SAYA sepekan ini tak nyaman. Pasalnya, sejumlah tudingan masuk via chat whatsApp dan pesan langsung di FB. Beberapa menuding saya masuk anginlah, kena intervensilah, terima uanglah, dan sejenisnya. Makanya tak ada lagi info soal gas oplosan. Makanya saya sepi soal gas. Forum ini saya gunakan sebagai sebuah pertanggungjawaban publik.
Dua pekan lalu, saya telah mengantongi lengkap semua data, fakta dan situasi lapangan soal gas oplosan. Saya amat paham di mana titik bergerak gas yang akan dioplos lalu disembunyikan di mana dan di mana dioplos. Saya juga paham dibawa ke mana seusai dioplos sebelum masuk pasar gelap. Setelah semua lengkap saya sengaja sepi di medsos, namun menempuh langkah bermartabat melakukan diplomasi dan komunikasi.
Bagi saya kepolisianlah yang memiliki otoritas untuk menindak dan punya kewenangan. Karena itulah sebagai warganegara yang baik, saya telah menghadap dan melapor kepada Kapolda Bali. Beliau menerima sama bersama Dirpidum dan Wakadireskrimsus. Usai siang diterima, malamnya saya kembali melakukan pemantauan lapangan (berakibat motor saya ditendang di kegelapan). Saya juga paham, malam itu ada yang membocorkan pertemuan saya dengan Kapolda. Makanya, dua lokasi oplosan tak bekerja (yang diduga punya beking kuat di Jakarta). Satu lagi tetap bekerja (karena tak punya beking orang kuat di Jakarta).
Saya menunggu sepekan. Polda Bali tak ada gebrakan apapun. Saya tak tinggal diam. Saya berangkat ke Jakarta dan menyampaikan info ini dengan “orang yang kenal amat dekat dengan Kapolri”. Dua hari sepulang saya dari Jakarta, saya dikontak kembali Kapolda Bali siang hari. Malamnya seorang pejabat Polda Bali saya berikan semua data yang ada di saya. Intinya, tinggal eksekusi.
Pertemuan malam itu terjadi Jumat lalu. Dan sekarang belum ada perkembangan apapun. Saya menyerahkan penilaian kepada publik. Soal apa yang saya telah kerjakan (dengan segala risikonya) dan respons kepolisian.
Bagi saya tim gugus tugas reformasi Polri akan jadi titik balik perbaikan di Polri. Dan saya percaya oknum aparat yang makan uang haram dengan menyengsarakan rakyat cepat atau lambat akan mendapat karmanya!
Pertandingan menuju babak perpanjangan waktu dengan wasitnya Tim Reformasi Polri. Semoga rakyat tak keburu sekarat!
Penegasan akhir, saya membela hak rakyat miskin bukan karena interes jabatan tertentu. Karena saya pernah jadi anak miskin. Jadi sangat paham bagaimana rasanya dampak ketidakadilan itu. Bukan pula karena dibayar pihak lain. Jika saya dibayar pihak lain untuk kencang soal gas oplosan, terkutuklah saya dan anak istri saya atas nama Ida Bathara sami. Seluruh rekam jejak masa muda saya sangat bisa diakses untuk bisa memahami sepak terjang saya saat ini.
Saya memilih bersikap dengan sangat sadar. Sadar karena terlampau sedikit yang berani dan bernyali melakukannya. Dan saya tak boleh menolak pilihan semesta yang ditakdirkan kepada saya.
Demikian pertanggungjawaban publik saya!
Dharma Raksati Raksitah!
(Barang siapa yang berjalan di atas Dharma, maka Dharma jugalah yang akan melindunginya!)













