BUKU “Dalam Hologram Kafka” (KPG, 2025) karya Triyanto Triwikromo merupakan salah satu upaya paling serius dan ambisius dalam sastra Indonesia kontemporer untuk “membaca ulang” sosok Franz Kafka melalui medium puisi. Buku ini memuat 56 puisi yang tidak hanya terinspirasi oleh kehidupan dan karya Kafka, tetapi juga berusaha membongkar, menyusun ulang, memberi suara lain, bahkan “mengganggu” keberadaan Kafka sebagai ikon sastra dunia.
Sejak awal, pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan puisi tematik biasa. Triyanto tidak menulis tentang Kafka dalam pengertian biografis yang linear. Ia justru menghadirkan Kafka sebagai fragmen, bayangan, dan gema yang tersebar dalam berbagai lapisan makna. Di sinilah judul Dalam Hologram Kafka menjadi sangat relevan. Hologram, sebagai teknologi pencitraan tiga dimensi yang terbentuk dari rekonstruksi cahaya, menjadi metafora utama bagi keseluruhan proyek estetik buku ini.
Sebagaimana hologram yang menyimpan informasi optik dalam bentuk pecahan-pecahan cahaya, puisi-puisi Triyanto juga dibangun dari serpihan referensi, seperti kehidupan Kafka di Praha dan Berlin, relasinya dengan keluarga, kekasih dan sahabatnya, kegelisahan eksistensialnya, hingga karya-karya besarnya seperti Metamorfosis, Proses, dan Kastil. Namun serpihan-serpihan itu tidak disusun menjadi narasi utuh, melainkan dibiarkan saling berkelindan, bertabrakan, bahkan saling menegasikan.
Triyanto tampak sangat menyadari kompleksitas Kafka sebagai sosok dan sebagai teks. Kafka bukan hanya penulis, melainkan sebuah dunia. Dunia yang dihuni absurditas, keterasingan, birokrasi yang menindas, serta kegelisahan eksistensial yang tak berujung. Triyanto tidak merepresentasikan dunia tersebut secara langsung, melainkan menghadirkannya kembali dalam bentuk apa yang ia sebut sebagai “chaosmos”, pertemuan antara chaos (kekacauan) dan cosmos (keteraturan). Dalam ruang chaosmos ini, makna tidak pernah stabil; ia terus bergerak, pecah, dan terbentuk kembali.
Keseriusan penggarapan buku ini juga tampak dari proses kreatifnya. Triyanto tidak hanya mengandalkan pembacaan teks, tetapi juga melakukan napak tilas ke ruang-ruang geografis yang membentuk Kafka. Antara 2017 hingga 2023, ia berulang kali mengunjungi Berlin dan Praha. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi apa yang bisa disebut sebagai “puisi suasana”, puisi yang tidak hanya berbicara tentang Kafka, tetapi juga menyerap atmosfer kota, sejarah, dan jejak-jejak kultural yang mengelilinginya. Dengan demikian, buku ini menjadi semacam dokumen puitik yang menggabungkan riset, pengalaman personal, dan imajinasi.
Dari segi teknik, buku ini menunjukkan kepiawaian Triyanto dalam mengeksplorasi berbagai bentuk dan gaya puisi. Ia tidak terpaku pada satu jenis puisi, melainkan bergerak dari puisi lirik yang intim, ke puisi naratif yang lebih panjang, hingga puisi yang menyerupai mantra. Keragaman ini menciptakan dinamika pembacaan yang tidak monoton.
Penggunaan majas juga sangat kaya. Metafora, simile, personifikasi, repetisi, hiperbola, hingga sinestesia digunakan secara intens untuk membangun lapisan-lapisan makna. Dalam beberapa puisi, bahasa bahkan terasa seperti sengaja “dirusak” atau dipelintir, menciptakan kekacauan semantik dan semiotik. Namun kekacauan ini bukan tanpa tujuan. Hal itu justru menjadi cara untuk mendekati dunia Kafka yang memang tidak pernah sepenuhnya rasional atau teratur.
