SUDAH cukup lama saya ingin bertemu langsung dengan Pak Agus Yusuf. Namanya bagi saya bukan sekadar nama seorang pelukis. Ia adalah salah satu sosok yang selalu saya ingat ketika berbicara tentang ketekunan, keberanian berkarya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diciptakan seseorang melalui seni, bahkan ketika tubuh memiliki keterbatasan.
Agus Yusuf adalah pelukis difabel yang sangat produktif. Karya-karyanya telah dikoleksi oleh para kolektor dan dipamerkan dalam berbagai perhelatan seni, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga tergabung dalam Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA), sebuah organisasi internasional yang menghimpun para seniman yang berkarya menggunakan mulut atau kaki karena tidak dapat menggunakan tangan secara konvensional.
Bagi saya, perjalanan berkesenian Agus Yusuf memiliki makna penting, terutama dalam konteks pendidikan seni. Saya mengajar Seni Budaya di SMA. Setiap kali materi pembelajaran memasuki wilayah seni rupa, saya kerap memperkenalkan sosok Agus Yusuf kepada para siswa. Bukan semata-mata karena ia seorang pelukis difabel, melainkan karena ia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting: keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari kemungkinan.
Saya ingin para siswa memahami bahwa seni tidak hanya berbicara tentang siapa yang memiliki tubuh paling sempurna, fasilitas paling lengkap, atau akses paling luas. Seni sering kali justru lahir dari kemampuan manusia menemukan cara lain untuk menyampaikan gagasan. Agus Yusuf adalah salah satu contoh nyata tentang bagaimana ketekunan dapat mengubah keterbatasan menjadi bahasa artistik.
Menariknya, perjumpaan yang selama ini saya bayangkan justru terjadi secara tidak sengaja. Hari itu saya baru saja selesai mengikuti sebuah diskusi film bersama Mas Hanung Bramantyo. Setelah acara, saya bertemu seorang teman penulis dari Malang. Dalam percakapan yang semula tidak berkaitan dengan Agus Yusuf, saya kemudian mengetahui bahwa teman tersebut mengenal keluarga Agus Yusuf.
Kesempatan itu tentu saja tidak saya lewatkan. Kami kemudian bersama-sama menuju kediaman sekaligus galeri Agus Yusuf. Saya datang bersama Mas Wawan Wood, seorang art director yang telah berpengalaman mengerjakan berbagai proyek film layar lebar nasional. Pertemuan yang awalnya sederhana itu berkembang menjadi percakapan yang panjang dan menyenangkan.
Kami membicarakan banyak hal. Dunia kesenian di Madiun menjadi salah satu topik yang tidak pernah habis dibicarakan. Kami berbincang tentang seniman, ruang berkesenian, apresiasi masyarakat, kemungkinan kolaborasi, hingga bagaimana sebuah ekosistem seni seharusnya dibangun agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Mas Wawan Wood juga memberikan sejumlah masukan mengenai penataan galeri Agus Yusuf. Sebagai seorang art director, ia melihat ruang bukan hanya sebagai tempat menyimpan atau memajang karya, tetapi sebagai bagian dari pengalaman artistik. Bagaimana karya ditempatkan, bagaimana jarak antarlukisan diatur, bagaimana cahaya bekerja, dan bagaimana pengunjung diarahkan untuk mengalami karya merupakan bagian dari cara sebuah galeri membangun percakapan dengan publik.
Di tengah banyaknya karya yang terpajang, ada satu lukisan yang membuat saya berhenti lebih lama. Sebenarnya semua karya memiliki daya tarik masing-masing. Namun lukisan berukuran 50 x 70 sentimeter itu membuat saya bertanya-tanya. Saya melihat dua ekor gajah berada di tengah hutan. Ada pepohonan, ada ruang hijau, tetapi terdapat pula sebuah pohon yang tumbang. Judulnya membuat saya semakin penasaran: “Sedang Mencari Sesuatu”.
Jika saya menilai secara indikatif, bukan sebagai appraisal resmi, saya akan menempatkan lukisan “Sedang Mencari Sesuatu” karya Agus Yusuf, ukuran 50 × 70 cm pada kisaran Rp 8 juta–Rp15 juta, dengan angka yang menurut saya cukup wajar untuk ditawarkan sekitar Rp12 juta. Pertimbangannya bukan karena Agus adalah pelukis difabel, melainkan karena nilai artistiknya: teknik naturalis-realis yang cukup detail, objek fauna dan lingkungan yang memiliki narasi ekologis, ukuran 50 × 70 cm, serta posisi Agus sebagai seniman yang telah berkarya puluhan tahun dan memiliki rekam jejak internasional melalui AMFPA.
