MAGETAN, 18 November 2025. Graha Pusat Literasi Kabupaten Magetan, saya berdiri sebagai pemateri pelatihan menulis puisi yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan. Dalam ruangan yang dipenuhi energi ingin belajar, saya menyadari lagi bahwa puisi bukan sekadar bentuk seni; ia adalah jejak paling jujur tentang bagaimana sebuah bangsa memandang dirinya sendiri. Acara hari itu dibuka oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, yang akrab saya panggil Pak Suhardi, selain membuka acara, beliau juga membacakan puisi KH Mustofa Bisri berjudul “Kau Ini Bagaimana, Atau Aku Harus Bagaimana”. Dalam sambutannya, Pak Suhardi menyampaikan bahwa pelatihan semacam ini adalah salah satu cara menyalakan kembali tradisi literasi yang sehat, sebab masyarakat yang akrab dengan puisi adalah masyarakat yang lebih peka, lebih halus dalam merasakan, dan lebih bijak dalam melihat hidup. Menurutnya, kegiatan ini penting agar generasi hari ini memahami bahwa kemampuan memilih diksi dalam menulis puisi adalah kemampuan literasi yang sangat penting untuk dimiliki generasi penerus.
Rekan saya, Shanti Rochmatin, yang memandu lomba menulis puisi, juga menegaskan bahwa kegiatan literasi kreatif seperti ini memberikan ruang aman bagi siapapun untuk mengekspresikan diri, belajar memahami dunia batin, sekaligus menghargai pengalaman orang lain. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi rumah bagi tumbuhnya imajinasi dan keberanian berpendapat. Selain pelatihan menulis puisi, acara ini juga diselenggarakan lomba menulis puisi yang total hadiahnya mencapai tujuh juta rupiah, karya para peserta akan dinilai oleh saya, Shanti, dan Cak Rully dari dinas perpustakaan, sebelum nantinya diumumkan melalui Instagram @magetan_library.
Dalam penyampaian materi, saya kembali menegaskan bahwa menulis puisi hari ini adalah sebuah kebutuhan, bukan kemewahan. Terutama bagi generasi muda, generasi yang tumbuh dalam arus informasi yang deras, tetapi ironisnya sering kekurangan empati. Saya mengatakan bahwa puisi adalah salah satu jalan penyelamatan. Menulis puisi memaksa kita berhenti sejenak untuk mendengar suara hati, memahami luka orang lain, dan menyadari bahwa keadilan bukan konsep abstrak, tetapi denyut kehidupan yang harus diperjuangkan. Puisi, mau tidak mau, harus berpihak pada kemanusiaan. Ia memberi ruang bagi nilai kesetaraan dan keberpihakan pada yang lemah, sebab di tangan penyair, kata bukan hanya estetika, melainkan juga etika.
Sebaliknya, bangsa yang menjauh dari puisi adalah bangsa yang sedang kehilangan dirinya. Ia mudah tergelincir menjadi bangsa yang dipimpin oleh ketakutan, bahkan diktatorisme. Bangsa yang alergi pada puisi biasanya juga alergi pada kejujuran, karena puisi memiliki keberanian untuk menyuarakan suara yang sering dibungkam. Ketika imajinasi dicegah tumbuh, maka ketidakadilan akan mudah berkembang, dan ketimpangan sosial menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.
Indonesia sebagai bangsa besar mesti menumbuhkan kebiasaan apresiasi puisi. Seharusnya setiap kota atau kabupaten dapat menyelenggarakan pembacaan puisi setiap pekan, entah oleh lembaga pemerintah atau komunitas. Melalui puisi, suara hati nurani dapat bergema bersama, menjadi semacam kompas moral bagi masyarakat. Dengan itu, kritik dapat disampaikan tanpa mencederai kebaikan bersama, sebab puisi tidak lahir dari kemarahan yang meledak-ledak, tetapi dari renungan yang matang. Penguasa tidak perlu takut pada puisi; selama disampaikan melalui diksi yang jernih dan terukur, puisi adalah kritik yang beradab.
