KRESEK warna hitam ukuran sedang berada di tangan kirimu. Kau pegang dengan kuat. sementara tangan kananmu memegang totebag ukuran sedang agak tebal sepertinya. Mentari belum menetas saat kau berjalan di pinggir selokan-selokan yang airnya sangat jernih. Setiap tatapan saling memandang ke arahmu. Sesekali mereka menyapamu seperlunya dengan panggilan ‘Pak Lurah’. Kau menyadari, setiap tatapan yang memandang tadi pasti tengah membicarakanmu. Nasi sudah menjadi bubur, dan hidup harus terus berjalan. Meski awalnya kau mengakui bahwa nafsu yang berjalan dalam jiwamu adalah nafsu binatang. Mau tak mau dalam semingu kau harus membagi waktu di dua tempat.
***
Sejak terpilih menjadi lurah di desa Sukaharjo dua tahun lalu, kau menjadi pusat perhatian. Gayamu memang agak necis. Sontak saja gaya rambutmu diikuti para pemuda tanggung hampir sedesa. Kau satu-satunya Lurah dengan gaya rambut mohawk.
Pagi ini rambut mohawk-mu tidak tersisir rapi, tidak ada lagi bekas guratan sisir yang klimis di rambutmu. Wajahmu murung. Ketiga anakmu tetiba berdiri di depan pintu ketika kau baru sampai di rumah.
“Pak. Aku mau ujian minta bayaran SPP,” ucap anak bujangmu yang duduk di bangku SMA.
Kau menggelengkan kepala dan gegas memasuki rumah. Menaruh dua kantong kresek warna hitam di depan mesin cuci. Sementara itu, anak gadismu yang baru menginjak kelas tujuh mengekor di belakangmu.
“Pak … aku mau kemah perjusami. Minta uang bekal,” ucapnya.
Kau menyugar rambutmu hingga tampak lebih kusut. Lalu duduk di kursi yang tepat di depannya televisi menyala.
“Kemana ibumu?”
“Sejak dua hari lalu, ibu belum pulang, Pak.” Jawab si bungsu yang siap memakai sepatu.
“Gak Pulang? kalian makan apa selama ditinggal ibumu?”
“Ibu ninggalin makanan seadanya di kulkas. Kata ibu, makan aja yang ada di sana.”
Kau merebahkan badanmu di sofa. Kedua matamu kau pejamkan. Sementara si bungsu merengek minta uang jajan. Badanmu digoyang-goyangkannya. Terpaksa tangan kananmu merogoh dompet yang berada di saku celanamu.
Uang kertas warna merah kau cabut dari dalam dompetmu. Sambil menarik napas dalam, kau angsurkan kepada anak sulungmu. Tanpa kata, ia langsung menariknya.
“Itu bagi buat bertiga. Bapak tidak ada uang lagi.”
Sebelum pukul tujuh, ketiga anakmu sudah pergi ke sekolah masing-masing. Kau sendiri memegang kepalamu dan meremas-remasnya berulang kali. Pintu depan terbuka lebar, istrimu berdiri di sana sambil menenteng sayur mayur di tangannya. Kedua pupil matamu saling bertemu. Tak ada sapa di sana. Hening. Ia berlalu meniggalkanmu menuju dapur. Suara alat dapur kemudian memenuhi gendang telingamu. Harum bumbu-bumbu masakan tercium di hidungmu menggugah selera makanmu.
Kau bangkit dari kursi, langkah demi langkah menuju meja makan. Tiga menu sudah siap terhidang. Lagi-lagi tak ada sepatah kata pun terucap, bibirnya dan bibirimu saling mengatup seakan saling menjahit mulut. Ia hanya bergerak ke sana kemari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kau baru menyadari ketika ia menyaodorkan sebuah piring. Namun, tatapannya beralih pada dua kresek yang teronggok di samping mesin cuci.
Suara air keran diputarnya memenuhi tabung mesin cuci. Baju-baju kotor selama empat hari, ia masukkan ke dalamnya, byurr … liquid dan pengharum pakaian di masukannya sekalian. Suara mesin cuci menggema. Kau seperti kesetanan memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutmu. Tiga tegukan air teh panas memenuhi tenggorokanmu. Kau cukup puas menikmati masakan istrimu. Sejak menikah dengannya, tidak ada yang paling berkesan selain masakannya yang membuat lidahmu terus mengingatnya.