Sumber-sumber media juga mencatat bahwa Agus telah menghasilkan ratusan karya, rutin mengirimkan karya untuk AMFPA, serta berpameran di berbagai negara dan dalam pameran nasional. Karena saya tidak menemukan harga transaksi publik yang spesifik untuk karya Agus Yusuf berukuran 50 × 70 cm, angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai estimasi pasar kolektor, bukan harga resmi. Jika lukisan ini memiliki sertifikat keaslian, tahun penciptaan yang jelas, riwayat pameran, provenance, atau pernah masuk koleksi tertentu, nilainya bisa diposisikan lebih tinggi, misalnya Rp15–20 juta atau lebih.
Saya kemudian bertanya kepada Agus Yusuf. Ia menjelaskan bahwa dua ekor gajah dalam lukisan tersebut sedang mencari makanan. Habitat mereka telah mengalami kerusakan. Mereka harus mencari sesuatu yang sebenarnya merupakan kebutuhan dasar bagi keberlangsungan hidup mereka. Sesederhana itu penjelasannya. Namun bagi saya, lukisan tersebut kemudian terasa tidak lagi sederhana.
Pada pandangan pertama, lukisan itu tampak indah. Ada keteduhan, kehijauan, dan kehadiran dua ekor gajah yang secara visual memiliki daya tarik kuat. Mata kita mungkin pertama-tama menikmati keindahannya. Tetapi setelah mengetahui cerita di baliknya, keindahan tersebut seperti membuka lapisan lain yang lebih getir.
Dua ekor gajah itu tidak sedang sekadar berada di hutan. Mereka sedang mencari. Dan pertanyaan berikutnya adalah: apa yang sebenarnya mereka cari?
Makanan, tentu saja. Tetapi lebih jauh dari itu, mungkin mereka sedang mencari kembali rumah yang perlahan hilang. Mencari habitat yang tidak lagi utuh. Mencari keseimbangan yang telah terganggu. Bahkan, jika kita membacanya secara metaforis, mereka seperti sedang mencari ruang hidup yang semakin sulit ditemukan.
Di titik itulah saya merasa judul “Sedang Mencari Sesuatu” menjadi sangat kuat. Lukisan tersebut tidak perlu berteriak tentang kerusakan lingkungan. Ia tidak perlu memasang slogan. Tidak perlu pula menghadirkan gambar-gambar bencana untuk membuat penonton merasa prihatin. Cukup dua ekor gajah, sebuah hutan, dan satu pohon tumbang. Selebihnya, imajinasi penonton yang bekerja.
Bagi saya, di situlah kekuatan seni rupa. Sebuah karya dapat tampak tenang sekaligus menyimpan kegelisahan. Dapat menawarkan keindahan sekaligus menyampaikan peringatan. Dapat membuat mata merasa sejuk, tetapi setelah kita memahami ceritanya, pikiran justru menjadi tidak nyaman. Ketidaknyamanan semacam itu penting. Sebab seni tidak selalu harus memberikan jawaban. Kadang-kadang seni justru bertugas menghadirkan pertanyaan.
Apa yang terjadi pada hutan ketika habitat satwa terus menyusut? Ke mana gajah-gajah itu akan pergi ketika ruang hidupnya semakin sempit? Apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika pembangunan dan eksploitasi lingkungan terus berlangsung? Dan pada akhirnya, apakah manusia masih menyadari bahwa dirinya juga merupakan bagian dari ekosistem yang sama?
Saya tidak tahu apakah semua pertanyaan itu memang berada di kepala Agus Yusuf ketika ia membuat lukisan tersebut. Saya juga tidak ingin memaksakan tafsir saya sebagai satu-satunya makna. Sebuah karya seni memiliki kemungkinan untuk hidup lebih panjang daripada maksud penciptanya. Ia dapat menemukan makna baru ketika bertemu dengan pengalaman setiap penontonnya.
Namun pertemuan dengan lukisan itu membuat saya semakin memahami mengapa karya seni penting untuk terus hadir di tengah masyarakat. Seni dapat menjadi cara untuk melihat sesuatu yang selama ini kita lewatkan.
Pertemuan saya dengan Agus Yusuf juga membuat saya kembali memikirkan Madiun sebagai sebuah ruang kebudayaan. Kota ini memiliki banyak seniman dengan latar dan disiplin yang beragam. Ada pelukis, pemusik, aktor teater, penari, sastrawan, pembuat film, fotografer, perupa, hingga para pekerja kreatif yang bergerak di berbagai bidang.