Masalahnya, masyarakat sering menyamakan puisi dengan orasi politik. Mereka mengira teriakan dan kemarahan yang meledak-ledak adalah bagian dari kegiatan membaca puisi. Padahal orasi dan puisi memiliki landasan estetika yang berbeda. Orasi bukan hal negatif, tetapi ia tidak bisa dipertukarkan begitu saja dengan puisi. Kegagalan membedakan keduanya menunjukkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sedang kebingungan memahami apa itu karya sastra yang baik. Karena itu, para penyair perlu diberi panggung apresiasi. Bukan sekadar selebrasi, tetapi upaya membangun ruang pembelajaran estetis agar masyarakat mampu membedakan mana karya sastra dan mana yang sekadar luapan emosi sesaat. Pada akhirnya, apresiasi puisi akan membentuk kecerdasan budaya yang menjadi fondasi peradaban bangsa yang maju.
Dalam ruang diskusi itu, saya juga menyampaikan kegelisahan lain yang semakin terasa akhir-akhir ini. Kita sedang menghadapi zaman ketika opini lebih cepat viral daripada kebenaran, ketika suara paling lantang sering dianggap paling benar. Media sosial telah mengubah cara masyarakat memandang percakapan dan refleksi. Namun puisi mengajak kita melakukan hal yang sebaliknya: pelan, mendalam, dan kritis. Dalam lanskap informasi yang berisik, puisi adalah ruang sunyi tempat kita kembali memeriksa makna.
Saya teringat pada kata-kata Hannah Arendt yang mengatakan bahwa “setiap kejahatan politik bermula ketika manusia berhenti berpikir.” Jika demikian, puisi adalah latihan berpikir itu sendiri. Ia menjaga manusia tetap manusia, bukan sekadar pengikut algoritma atau produk dari ketergesaan digital. Dengan puisi, kita belajar mengenali kembali diri, memahami batas-batas kemarahan kita, dan menata ulang kompas moral yang mungkin mulai kusam.
Di sisi lain, kritisisme dalam puisi memberi peluang besar bagi tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara yang lebih sehat. Bangsa yang membaca dan menulis puisi akan lebih sulit dimanipulasi. Mereka memiliki kedalaman rasa untuk menolak ketidakadilan dan kepekaan intelektual untuk memahami kompleksitas persoalan publik. Dalam konteks ini saya teringat kata-kata Rabindranath Tagore: “Sastra bukan cermin, tetapi lentera yang menerangi jalan manusia menemukan martabatnya.” Ketika masyarakat terbiasa membaca lentera itu, maka mereka akan memiliki cahaya batin yang cukup untuk membedakan arah, menimbang keputusan, dan memilih tindakan yang benar.
Puisi juga dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan sekadar beton dan gedung tinggi, tetapi pembangunan kesadaran. Bangsa tidak jatuh karena miskin sumber daya alam, tetapi karena miskin imajinasi untuk membayangkan masa depan yang lebih adil. Saya melihat potensi besar dalam generasi muda yang hadir pagi itu. Mereka bukan sekadar ingin belajar menulis puisi; mereka ingin belajar melihat dunia dengan cara yang lebih manusiawi. Di wajah-wajah itu, saya membaca harapan bahwa bangsa ini masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Karena itu, pelatihan seperti ini bukan acara seremonial, bukan pula rutinitas birokrasi. Ia adalah bagian dari upaya besar membangun bangsa yang beradab, bangsa yang percaya bahwa perubahan besar sering dimulai dari kata-kata kecil yang ditulis dalam keheningan.
Pada akhirnya, pelatihan hari ini bukan sekadar jadwal kegiatan, lomba, atau serangkaian sambutan. Ia adalah pertemuan yang mengingatkan kita bahwa puisi dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun peradaban berbudaya dan tingkat literasi tinggi—sebagaimana yang kita saksikan di negara-negara seperti Finlandia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Swedia, Belanda, Kanada, dan Norwegia—di mana kebiasaan membaca, penghargaan terhadap karya sastra, dan akses pendidikan yang merata membentuk warga negara yang kritis, peka, dan berwawasan luas.
Saya pulang dengan rasa syukur karena acara ini kembali membuktikan satu hal sederhana: bahwa puisi masih memiliki kekuatan untuk mengubah hati dan cara pandang manusia, dan bila dipelihara secara kolektif, puisi bisa menjadi wahana pengasahan nalar serta empati yang menjadikan bangsa ini layak sejajar dengan masyarakat berliterasi tinggi tersebut. Dan kini, ketika esai ini ditutup, saya ingin mengajukan pertanyaan mendalam: jika sebuah bangsa dapat berubah hanya dengan mengubah kata-katanya, kata seperti apa yang ingin kita wariskan kepada masa depan? Puisi seperti apa yang ingin kita tulis bersama sebagai bangsa. (*)
*Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas”.













