DI PONDOK KOPI KUGADAI SEPI PADA SECANGKIR ES KOPI
genggam tanganku, itu remuk batinku
jangan paksa bersinar
mataku bukan matahari, tak berair mata
senyum pura-pura
sakit rupa-rupa
dekap aku, itu sesak dadaku
waktu terus menghujaniku rindu
aku patah paling parah
payah
di bangku pondok kopi
kugadai sepi pada secangkir es kopi
kucuri debar lewat singkong goreng keju
kubuang bimbang lewat tukar pandang
matahari diam-diam menyamar
cahaya samar-samar
daun-daun berayun tersenyum
peluk aku, itu gemuruh jiwaku
sebelum matahari sembunyi
kemudian kita kembali benar-benar sunyi
pulang tanpa bayang-bayang
cinta atau penyesalan
Tayem, 31 Mei 2025
JIKA TANGIS MENJELMA PUISI
jika tangis dapat menjelma puisi,
ijinkan aku malam ini menangis
-menangis sebentar saja
kangen serupa apa dapat kutahan?
sedang pertemuan bukan keniscayaan
aku kehilangan!
–rumah paling nyaman
–separuh kehidupan
malam-malam dikepung sunyi
rembulan padam, bintang-bintang pucat
memeluk kenangan
angin membisik perlahan doa-doa putus asa
di dadamu yang seperti kaca retak
aku pernah menetap
tumbuh menjadi sekuntum mawar putih
yang tak pernah kehabisan maaf
jika tangis dapat menjelma puisi
ijinkan aku malam ini menangis
menangis di pelukan sunyi
Tayem, 02 Agustus 2025
BARAYANA CAFE
aku perempuan sulit membedakan
kapan harus menangis kapan tertawa
terlalu banyak ingatan
semua terasa pekat
seperti secangkir kopi vietnam
manis pahit yang kaupesan
kentang goreng dengan saos cabai
adalah tawamu
gurih campur pedas
indah, kadang perih menyakitkan
malam pun berlarian
mengejar hatimu –hatiku
yang tak mampu rindu sendirian
remang bulan, sedikit kerlip bintang
mencari jalan pertemuan
barayana cafe
cinta tak perlu diperdebatkan
meski yang singgah bukan menjadi rumah
aku dekap, aku bahagia meski lemah
aku terima sekerat cinta, sekarat luka
Tayem, 03 Agustus 2025
MACAROON
aku perempuan tak suka menanam bunga
mawar, anggrek, melati atau kaktus
di dalam pot
aku suka imajinasi
mengunyah puisi, menyanyi lagu-lagu poppy mercury
kemudian dansa dengan bayang sendiri
aku juga tak suka memasak
sambal, gulai, rendang, atau apapun bernuansa padang
aku suka yang kau tak suka
bibir merah menyala-nyala
kadang tiba-tiba menangis di kolong meja
kadang mendadak tertawa
meledak-ledak seperti kembang api
ah apakah dilarang seorang penyair melawak?
aku macaroon
manis kata orang-orang
aku indah warna-warni seumpama pelangi
namun mudah hilang disapu gerimis
Tayem, 4 Agustus 2025
MALAM MINGGU DAN ANGKRINGAN
kemarilah sayang!
rindu telah menemukan jalan pulang
rembulan tak lagi pucat kehilangan
bintang-bintang berkelip kegirangan
langit perawan amat menawan
aku tak lagi menangis
tak menjadi tanya
yang lelah mencari jawaban
mengapa ketulusan dibalas penghianatan?
malam minggu di angkringan
kita rayakan cinta yang serupa bayang-bayang
kadang ada kadang menghilang
segelas wedang jahe hangat
dua potong bakwan
wangi nasi bakar kemangi
adalah wangi mimpi kemarin malam
kemarilah sayang!
nikmati malam sepenuh rindu
sepenuh angan
aku dan kamu sepasang yang dipisahkan
–takdir tuhan
Tayem, 09 Agustus 2025
BIODATA
Dwita Utami, seorang perangkat desa penyuka puisi, tinggal di Desa Tayem Kabupaten Cilacap. Karya-karyanya tersebar di sejumlah surat kabar lokal, media daring, dan buku antologi puisi bersama. Meraih penghargaan sebagai Insan Pustaka Kabupaten Cilacap Tahun 2022. Buku puisi tungal pertamanya “Perempuan Pinus” terbit tahun 2023.













