BALI, Balipolitika.com – Densus 88 Anti-Teror Polri baru saja membongkar rahasia gelap di balik layar ponsel: proses “pencucian otak” radikal kini cuma butuh waktu satu bulan!
Jangan lengah, Pulau Dewata tidak sepenuhnya aman dari jerat digital yang mengincar generasi muda. Ditemukan kasus nyata anak usia 13 tahun di Bali, terpapar paham ekstrem hanya karena masifnya konten digital.
Seperti bom waktu ada 4.100 konten, sekitar 33 persen konten di ruang digital yang berisi propaganda teror. Internet kita sedang “sakit” dan anak-anak adalah sasarannya!
Jika dulu butuh bertahun-tahun untuk mendoktrin seseorang, sekarang teknologi membuat segalanya instan. Satu bulan cukup untuk mengubah perilaku anak menjadi intoleran.
Ciri-ciri bahaya, anak mulai bersikap eksklusif, mudah emosi, dan menunjukkan intoleransi ekstrem. Hati-hati, itu tanda awal paparan ideologi menyimpang!
Kanit Densus 88 Satgaswil Bali, Hadinata Kusuma, menegaskan bahwa radikalisme tidak punya agama. Ini adalah penyimpangan ideologi yang harus kita lawan bersama sebelum nasi menjadi bubur.
Pertanyaannya: kapan terakhir kali Anda mengecek riwayat pencarian (history) media sosial anak anda? jangan sampai terlambat! (BP/OKA)












