Di Hamparan Senja
Tubuhmu mendirikan bentangan bagi ketiadaan,
seperti sungai purba yang hilang arusnya.
Aku mengumpulkan sisa kehangatan di udara tipis,
dari bara yang telah lama mati.
Kita adalah ranting muda yang mudah patah
dari pegangan semesta, di mana detik terselip
dari jalur semestinya. Cahaya redup pada foto
hitam-putih itu, seakan mendesis:
“Segala usia memiliki makna,
galilah ia, resapilah ia”
2025
Di Jendela Rumah
Dari bingkai jendela kayu jati,
kunang-kunang menjelma percik bunga api,
atau tempias cahaya bulan yang tersisa.
Malam merangkai kilau bintang samar,
di mana nyanyian pucuk daun
menyela lirih suara desa.
Sesuatu beranjak dari palung hati,
ombak kenangan masa lalu
merintih antara harapan & kisah lama.
Wajah kita hanya sisa separuh cermin,
menunggu jarak merampungkan bab terakhir.
2025
Perhentian Para Pelamun
Kita memilih menyajikan penantian,
memberi makna setiap tarikan nafas
dengan kegelisahan yang tak lagi bersemayam.
Di sudut ini, linangan air mata
menuliskan sepotong kisah.
Jiwa-jiwa berdiri mengeluarkan gemuruh
asa dari kepingan yang perlahan luruh.
Di lorong masa yang senyap,
cita-cita hampa menuntut rasa,
namun kita kehabisan kata.
Perhentian ini, dekapanmu yang beku
pada hujan yang mengukir duka.
2025
Pagi yang Ditemukan Anak
Warna jingga memanjat batang kayu tinggi,
pada sebuah desa dalam mimpi anak-anak.
Adegan itu bergerak perlahan: seorang bocah
dengan perahu kertas di genggamannya.
Fajar meneteskan dingin di kaca jendela berdebu.
Ia menutup mata, merasakan tahun-tahun
yang dibekukan musim dan suasana.
Bayangan panjang di tanah subur
pada awal Oktober membisikkan,
bahwa surga atau neraka, bisa jadi hanya
ilusi yang digunakan manusia
untuk memoles citranya masing-masing.
2025
Hasrat
Aku belum juga memahami bahasa
yang terbentuk dari getaran tubuhmu.
Jarak terasa begitu menyedihkan
bagi sepasang kekasih.
Bagiku, kau adalah sumbu lentera yang suci,
mengalirkan kehangatan lain di malam pekat.
Dan hasrat, mengendap pada dasar mangkuk jiwa.
Aku memilah setiap memori yang datang kembali,
mencari jejak lekuk senyummu yang menjulur
seperti akar menjalar yang kokoh.
2025
Perasaan di Balik Kabut
Hari pun jernih tak berawan,
ada suara yang berkelana jauh,
menggapai yang kekal,
juga yang fana.
Denyutan nadi yang entah kapan
bersentuhan di rumah batin,
tak juga lelah merajut satu nama.
Kenangan yang bernuansa pekat,
secangkir cerita yang tersaji di meja hening.
Parasmu, adalah tabir yang memantulkan
lanskap lara dan imajinasi manusia.
2025
BIODATA
Syeftyan Afat, lahir di Pacitan pada 28 April. Santri di Pondok Tremas dan pernah aktif di Komunitas Literasi Soko Pena Attarmasie. Pernah juga bergabung di Komunitas Senja Bersastra di Malioboro. Saat ini ia sedang menekuni belajar menulis puisi dan esai, sembari mempersiapkan buku puisi perdananya. Salah satu puisinya masuk nominasi sayembara cipta puisi nasional Festival Sastra Yogyakarta 2025. Beberapa tulisannya dapat dijumpai di beberapa media online.













