BUKU KUMPULAN PUISI karya Wina Bojonegoro “Bilangan 60” terkesan sederhana, tapi menyimpan perenungan yang mendalam tentang waktu dan kematangan. Enam puluh di sini—bukan sekadar angka usia, melainkan tanda perjalanan seorang manusia yang mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Wina Bojonegoro menulis bukan untuk merayakan usia, tetapi untuk mengukur jarak antara dirinya dengan makna hidup yang terus bergerak.
Dalam kata pengantar di buku ini disebutkan, “Usia bukanlah ukuran pengalaman dan kedewasaan seseorang. Ia hanya penanda sekaligus fase kematangan diri.” (Penerbit). Di sinilah kunci dalam membaca kumpulan puisi ini: bukan perayaan umur, tetapi peta batin seorang perempuan yang merekam tentang cinta, tentang kehilangan, rindu, keluarga, dan tentang spiritual dengan Tuhan.
Suara yang Tenang namun Tajam. Penulis tidak sedang berupaya menjadi moralis atau pencipta estetika yang rumit. Ia menulis dengan kejujuran yang hening, seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri, di antara hiruk pikuk kehidupan. Ia sadar, bahwa puisi bukanlah tempat untuk menggurui, melainkan untuk mengakui: mengakui apa, mengakui kekurangan, kelemahan, dan kerinduan yang justru menjadikan manusia yang utuh. Karena itu, membaca Bilangan 60 terasa seperti bertemu cermin, yang memantulkan wajah kita sendiri. Seolah yang dimaksud “Aku dalam puisi-puisinya itu adalah kita.” Dan benar—dalam banyak puisinya, kita menemukan diri kita: yang sama-sama lemah, penuh rindu, dan manusia yang terus berusaha memahami hidup.
Tema perpaduan antara profan dan sakral. Tiga aspek yang paling kuat dalam buku ini adalah tentang cinta, sosial, dan spiritualitas. Seperti dalam Puisi “Cara Terbaik Mencintaiku” tertulis:
“Cintai aku / tanpa kata-kata / simpan bualmu / di pucuk pinus halaman kampus.”
Ada kesadaran di sana, bahwa cinta yang sejati tidak perlu diucapkan, cukup dihayati. Bahasa menjadi jembatan sekaligus batas—dan Wina Bojonegoro memilih diam sebagai cara paling jujur untuk mencintai. Ia menggambarkan cinta bukan dengan romansa sentimental, tapi dengan ketenangan, sebagai seorang yang telah berdamai dengan waktu.
Berikutnya dalam puisi berjudul “Cinta Itu”, penulis menampilkan cinta sebagai gerak yang dinamis:
“Cinta itu upaya / melesat dari jerat / merayapi kelenjar komunikasi / melata antar kota.”
Metafora tubuh dan perjalanan di sini menandakan cinta sebagai energi hidup, bukan sekadar emosi pribadi. Ia cair, melebur, dan menembus batas ruang. Wina menulis dengan pilihan kata yang unik, hampir seperti tulisan ilmiah, dalam diksi “kelenjar komunikasi”, tapi justru di situ ada daya puitiknya: antara bidang biologi dan spiritual.
Rindu, Waktu, dan Memori. Dalam Puisi “Perkara Rindu” menurut saya puisi ini salah satu karya paling kuat dalam kumpulan ini. Rindu, bagi Wina, bukan sekadar perasaan sentimental, melainkan ruang waktu yang ditempati dua jiwa yang terpisah jarak:
“Pernahkah kau memikirkan
seseorang di tepian kota lain
diam-diam mencatat namamu,
mengikuti gerakanmu, menulis suara hatinya untukmu…”
Nada puisinya seperti surat yang tidak dikirim. Ada keheningan yang pekat, tapi juga kehangatan yang tak padam. Wina menuliskan, bahwa ada kesunyian eksistensial—kerinduan yang tak lagi menuntut kehadiran, melainkan cukup mengenang seseorang yang dirindukan. Ini jenis puisi yang hanya bisa ditulis oleh seseorang yang sudah mengenal arti kehilangan, tapi telah belajar memeluk kehilangan itu dengan ketenangan jiwa.
