BADUNG, Baliolitika.com- Sejarah Desa Bongkasa. Kisah Desa Bongkasa berawal dari hutan belantara dan tanah yang berpalung. Daerah ini berada di bawah kekuasaan Ratu Mengwi pada jaman dahulu. Ratu Mengwi mengutus dua orang kepercayaannya. Utusan itu bernama I Gede Geredegan dan I Made Tanggu. Mereka merabas daerah sebelah barat Sungai Ayung. Kedua utusan tersebut tidak berani menolak tugas.
I Gede Geredegan dan I Made Tanggu merabas hutan. Mereka menanam tanaman yang dapat dinikmati. Sayangnya, mereka tidak mengajak istri mereka. Mereka tidak menumbuhkan anak sebagai keturunannya. Meskipun begitu, mereka tetap bertahan dalam hutan. Tempat tersebut diberi nama Teguh Wana. Nama itu lama kelamaan menjadi Teguan.
I Gede Geredegan kembali ke Puri Mengwi. Ia melaporkan hasil pekerjaan dan tugasnya. Sementara I Made Tanggu menunggui batas timur kerajaan. Tak lama kemudian, istri Ratu Mengwi sakit keras. Ratu Mengwi mengundang banyak pendeta dan tabib. Satupun tabib tidak ada yang berhasil mengobati ia.
Jero Ketut Tangsub dan Kompek Gandek
Kabar sakitnya Ratu Mengwi tersebar ke Manuaba. Berita itu didengar oleh orangtua Jero Ketut Tangsub. Ia segera mengutus Jero Ketut Tangsub ke Puri Mengwi. Jero Ketut Tangsub akan memberikan pertolongan. Ia tidak berani menolak perintah ayahnya.
Ia berangkat ke Puri Mengwi membawa peralatan. Peralatan itu berupa tas dari ate yang berwarna-warni. Tas itu sering disebut dengan Kompek Gandek yang indah. Isinya adalah sirih, kapur, pinang, dan tembakau. Peralatan itu berguna sebagai camilan penghangat mulut. Kompek Gandek juga dimanfaatkan sebagai sarana pengobatan.
Di Puri Mengwi, ia bertemu seorang pedagang rujak. Ia bertanya, “Berapakah dapat ongkos orang-orang itu?” Pedagang rujak melaporkan ini ke Puri Mengwi. Para Patih Ratu Mengwi marah dan ingin membunuh ia.
Pengobatan Sakti dan Anugerah Tanah
Para Patih memanggil Jero Ketut Tangsub menghadap Puri. Mereka memaksanya mengatakan maksud perkataan itu. Ia dengan tenang menjawab maksudnya. Ia bertanya apakah orang berhasil mengobati mendapat imbalan. Para Patih menyuruh Jero Ketut Tangsub segera mengobati Ratu Mengwi. Jika ia menolak, ia akan dibunuh para Patih.
Jero Ketut Tangsub mengikuti Patih ke ruangan Ratu Mengwi. Istri Ratu Mengwi tergolek lemas di sana. Dengan kekuatan batin ia mengeluarkan gandek. Tas itu diciptakan menjadi Balai Pemujaan (Pawedan). Isi tas dicipta sebagai perlengkapan Japa Mantra. Ia memohon Tuhan memberkati pengobatannya.
Ia mohon izin melakukan pembersihan dengan air suci. Air suci dipercikkan ke seluruh badan istri Ratu Mengwi. Setelah diperciki air suci, istri Ratu Mengwi sembuh.
Jero Ketut Tangsub menerima berkah dari Ratu Mengwi. Berkah itu berupa sepetak tanah seluas 10 Ha. Ratu Mengwi memerintahkan I Gede Geredegan dan istrinya. Mereka harus mengikuti dan mendampingi Jero Ketut Tangsub.
Cahaya Merah dan Asal Nama
Dalam perjalanan, ia memegang sehelai daun lontar. Ia memandangi arah timur dari daerah ketinggian. Ia melihat seberkas sinar merah terbias dari langit. Sinar itu merupakan sinar merah keemasan. Sinar itu penuh hawa kesucian yang dirasakan.
Jero Ketut Tangsub duduk beristirahat di sana. Ia memegang gandek sambil membuat sebuah geguritan. Ia menulis pupuh ginada pada sehelai daun lontar. Setelah membuat beberapa bait geguritan. Ia langsung menuju tempat sinar merah keemasan. Ia mengupas ciri-ciri sinar yang dilihatnya. Ciri-ciri itu diartikan Rangde Langit. Rangde Langit berarti sinar merah keputih-putihan. Dalam bahasa Bali, ini mengandung arti Bang Akasa.
Lama kelamaan orang-orang mengatakan Bongkasa. Inilah Desa Bongkasa di Kecamatan Abiansemal sekarang. Kesuburan tanah dan keamanan membuat banyak pendatang. Desa ini akhirnya menjadi dua Desa Adat. Ada Desa Adat Bongkasa dan Desa Adat Kutaraga. Sejarah Desa Bongkasa adalah kisah pengobatan dan anugerah suci. (BP/CHA).













