Suara Mereka Terbungkam
Tatkala jiwa-jiwa merendah
Mendedah dedoa
Sulur-sulur anyaman kata mendesah
Tersebab derita, rakyat jelata
Ada lirih-lirih perih
Di ujung malam tertahan
Bibir mereka basah, bertasbih
Mengulang-ulang, menyebut nama Tuhan
Langit kelabu, mentari enggan menetas
Suara-suara, ribut-ribut
Oh, negeri kami berlumur darah
Parah
Takada kata ‘sahabat’
Nyanyian sumbang para pejabat
Saling jilat menjilat
Mereka butuh tersebab hajat
Di balik secangkir kopi hitam yang mereka sesap
Ada pajak tak kira-kira
Rakyat tak bisa mengungkap
Rekontruksi hanya sebuah citra
Ya, mereka mencintai negeri
hanya bersembunyi di ruang-ruang sunyi
Suara mereka terbungkam
Diam
Garut, 31 Juli 2025
Terperangkap Cinta Semu
Apa yang merasukimu, hah?
Deretan kata kau ucap laksana nyanyian surga
Kau … kau merayu demi hasratmu, tahtakah?
Kami dijadikan sasaran nafsu dunia
Ya, kau. Kau ….
Kau, tlah
menggoreskannya berkali-kali
Kami terperangkap lagi dengan janji
Negeri kami kau ludahi, tiada henti
Detak jantung terpenjara lagi
Rakyat jelata membalut luka, menunggu mati
Tinggallah derai suci mendaras setiap dini hari
Melarut dalam kekosongan pengharapan, tiada bukti
Bahkan dalam secangkir kopi pahit
Ada pajak penguasa terus menggigit
Rakyat kembali berkeluh menjerit-jerit
Negeriku terjajah tak bertepi
Oleh kalian, pribumi
Kami rapuh seumpama debu
Hidup tak sudi, mati pun tak mau
Saban hari berhias sendu
Terperangkap cinta semu
Garut, 11 Juni 2025
Negeriku Telah Mati
Tak ada kesangsian dalam relung jiwa
Meski kelukaan yang tak kunjung usai
kau telah menggoreskannya berkali-kali
aku tahu, itulah rintangan zaman
tersebab kerakusan penguasa
Benang-benang kasih terus melambai
Dedoa mendedah, menyingkap rahasia
Harap bersulam syahdu pada sang pencipta
Detak jantung terpenjara dalam kidung cinta
Bertaut seumpama gejolak-gejolak kalbu
Benang-benang kasih kembali membalut luka
Tinggallah derai suci menderas
Melarut dalam kekosongan pengharapan
Negeriku telah mati
Garut, 14 Agustus 2025
Akankah Ia Pulang
Pagi-pagi sekali, aku bertanya
Benarkah sungai itu akan pulang?
Apakah meninggalkan laut?
Apakah meninggalkan muara?
Ketika aku cemas
Ayah ‘kan mununtunku
Menonton ikan-ikan pada sungai yang telentang
Pada tambak-tambak, keramba-keramba, dan jaring-jaring apung
Lihatlah … kata ayah suatu waktu
Pabrik-pabrik itu
Membuat ikan-ikan tak kuat bertahan
Hilang generasinya
Sungai-sungai …
Akankah ia pulang
Menyisakan racun-racun dari tekstil
Atau ia akan menjadi sungai yang kembali dirindukan ikan-ikan?
Takadakah yang peduli?
Garut, 14 Agustus 2025
BIODATA
Lia Laeli Muniroh. Penulis dan pendidik. Cerpennya tersiar di berbagai media massa nasional. Menulis tiga buku solo (Anak Rantau jadi CEO, Memoar, 2022). Dari Lelah hingga Berdusta (Kumcer, 2023) Warisan Cinta Penjerat Asa (Novel, 2023), satu duet, dan 66 antologi berbagai genre.