Tema Sosial dan Satire. Menariknya, di antara puisi-puisi personal dan religius, Wina juga menulis dengan nada sosial yang satir, seperti dalam puisi “Arisan”:
Selamat malam para tetangga,
sudahkah tersapu sisa bulir di sudut bibirmu
sisa pergunjingan kita di sela ceramah dan doa?
Sampai jumpa bulan berikutnya
pada acara yang sama, topik serupa, busana dan gosip berbeda.
Puisi ini adalah potret kecil tentang kemunafikan sosial, ditulis dengan senyum yang getir. Wina tidak menghakimi, tapi menertawakan kebiasaan kita dengan elegan. Dalam dua bait singkat itu, ia memperlihatkan bahwa gosip pun bisa menjadi bahan perenungan eksistensial. Inilah kekuatan Wina: ia mampu menulis hal ringan tanpa kehilangan kedalaman makna.
Filsafat Eksistensi: Tentang Ruang dan Musim. Dalam Puisi “Tak Ada Musim Gugur di Sini” ia memperlihatkan refleksi tentang perbedaan geokultural dan emosional.
“Tak ada musim gugur di sini, Sam,
hanya musim tawa atau luka…”
Dalam konteks tropis Indonesia, musim gugur adalah mitos, tapi Wina memanfaatkannya untuk menggambarkan “kehilangan” yang tidak pernah diberi waktu. Tidak ada gugur—berarti tidak ada kesempatan untuk melepaskan. Tentang segalanya yang terus berjalan, tawa dan luka menjadi satu warna. Puisi ini menjadi alegori tentang ketabahan, tentang hidup, tempat di mana perubahan selalu datang tanpa tanda.
Estetika dan Gaya Bahasa. Secara gaya, Wina menghindari kompleksitas bahasa yang berlebihan. Ia lebih memilih metafora yang lembut, citraan keseharian, dan kesederhanaan yang terjaga. Namun, justru di situlah kekuatannya—puisi-puisinya, terasa alami, tidak dibuat-buat, seolah tumbuh dari percakapan sehari-hari. Ia sering memakai diksi domestik dan simbol-simbol kecil: seperti “rak buku”, “bantal”, “halaman kampus”, “telepon genggam”—yang semuanya menjadi jembatan antara pengalaman pribadi dan pemikiran universal. Dalam tradisi sastra Indonesia, gaya ini mengingatkan pada keterbukaan liris puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, tapi puisi Wina punya dya khas dengan warna feminis yang lebih empatik dan reflektif.
Filosofi Kejujuran sebagai Puisi. Dalam keseluruhan buku ini, tampak bahwa puisi bagi Wina adalah cara bertahan di tengah arus hidup yang kian kompleks. Ia tidak sedang mencari bentuk baru, tetapi menemukan kembali makna lama yang nyaris terlupakan: yakni kejujuran. Ia menulis tentang cinta tanpa romantisme, ia menulis tentang sosial tanpa agitasi, ia menulis tentang Tuhan tanpa dogma. Ia menulis untuk memahami dirinya, dan dengan itu, membantu kita memahami diri sendiri. “Bilangan 60” berisi puisi yang bukan hanya tentang usia penyairnya, tetapi tentang setiap manusia yang sedang belajar berdamai dengan waktu, dengan dunia, dan dengan dirinya sendiri.
— “Yang Pergi Diam-Diam”
siapakah engkau?
santun yang membisikkan rasa
bergerak sunyi, meninggi seirama
senyummu di sana, di sini, lalu di mana-mana…
Puisi ini jelas ditulis untuk mengenang seseorang: Johan Budhi Sava — seorang sahabat atau kolega yang telah meninggal. Nada puisinya lirih, elegi, dan penuh duka. Namun alih-alih meratap, Wina menulis kematian sebagai peristiwa spiritual yang tenang.
maut menjemputmu, diam-diam
seperti diammu, menghadapi detik tenggelam.
