilah lebih jauh. Kamu belum sampai.”
Aku berjalan lebih jauh. Lorong semakin sempit. Semakin sunyi. Di ujungnya ada sebuah ruangan kosong. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah pintu yang seolah menjadi akhir dari lorong yang gelap ini. Pintu itu tinggi, tua, dan penuh guratan, seperti kayu yang telah menyimpan terlalu banyak rahasia. Tidak ada gagang. Tidak ada kunci.
Permukaannya dipenuhi retakan halus yang berkelok-kelok, seperti urat pada tangan waktu yang sudah terlalu lama bekerja. Kayunya berwarna gelap, tetapi di beberapa bagian tampak memucat, seolah-olah ingatan pernah menempel di sana lalu perlahan memudar. Pintu itu tidak benar-benar diam, seolah ada kesan aneh bahwa ia sedang menunggu, seperti makhluk tua yang telah berdiri terlalu lama di tempat yang sama.
Di atasnya terukir satu kata yang samar, hampir tenggelam oleh usia, kata yang tidak bisa aku baca. Ada huruf-huruf yang timbul. Huruf-huruf itu tampak seperti luka lama pada kayu, seolah pernah ditulis dengan sesuatu yang lebih tajam dari pisau, mungkin ditulis dengan waktu itu sendiri.
Aku berdiri di depannya cukup lama. Semakin lama aku memandangnya, semakin terasa bahwa pintu itu bukan sekadar pintu. Ia seperti batas tipis antara seseorang yang selama ini kukenal sebagai diriku dan seseorang yang belum pernah benar-benar kutemui. Lorong di belakangku sunyi. Dan pintu itu tetap berdiri di hadapanku, seperti pertanyaan yang belum pernah selesai dijawab.
“Apakah ini akhirnya?” bisikku. Tiba-tiba sebuah suara datang dari balik pintu.
Suara itu, seperti suaraku sendiri. “Belum.” Aku terkaget dan mundur selangkah.
“Siapa di sana?”
“Aku.”
“Siapa aku?”
Suara itu tertawa pelan. “Aku adalah dirimu yang sebenarnya.”
Aku mencoba membuka pintu itu. Tidak bisa. Aku mendorongnya. Tetap tidak bergerak. “Kenapa tidak bisa dibuka?” tanyaku. Suara itu menjawab dengan lebih tenang,
“Karena kamu belum siap melihat siapa dirimu.”
Setelah mendengar jawaban dari belakang pintu itu, aku kebingungan. Aku linglung dan tidak tahu haru berbuat apa. Di depan pintu itu aku terpaku, lalu terduduk. Aku menunggu, entah berapa lama. Lorong di belakangku menghilang. Kenangan memudar. Ruang-ruang tertutup. Yang tersisa hanya aku dan pintu itu.
***
Arya berhenti bercerita. Hujan di luar sudah hampir reda. Aku menatapnya cukup lama sebelum bertanya, “Lalu… apa yang terjadi setelah itu?”
Arya tersenyum tipis. “Aku masih di sana.” Jawabnya.
Aku tertawa kecil. “Maksudmu?”
“Aku masih duduk di depan pintu itu.” tegas Arya.
Aku mengerutkan kening. “Kalau begitu, siapa yang sedang berbicara denganku sekarang?”
Arya menatap cermin itu. Lalu berkata pelan, “Aku juga ingin menanyakan hal yang sama kepadamu.”
Aku menoleh ke cermin. Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat tengkuk terasa dingin. Sejak awal percakapan ini, cermin itu hanya memantulkan satu orang. Aku.
BIODATA
HERI ISNAINI lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Kegiatan sehari-harinya adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Cimahi.













