BADUNG, Balipolitika.com– Menulusuri Sejarah Desa Darmasaba tertuang dalam lontar Usada Bali. Asal-usul nama desa dapat diyakini memiliki latar belakang sejarah. Nama Darmasaba berkaitan dengan keturunan Danghyang Nirarta. Sang kawi-wiku dari Daha memiliki cucu bernama Ida Pedanda Sakti Manuaba. Ia tinggal di Desa Kendran Tegalalang Gianyar. Merasa tidak disukai sang ayah, ia memutuskan mengembara.
Pengembaraan pendeta ini ditemani dua orang pengiring setianya. Perjalanan sang pendeta sampai di Pura Sarin Buana, Jimbaran. Saat mengadakan semedi, ia melihat sinar api yang sangat jauh. Sinar api itu terlihat jelas di arah utara. Ida Pedanda Manuaba ingin mengunjungi tempat cahaya.
Sang Pedanda kemudian sampai di Pura Batan Bila Peguyangan. Ia singgah menghadap Ida Pedanda Budha yang tinggal di sana. Selanjutnya, kedua pendeta bersama-sama menuju utara. Mereka singgah di Taman Cang Ana, milik Arya Lanang Blusung. Di tempat ini, kedua pendeta melaksanakan semedi dan menetap.
Kedatangan kedua pendeta ini didengar Bendesa Aban. Bendesa Aban segera menghadap kedua pendeta suci. Ia tidak berani menghadap langsung saat itu. Bendesa hanya memperhatikan dari kejauhan secara seksama. Memperhatikan dari kejauhan disebut ninjo dalam bahasa Bali. Tempat itu kemudian dikenal sebagai Peninjoan. Peninjoan kini menjadi nama salah satu Banjar di sana.
Hyang Api dan Filosofi Nama
Bendesa Aban akhirnya menghadap kedua pendeta. Ini terjadi setelah ia mendapat petunjuk spiritual. Ida Pedanda Manuaba dan Ida Pedanda Budha melanjutkan perjalanan. Mereka bertemu seorang bendesa di tempat lain. Tempat ini sekarang diberi nama Menesa, yang menjadi nama Banjar.
Melalui bendesa, mereka mendekati sebuah pura. Pura inilah yang mengeluarkan sinar api besar. Sinar itu terlihat saat pendeta bersemedi di Jimbaran. Pura tersebut kemudian diberi nama Pura Hyang Api. Pura Hyang Api kini terletak di wilayah Banjar Menesa.
Kedua pendeta dan sang bendesa mengadakan pertemuan. Pertemuan diadakan di Pura Budha Manis, dibangun Kebo Iwa. Pertemuan penting itu membicarakan soal kedharman. Kedharman berarti kesucian dalam ajaran agama. Tempat itu kemudian diberi nama Darmasaba. Darmasaba berasal dari kata dharma (kesucian) dan saba (pertemuan).
Nguncabang dan Lahirnya Desa Adat Tegal
Usai pertemuan itu, Bendesa Aban mohon pamit pulang. Hari sudah sore, sehingga ia mempercepat perjalanan. Mempercepat jalan disebut Nguncabang dalam bahasa Bali. Kemudian tempat itu diberi nama Cabe. Cabe kini menjadi nama salah satu banjar.
Berselang beberapa lama, Desa Aban diserang malapetaka. Malapetaka semut membuat penduduk meninggalkan desa. Sebagian penduduk tinggal di daerah perkebunan. Mereka menetap di daerah sebelah selatan Desa Aban. Daerah baru tempat mereka menetap diberi nama Tegal. Tegal kini menjadi nama Desa Adat yang terpisah. (BP/CHA).