Secara struktural, dalam beberapa puisi, Triyanto kerap menggunakan enjambemen pendek-pendek yang memutus aliran kalimat secara tiba-tiba. Teknik ini menciptakan ritme yang terfragmentasi, seolah-olah pembaca dipaksa berhenti, tersendat, lalu melanjutkan kembali. Efek ini sangat sesuai dengan tema keterasingan dan ketidakpastian yang menjadi ciri khas Kafka. Selain itu, permainan bunyi dan sunyi juga menjadi elemen penting. Triyanto tidak hanya membangun makna melalui kata, tetapi juga melalui jeda, kekosongan, dan keheningan.
Salah satu aspek menarik dalam buku ini adalah upaya Triyanto untuk “menciptakan ulang” Kafka melalui tokoh “K” (K aksen, hal. 132) pada salah satu puisi naratifnya. Dalam karya-karya Kafka, tokoh “K” sering muncul sebagai figur anonim yang terjebak dalam sistem yang tidak ia pahami. Triyanto mengambil figur ini dan memberinya kemungkinan baru: nasib, kekacauan, dan kesenyapan lain. Dengan cara ini, Triyanto tidak sekadar menafsirkan Kafka, tetapi juga memperluas semestanya.
Meski demikian, perlu diakui bahwa buku ini bukanlah bacaan yang mudah. Pembaca yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang Kafka mungkin akan kesulitan menangkap referensi dan konteks yang tersebar di dalamnya. Puisi-puisi ini tidak menawarkan makna yang langsung atau transparan. Sebaliknya, ia menuntut keterlibatan aktif pembaca untuk menafsirkan, menghubungkan, dan bahkan menerima ketidakpastian.
Namun, justru di situlah letak nilai estetiknya. Buku ini tidak berusaha menyenangkan pembaca atau memberikan pemahaman yang tuntas. Ia lebih menyerupai pengalaman. Pengalaman tersesat dalam labirin bahasa, pengalaman berhadapan dengan absurditas, pengalaman merasakan kegelisahan yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Triyanto sendiri menegaskan bahwa buku ini bukan ajakan untuk “memikirkan puisi” secara rasional. Puisi-puisi ini hadir sebagai semacam gangguan, baik terhadap sosok Kafka maupun terhadap pembaca. Dalam konteks ini, membaca buku ini berarti membuka diri terhadap ketidaknyamanan, terhadap kekacauan, dan terhadap kemungkinan makna yang tak terbatas.
Puisi berjudul “Dalam Hologram”, misalnya, menjadi semacam simpulan tematik buku ini. Di sana ditegaskan bahwa Kafka dan “kekafkaan” tidak pernah benar-benar mati. Ia terus hidup sebagai bayangan, sebagai mitos, sebagai sesuatu yang selalu kembali dalam bentuk baru. Larik Kafka tetap dilarang mati menjadi pernyataan yang kuat sekaligus ironis. Kafka, yang sepanjang hidupnya merasa terasing dan kurang dihargai, justru menjadi sosok yang abadi dalam kesadaran sastra dunia.
Pada akhirnya, Dalam Hologram Kafka adalah buku yang menantang sekaligus memperkaya. Buku ini tidak hanya memperlihatkan kepiawaian Triyanto Triwikromo sebagai penyair, tetapi juga menunjukkan bagaimana puisi dapat menjadi medium eksplorasi intelektual dan eksistensial yang mendalam.
Buku ini mungkin tidak akan mudah didekati oleh semua pembaca. Tetapi bagi mereka yang bersedia masuk ke dalam “hologram” ini, pengalaman yang ditawarkan adalah sesuatu yang intens, kompleks, dan tak mudah dilupakan. Petikan awal puisi “Maklumat” agaknya cocok untuk menggambarkan hal itu: Aku bebas. / Karena itu aku tersesat. ***
*penulis adalah sastrawan, menetap di Bali.













