WANITA YANG TAK BERHENTI BERLARI
Mimpi-mimpi menumpuk bagai guguran daun
Di dalam kepala yang bundar
Katanya, sambil menyalakan api
Pagi-pagi sekali
“Besok saja, jika hari ini usai.”
Tapi hari-hari seperti
Membuka jalan untuk pelari
Setiap hari tak pernah usai
Bagai film beribu-ribu episode
Ia lupa pada list-list yang ditulis
Sejenak pada waktu istirahat
Ia membuka buku yang telah lama dilupakan
Hanya bisa menghela napas
Ternyata ia tak menghabiskan
Waktu dalam dua atau tiga hari
Tapi beberapa tahun silam
Mimpinya menangis di sudut kesendirian
Wanita itu dan mimpinya
Bila malam sunyi
Saling berpelukan terisak
Besok pagi
Hari-hari kembali membuka jalur
Wanita itu berlari lagi
Riau, 8/9/ 2025
PUING
Aku telah jadi puing
Pada embusan angin
Lalu di antara tumpukan
Daun kering
Aku bernafas
Mencari satu dua tiga detak dunia
Yang pada akhirnya
Semakin aku mendekat
Ia lebih besar dari gunung
Luas dari Sahara
Tempat kembara kerinduan
Nelangsa malam
Mendekap bahu bergetar
Jatuhkan pada lantai getir
Pada serpihan puing
Aku masih ingin bangkit
Barangkali tak dibaca angin
Tak ditulis dalam angan
Juga hidup di kenangan
Karena sepertinya
Aku ketiadaan yang berdetak
Dalam nadi orang-orang lupa
Aku diam, malam redam
Pagi temaram, petang muram
Dalam diam, setiap kelam
Aku mencatat sendiri
Kenangan di sela-sela yang rapuh
Serupa balon udara
Riau, 9/6/2025
PADA RUMAH HANGAT
Dan akhirnya aku kembali pulang
Ke pada tempat semula
Di mana semua hanya mengalir biasa
Segala perasaan yang seketika
Sederas air pegunungan
Kini bagai sungai datar
Berjalan menuju muara
Rencana semula yang tiba-tiba
Memasuki semua jalan
Kini hanya searah
Pada tujuan sama
Pada awalnya tergesa
Ingin sampai lebih dulu
Kini memiliki rambu
Semua lorong ingin dituju
Kini aku hanya ingin pulang
Pada satu rumah hangat
Tempat kembali yang tenang
Riau, 9/6/25
SETELAH DAUN JATUH
Setelah jatuh daun
Lalu menjadi abu
Setelah itu puing
Akhirnya jadi kenangan
Panjang dalam ingatan
Mari terus mengingat
Bagaimana kehidupan
Menjadikan panggung
Untuk orang-orang
Yang pada akhirnya bungkam
Bahkan suara mereka
Redam diam
Lebih cepat dari detik jam
Mengalahkan diamnya angin
Riau, 9/6/25
BIODATA
Riska Widiana. Berdomisili di Riau, Kabupaten Indragiri Hilir. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media online dan antologi bersama. Ia bergabung dalam komunitas menulis Kelas Puisi Alit (Kepul). Alamat Facebook Ri-Ana. Instagram riskawidiana97.













