BULELENG, Balipolitika.com– Orderan dodol, makanan tradisional berbahan dasar tepung ketan yang kerap dijadikan pelengkap banten dalam berbagai upacara “meroket” jelang hari raya Galungan dan Kuningan.
Mempertahankan proses pembuatan dodol secara tradisional, Nyoman Budiastana (57 tahun), pria asal Banjar Dinas Kelodan, Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng ikut kebanjiran orderan.
Pemilik Sugi Dodol yang telah menjalankan usaha tersebut selama dua dekade alias 20 tahun bersama sang istri mengaku usaha dodol di Desa Penglatan berawal dari usaha rumahan.
Usaha skala kecil di masing-masing keluarga menjelang hari raya Galungan dan Kuningan itu kini berkembang seiring banyaknya permintaan, bahkan dari luar Bali.
“Awalnya setiap keluarga menjelang hari raya Galungan membuat dodol untuk pelengkap banten. Namun, berikutnya ada satu keluarga yang menawarkan di Kabupaten Badung yang kebetulan ada keluarganya yang tinggal di sana. Ternyata banyak yang suka, sehingga peminatnya semakin besar. Dari situlah beberapa keluarga lain di Desa Penglatan mulai menekuni usaha dodol karena usaha ini cukup menjanjikan dan dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di sini,” ujar Budiastana.
Seiring meningkatnya permintaan, usaha pembuatan dodol pun semakin berkembang dan menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga di sana.
Orderan terbanyak selalu datang menjelang hari raya Galungan dan Kuningan.
“Kalau sudah mendekati Hari Raya Galungan dan Kuningan, kami bisa memproduksi sampai 3 ton dodol,” ujar Budiastana.
Budiastana menjelaskan, pembuatan dodol memerlukan proses yang cukup panjang, mulai dari perendaman bahan, proses memasak selama kurang lebih 3 jam, hingga penjemuran minimal 2 hari agar dodol dapat bertahan hingga sekitar satu bulan tanpa bahan pengawet sebelum dipasarkan.
Resep yang digunakan tidak pernah berubah dari zaman dulu sehingga cita rasanya pun tetap terjaga.
Selain itu, Budiastana menjelaskan bahwa dodol dibungkus menggunakan kulit jagung kering yang diperoleh dari pemasok bahan baku setempat.
Kulit jagung tersebut didatangkan dari Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem, hingga daerah di luar Bali seperti Lampung dan Lombok.
Tak hanya memiliki cita rasa yang khas, dodol Penglatan juga hadir dalam berbagai varian rasa dan warna yang menjadi daya tarik bagi konsumen.
“Kalau untuk warna, tentunya kami menggunakan pewarna makanan yang aman untuk dikonsumsi. Beberapa jenis dodol yang diberi pewarna supaya tampilannya lebih menarik,” ujar Budiastana.
Ia menambahkan bahwa dodol tersedia dalam berbagai varian rasa, seperti injin atau ketan hitam, pandan, kacang, dan dodol berwarna merah yang memiliki rasa hampir sama dengan varian lainnya, tetapi dibedakan dari tampilan warna saja.
Budiastana mengungkapkan bahwa dari berbagai varian yang tersedia, dodol injin atau ketan hitam menjadi produk yang paling banyak diminati oleh konsumen.
Saat ini, beberapa pengusaha dodol di Desa Penglatan, termasuk Budiastana, mulai melakukan berbagai inovasi kemasan.
Selain mempertahankan pembungkus tradisional berbahan kulit jagung, dodol juga dikemas menggunakan plastik dan cup berukuran kecil agar lebih praktis.
Ada pula inovasi kemasan berbahan kulit jagung yang dibentuk menyerupai sumping, sehingga tetap mempertahankan ciri khas tradisional dengan tampilan yang lebih menarik.
Sementara itu, di tengah perkembangan makanan modern, usaha dodol juga menghadapi berbagai tantangan.
Budiastana mengungkapkan bahwa proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional membutuhkan banyak tenaga kerja dan biaya yang cukup besar.
Kondisi tersebut membuat harga dodol relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis jajanan modern yang beredar di pasaran.
“Tantangan kami adalah bagaimana tetap mempertahankan cara pembuatan dodol yang sudah diwariskan secara turun-temurun, tetapi di sisi lain juga harus mampu bersaing dengan berbagai makanan modern yang semakin banyak di pasaran,” tegasnya.
Dengan menjaga kualitas rasa dan terus berinovasi dalam pemasaran dan pengemasan, dodol Penglatan diharapkan semakin eksis dan terkenal hingga luar Bali. (bp/Komang Cahya Prabayanti/4A/Basindo/Undiksha)