Kau mendorong kursi dan keluar dari meja makan. Kancing demi kancing baju kau lepaskan. Kau masukan sekalian ke dalam tabung mesin cuci yang tengah memutar. Kaus dalam dan celana dalam ikut kau masukkan ke sana. Kau raih handuk yang tergantung di tempat biasa.
Bau parfum bacarat memenuhi ruang kamar ketika ia memasukinya. Lagi-lagi kau dan ia hanya saling menatap. Tak ada perbincangan apapun. Entah berapa bulan kau belum pernah menyentuhnya. Kau mengakui, Dewi istri mudanya masih terlalu candu untuk dinikmati. Ia melihat tempat tidur. Di sana hanya ada handuk basah yang teronggok lemas. Kau seakan tak peduli dan berlalu meraih tas slempang di belakang pintu. Kau meninggalkannya, menutup pintu depan, derum suara motor dinas meninggalkan rumah yang mulai terasa sepi.
“Mbak … mbak …” suara di luar rumah.
Ia membuka pintu. Tatapannya kosong. Tiga ibu-ibu dengan wajah penuh tanya seperti mengintrogasi.
“Kenapa si Mbak sabar banget. Mbak hanya disuruh kayak pembantu. Ia bawa cucian kotor lagi? Mbak Mur, tolong pake otaknya. Mbak hanya dijadikan pesuruh sama si kades Trisno. Enak saja dia menginjak-nginjak Mbak. Mbak Mur mending minta pisah deh, Mbak.”
Mbak Mur bergeming. Kepalanya menunduk begitu dalam. Dari kedua pipinya tampak bulir bening menggelinding. Ia terduduk. Ketiga ibu-ibu tadi ikut duduk di teras rumah Mbak Mur.
“Apa salahku, ya?”
“Mbak Mur gak salah. Si Trisno aja yang gak bener. Mentang-mentang sudah jadi lurah banyak tingkah sekarang. Mending Mbak pulang ke rumah orang tua Mbak dan jangan kembali lagi. Biar tahu rasa bagaimana rasanya gak ada yang masakin, gak ada yang nyuciin bajunya. Emang istri itu hanya disuruh kayak pembantu sementara ia hanya enak-enakan, jalan-jalan ke sana kemari dengan istri mudanya.”
“Gimana dengan ketiga anakku?”
“Serahin aja ke rumah sana. Nih Mbak lihat.” Ucap perempuan yang mengenakan baju merah sambil menyodorkan ponsel pintarnya.”
Tampak di layar ponsel android di media sosial, foto suaminya dengan seorang wanita yang bernama Dewi. Kabarnya sudah dinikahi siri. Mereka saling menatap romantis di sebuah café. Meskipun di depannya terdapat sebuah laptop dan makanan ringan. Suaminya tampak memegang sebuah kopi dengan menyunggingkan senyumnya yang menawan. Padahal entah puluhan bulan ia belum menemukan senyum itu lagi sejak tujuh belas tahun pernikahannya.
Mbak Mur semakin terisak-isak di pangkuan tetangganya.
“Aku tak kuat sekarang.”
***
Hari sudah menggelap. Tiga hari ke depan kau terpaksa harus menginap di rumah ini lagi. Itu adalah janji yang telah kau ucapkan. Kau akan berlaku adil membagi waktu. Seminggu di dua tempat. Baru saja kau buka pintu rumah, bau busuk menguar dari belakang. Kau mencari sumber bau tersebut. Setelah memutar-mutar seisi rumah, kau tertuju pada mesin cuci. Kau beringsut membuka tutup tabungnya. Matamu melotot melihat pakaian dinasmu masih terkumpul di sana. Ternyata istrimu tak pernah menyentuhnya lagi sejak memasukkannya. Bagaimana dengan hari esok. Sedangkan kau harus mengenakan baju wajib menghadap Bupati. ***
Garut, 25 Maret 2026
BIODATA
Lia Laeli Muniroh. Pegiat literasi dan penikmat sastra. Bergiat di komunitas menulis NIMU CLUB sejak 2021. Pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di MA Plus Al Mujammil, Garut-Jawa Barat. Tulisan cerpennya tersiar di beberapa media massa nasional cetak dan digital seperti: Kompas.id, Radar Bromo, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Mbludus.com, Cendananews.com, AyoBandung.com, Riau Sastra. Idestra, Bali Politka, Suara Merdeka, Manglé, KBA News, dll. Domisili di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Memenangkan berbagai lomba menulis sastra. Buku solo terbarunya: Dari Lelah Hingga Berdusta (Kumcer, 2023).