Baris ini adalah puncak emosional puisi. Kematian digambarkan sebagai kelanjutan dari kesunyian hidup, bukan akhir yang mengerikan. Ada rasa bersalah yang tersirat:
tinggalkan kami yang abai,
yang lalai, tak pernah bertanya apakah kau baik-baik saja?
Puisi ini sekaligus menjadi kritik sosial halus tentang kurangnya empati di antara manusia modern. Kita baru menyadari nilai seseorang ketika ia pergi. Dalam konteks seluruh buku, puisi ini menjadi momen reflektif yang paling dalam, di mana penyair menghadapi kefanaan dengan jujur, tanpa drama, tapi penuh cinta.
— “Menuju 60”
Kemarau mengetuk pintu
seperti hendak berseru:
segera tiba waktumu…
Puisi penutup ini sekaligus menjadi judul utama buku, dan dengan demikian berfungsi sebagai semacam manifesto usia. “Menuju 60” bukan elegi, melainkan perayaan kesadaran waktu. Kemarau menjadi lambang ketuaan, kekeringan, dan introspeksi. Namun justru dalam musim itulah penyair menemukan ketenangan spiritual. Ia menulis:
Kurajut sisa sepi dalam tanak sunyi
Tak lupa kaus kaki
Salam… Salam… Ya Salam.
Nada humor kecil (“tak lupa kaus kaki”) menyelip di antara kesyahduan, memperlihatkan keseimbangan antara keseriusan dan keakraban. Sementara “Salam… Salam… Ya Salam” menjadi doa penutup yang menggema seperti mantra: ucapan selamat tinggal pada masa lalu, dan sambutan hangat pada kedewasaan. Secara musikal, puisi ini bergerak lembut dan repetitif. Ia menutup buku bukan dengan titik, melainkan dengan napas panjang yang menyerahkan diri pada waktu dan takdir.
Sebagai pembaca, saya melihat Bilangan 60 sebagai buku yang sederhana namun jernih, terkandung kejernihan berpikir dari seorang Wina Bojonegoro—ia tidak berusaha memukau, melainkan mengajak kita menatap diri kita sendiri.
Puisi-puisi Wina Bojonegoro tidak berteriak, tetapi berbisik dengan kedalaman; dan dalam bisikan itulah kita menemukan gema kehidupan kita sendiri. Dalam konteks Bulan Bahasa dan gerakan literasi di sekolah, karya ini tentu sangat relevan: ia menunjukkan bahwa sastra bukan hal yang jauh dan elitis, melainkan cara manusia biasa menulis: tentang luar biasanya hidup.
Wina Bojonegoro tampil sebagai penulis yang telah berdamai dengan dunia dan dirinya; jika puisi-puisi di bagian awal buku ini adalah perjalanan batin dari cinta dan rindu, maka puisi-puisi di bagian akhir buku ini adalah perjalanan pulang—menuju keluarga, kematian, dan menuju Tuhan. Ia tidak lagi mengejar keindahan, melainkan kebijaksanaan; dan kebijaksanaan itu lahir dari kemampuan melihat hidup sebagaimana adanya, dengan humor, cinta, serta kesunyian yang diterima dengan lapang dada. Melalui buku puisi Bilangan 60, Wina menulis bukan untuk mengesankan, tetapi untuk menyentuh; bukan untuk mengajari kita, tetapi untuk menemani—dan disitulah letak keindahan dalam puisi-puisinya.
(Materi ini pernah disampaikan dalam diskusi buku Bilangan 60 pada perayaan bulan bahasa di SMAN 2 Madiun, pada tanggal 23 Oktober 2025)
*Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas”.













