JAKARTA, Balipolitika.com- Gelar kampiun FIFA ASEAN Cup 2026 yang berhasil direngkuh Tim Nasional Indonesia memunculkan sejumlah nama pilar yang tampil menonjol dan layak memperoleh sorotan khusus. Kendati keberhasilan mengangkat trofi juara di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) merupakan buah soliditas seluruh elemen tim, keberadaan tiga pemain kunci terbukti menjadi pembeda di atas lapangan saat skuad Garuda melewati momen-momen genting penentuan takdir.
Sosok pertama yang menyita perhatian publik adalah Mitchell Baker. Penyerang belia berusia 19 tahun ini mengukir rekor fenomenal dalam penampilan keduanya bersama timnas senior.
Kendati ketajamannya hanya meledak pada satu pertandingan babak penyisihan grup, Baker langsung memborong lima gol (pentagol) ke gawang Bangladesh. Gelontoran gol masif yang membuat pundi-pundi serangannya membengkak drastis tersebut tidak hanya menobatkannya sebagai pencetak gol terbanyak (top scorer) turnamen, melainkan juga menyejajarkannya dengan deretan legenda sepak bola Nusantara.
Pengamat mencatat, torehan lima gol dalam satu laga tersebut menyamai jejak mendiang Soetjipto Soentoro saat melibas Chinese Taipei 11-1 pada Turnamen Merdeka 1968, Iswadi Idris ketika membantai Vietnam 9-1 di President Cup 1971, serta Waskito yang menceploskan lima gol ke gawang Filipina kala menang 12-0 pada ajang President Cup 1972 di Korea Selatan.
Selain mesin gol muda tersebut, peran sentral penyerang berpengalaman Ole Romeny tak kalah vital. Penyerang Fortuna Sittard berusia 26 tahun ini memang tidak mencatatkan statistik gol yang melimpah, namun ia menjelma menjadi otak kreativitas permainan Garuda lewat predikat raja umpan gol (assist).
Romeny membeberkan kapasitas visinya saat membidani empat gol dalam laga penentuan kontra Bangladesh—tiga di antaranya disodorkan secara matang untuk diselesaikan Baker dan satu gol lainnya disarangkan Luke Vickery. Kontribusi suplai bola yang presisi tersebut membuktikan bahwa sang penyerang tidak bungkam ketika tim membutuhkan kemenangan dengan margin gol besar demi menyegel tiket ke partai puncak.
Di barisan belakang, reputasi kepemimpinan diemban apik oleh Elkan Baggott. Palang pintu berusia 23 tahun milik Millwall FC ini menjadi salah satu pilar tak tergantikan yang dipercaya pelatih John Herdman mengisi pos sentral dalam skema tiga bek sejajar, posisi yang sebelumnya identik dengan Jay Idzes.
Elkan membuktikan kedewasaan mentalnya saat melakoni duel final yang menguras emosi kontra Thailand. Kendati sempat melakukan kekeliruan yang memicu kebobolan tim, bek jangkung ini menepis segala bentuk keputusasaan dengan mencetak gol penyama kedudukan 2-2 pada menit ke-116 masa perpanjangan waktu.
Pengamat memaparkan, respons cepat Elkan membalikkan situasi kritis tersebut menjadi titik balik kebangkitan mentalitas bertanding armada Merah Putih.
“Ketenangan pemain bertahan dalam menebus kesalahan di menit-menit krusial menjadi bukti karakter juara,” tutur seorang analis taktik mengulas performa sang bek.
Pihaknya menuturkan, determinasi Elkan kian paripurna tatkala ia maju dengan penuh percaya diri mengeksekusi penalti pada babak tos-tosan. Sepakan dinginnya sukses mengecoh kiper lawan sekaligus memastikan Indonesia mengakhiri laga dengan kemenangan 4-2 dan mengunci trofi juara di hadapan puluhan ribu pendukung setia. (BP/CHA).












