BULELENG, Balipolitika.com- Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengoptimalkan Program Duta GenRe (Generasi Berencana) sebagai gerakan nyata untuk membimbing remaja merencanakan masa depan.
Salah satu Duta GenRe Undiksha, Kadek Indra Setiawan, menjelaskan bahwa program ini bertujuan membentuk figur teladan lewat dua peran utama, yaitu pendidik sebaya dan konselor sebaya.
“Sebenarnya plan dari Duta GenRe itu adalah sebagai role model generasi muda agar bisa merencanakan hidup lebih baik, dengan tugas utama sebagai pendidik dan konselor sebaya,” ujar Indra saat diwawancarai, Minggu, 7 Juni 2026.
Sebagai pendidik, fokusnya adalah edukasi preventif terkait isu remaja.
“Kami memberikan edukasi mengenai isu remaja agar bisa dijadikan pertimbangan, sehingga mereka terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Sementara sebagai konselor, mereka memberikan pendampingan psikologis.
“Kami mendengar keluhan teman-teman, lalu memberikan feedback yang berguna bagi mereka,” tambah Indra.
Langkah ini penting untuk menjawab keresahan mahasiswa terkait stabilitas kesehatan mental akibat padatnya jadwal kuliah dan organisasi.
“Keresahan remaja di Undiksha itu pastinya dari segi kesehatan mental, karena mahasiswa tidak hanya fokus akademis, melainkan juga aktif mengikuti Ormawa atau UKM,” ungkap Indra.
Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik Gen Z sebagai strawberry generation yang kreatif namun rentan mengalami guncangan mental saat menghadapi tekanan berat.
Selain masalah internal kampus, program GenRe juga dituntut peka merespons isu eksternal seperti pernikahan dini, kenakalan remaja, hingga kehamilan di luar nikah.
Menghadapi tantangan tersebut, Duta GenRe menerapkan strategi edukasi adaptif, menggunakan analogi sederhana untuk siswa SD, serta dialog santai dan ice breaking untuk mahasiswa agar tidak monoton.
Sebagai penutup, Indra mengajak remaja Undiksha untuk matang merancang lini masa hidup sejak dini.
Langkah ini dapat dimulai dengan keberanian keluar dari zona nyaman, aktif memperluas pengalaman organisasi, serta mengasah soft skill krusial seperti public speaking yang menjadi aset utama untuk bersaing di dunia kerja global. (bp/Putu Sayu Herlinda/4A/Basindo/Undiksha)













