DALAM setiap perhelatan seni, budaya, atau inovasi, peran penjurian dan kurasi adalah tulang punggung yang menentukan arah serta kualitas hasil akhir. Namun, di tengah derasnya arus perubahan zaman, muncul sebuah pertanyaan krusial: apakah sistem kurasi selama ini, terutama didominasi oleh para juri atau kurator senior, masih relevan? Ada indikasi kuat bahwa keberadaan mereka, meskipun kaya pengalaman, justru terkadang menjadi penghambat, menciptakan hasil yang kurang kontekstual, dan membatasi potensi inovasi.
Ketika Pengalaman Menjadi Beban
Tidak dapat dipungkiri, para juri dan kurator senior adalah sosok yang telah makan asam garam di bidangnya. Mereka membawa segudang pengalaman, jaringan luas, dan pemahaman mendalam tentang sejarah serta fondasi seni. Namun, era terus bergerak. Tren estetika, medium ekspresi, hingga narasi yang relevan bagi generasi kini telah banyak bergeser. Keterbatasan adaptasi terhadap teknologi baru, kurangnya paparan terhadap subkultur kontemporer, atau bahkan bias yang terbentuk dari pengalaman masa lalu, seringkali membuat penilaian mereka terasa usang.
Dampaknya terasa nyata. Banyak karya inovatif yang mungkin tidak sesuai dengan “pakem” lama terpinggirkan. Proses penjurian menjadi lambat karena keengganan untuk mengadopsi metode baru atau kesulitan dalam memahami kompleksitas teknis karya modern. Akibatnya, hasil kurasi yang seharusnya menjadi cerminan dinamika zaman, justru terjebak dalam lingkaran konservatisme, gagal menangkap semangat perkembangan, dan pada akhirnya kehilangan relevansi dengan audiens yang lebih muda. Ini bukan hanya merugikan seniman atau kreator, tetapi juga menghambat kemajuan ekosistem kreatif itu sendiri.
Mendesak Adaptasi dan Regenerasi
Lantas, bagaimana cara menyesuaikan diri dengan masanya dan memastikan sistem kurasi tetap relevan serta progresif? Jawabannya terletak pada dua pilar utama: adaptasi berkelanjutan dan regenerasi yang terencana.
- Adaptasi Berkelanjutan Kolaborasi Lintas Generasi
Pengalaman senior harus dipandang sebagai fondasi, bukan tembok pembatas. Para kurator senior perlu didorong untuk terus belajar dan membuka diri terhadap tren baru. Ini bisa diwujudkan melalui lokakarya khusus tentang teknologi seni mutakhir, diskusi rutin dengan seniman muda, atau bahkan kunjungan ke pameran-pameran yang lebih eksperimental.
Model kolaborasi lintas generasi adalah kunci. Bentuk tim kurator yang mengombinasikan pengalaman senior dengan perspektif segar dari kurator muda. Para senior dapat memberikan kedalaman historis dan wawasan strategis, sementara yang muda membawa energi, pemahaman teknologi, dan kepekaan terhadap isu-isu kontemporer. Mentorship dua arah, di mana senior membimbing junior, dan junior memperkenalkan senior pada hal-hal baru, akan menciptakan sinergi yang kuat.
- Regenerasi dan Pembaharuan Sistem Merupakan Injeksi Darah Segar
Regenerasi bukan berarti menyingkirkan, melainkan memperkaya. Perlu ada mekanisme yang jelas untuk memasukkan “darah segar” ke dalam jajaran kurator dan juri. Ini bisa mencakup:
Diversifikasi Panel: Hindari homogenitas dalam panel juri. Libatkan individu dari berbagai latar belakang usia, disiplin ilmu, gender, dan bahkan geografi. Perspektif yang beragam akan menghasilkan penilaian yang lebih holistik dan inklusif.
Batas Masa Jabatan atau Rotasi: Pertimbangkan penerapan batas masa jabatan atau sistem rotasi untuk posisi kurator atau juri inti. Ini akan memastikan adanya perputaran ide dan mencegah stagnasi.
Program Kurator Muda: Lembaga seni atau penyelenggara event dapat meluncurkan program inkubasi atau pelatihan khusus bagi kurator muda berbakat. Beri mereka kesempatan untuk mengkurasi segmen atau pameran kecil sebagai batu loncatan.
Mekanisme Umpan Balik Terbuka: Adakan forum atau survei umpan balik dari seniman dan audiens tentang proses kurasi. Transparansi dan akuntabilitas akan mendorong perbaikan berkelanjutan.
Menuju Kurasi yang Relevan dan Berani
Masa depan kurasi dan penjurian event tidak terletak pada penolakan masa lalu, melainkan pada kemampuan untuk merangkul perubahan. Dengan adaptasi yang cerdas dan regenerasi yang berani, kita dapat memastikan bahwa setiap event tidak hanya menjadi ajang pameran karya, tetapi juga platform yang relevan, inklusif, dan mampu menginspirasi generasi mendatang. Ini adalah investasi penting untuk menjaga denyut nadi kreativitas tetap berdetak kencang di tengah gejolak zaman.
BIODATA
Khairani Piliang. Dia berprofesi sebagai tenaga Kesehatan. Mulai menulis sejak SMP dan menekuni literasi dari tahun 2014. Buku solo pertamanya bertajuk “Suatu Pagi di Dermaga” (2017). Karya-karyanya tergabung dalam banyak antologi bersama cerpen dan puisi, dan beberapa tulisannya dimuat di media online dan cetak. Aktif berkesenian dan meraih beberapa prestasi panggung dan literasi, serta juri pada beberapa event menulis. FB Khairani Piliang. IG @khairanipiliang76.