Namun kekuatan sebuah ekosistem seni tidak hanya ditentukan oleh banyaknya seniman yang hidup di dalamnya. Yang jauh lebih penting adalah seberapa jauh mereka saling bertemu.
Pertemuan antara seni rupa dan sastra dapat melahirkan karya baru. Musik dapat berdialog dengan lukisan. Teater dapat bertemu film. Tari dapat masuk ke dalam pertunjukan musik. Puisi dapat menjadi bagian dari instalasi seni rupa. Film dapat merekam perjalanan seorang seniman sekaligus menjadi arsip kebudayaan sebuah kota.
Saya membayangkan Madiun sebagai ruang semacam itu: sebuah kota yang tidak hanya memiliki seniman, tetapi juga memiliki ekosistem yang memungkinkan para senimannya saling menguatkan. Karena membangun peradaban sebuah kota tidak mungkin dilakukan seorang diri.
Seorang pelukis membutuhkan penonton. Penonton membutuhkan ruang apresiasi. Seniman membutuhkan kesempatan untuk bertemu dengan seniman lain. Ruang kesenian membutuhkan pengelola. Pengelola membutuhkan dukungan masyarakat. Dan seluruh ekosistem tersebut membutuhkan keberpihakan kebijakan kebudayaan yang memungkinkan seni tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Pertemuan saya dengan Agus Yusuf hari itu akhirnya terasa lebih besar daripada sekadar kunjungan ke sebuah galeri. Saya datang untuk bertemu seorang pelukis yang selama ini saya ceritakan kepada siswa-siswa saya. Saya pulang membawa sesuatu yang lain: keyakinan bahwa perjumpaan antarmanusia adalah salah satu cara paling sederhana untuk menumbuhkan kebudayaan.
Mungkin inilah makna lain dari “Sedang Mencari Sesuatu”. Dua ekor gajah dalam lukisan Agus Yusuf sedang mencari makanan di tengah habitat yang rusak. Sementara itu, kita sebagai manusia mungkin juga sedang mencari sesuatu: mencari cara agar pembangunan tidak kehilangan keseimbangan, mencari ruang agar seni tidak sekadar menjadi pelengkap, mencari cara agar seniman tidak berjalan sendiri-sendiri, dan mencari bentuk kebudayaan yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Saya pun sedang mencari sesuatu. Bukan sekadar karya seni. Saya sedang mencari kemungkinan-kemungkinan perjumpaan. Pertemuan antara seniman dengan seniman. Antara karya dengan penonton. Antara sekolah dengan komunitas. Antara seni rupa, musik, teater, tari, sastra, dan film. Antara kreativitas masyarakat dengan dukungan pemerintah. Antara gagasan hari ini dengan peradaban yang ingin kita bangun untuk masa depan.
Semoga pertemuan-pertemuan seperti ini semakin sering terjadi di Madiun. Semoga semakin banyak ruang dibuka untuk seniman bertemu, berdialog, berkolaborasi, dan memperkenalkan karya kepada masyarakat. Semoga apresiasi terhadap seni tidak berhenti pada tepuk tangan ketika sebuah acara berlangsung, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan untuk melihat, memahami, mengoleksi, mendukung, dan merawat karya seni.
Dan semoga Pemerintah Kota maupun Pemerintah Kabupaten Madiun semakin memberikan ruang dan dukungan bagi kehidupan seni dan budaya. Bukan hanya dalam bentuk kegiatan seremonial, tetapi melalui ekosistem yang memungkinkan para seniman tumbuh, bekerja, bereksperimen, berkolaborasi, dan mendapatkan apresiasi yang layak.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, pusat perdagangan, dan infrastruktur. Kota juga dibangun oleh ingatan, gagasan, karya, imajinasi, dan manusia-manusia yang terus menciptakan makna. Mungkin pada akhirnya, itulah yang saya temukan di galeri Agus Yusuf.
Bukan hanya seorang pelukis difabel yang tetap produktif menembus batas-batas geografis. Bukan hanya sebuah lukisan tentang dua ekor gajah yang sedang mencari makanan. Tetapi sebuah pengingat bahwa setiap perjumpaan dapat menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dan barangkali, seperti dua ekor gajah dalam lukisan itu, kita semua memang sedang mencari sesuatu. Bedanya, tugas kita adalah memastikan agar ketika sesuatu itu ditemukan, ia masih memiliki ruang untuk hidup.
*penulis tinggal di Madiun.













