BALI, Balipolitika.com – Polemik tegak Nyepi berubah menjadi tepat pada hari Tilem Kesanga, menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Hindu, khususnya di Bali.
Bukan tanpa alasan, sebab pada Tilem Kesanga bukan hari baik untuk mengheningkan pikiran dan hati yang menjadi esensi utama Nyepi itu sendiri.
Sejak lama kepercayaan Hindu, secara niskala bahwa saat Tilem Kesanga adalah hari bagi para bhuta kala dan sejenisnya. Sehingga sejak lama leluhur Hindu melakukan nyomia pada Tilem Kesanga.
Melalui Tawur Agung Kesanga dan ngerupuk. Setelah para bhuta kala dan pengaruh negatifnya netral, barulah umat Hindu merenungi diri dan mengistirahatkan alam semesta dengan Nyepi keesokan harinya.
Atau pada hari pertama Sasih Kadasa. Filosofinya untuk membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia), sebelum Purnama Kadasa.
Yang mana saat itu, bhatara-bhatari dan dewa-dewi beserta roh leluhur turun ke dunia memberikan anugerah kepada anak cucunya dan malinggih di Pura Besakih.
Makna rentetan ini tidak bisa hilang begitu saja, dengan wacana memindahkan Nyepi tepat pada Tilem Kesanga. Yang mana bertepatan dengan pecaruan dan nyomia bhuta kala.
Hal ini pun menjadi atensi Sekum PHRI, IK Budiasa. Ia bahkan memberikan bukti catatan dari Gedong Kertya Singaraja, bahwa Nyepi memang sehari setelah Tawur Agung pada Tilem Kasanga.
Hal itu pun sudah berlaku sejak 1935. “Menanggapi ribut ide perubahan tegak Nyepi dan simpang siur “tradisi kuno”, saya minta tolong kakak tercinta PM untuk cek ke Gedong Kertya melihat langsung arsip kalender dan membuat tabelisasi Tilem dan Nyepi dari tahun paling tua yang bisa ketemu,” sebutnya di status pribadinya.
Dan ia pun memberikan hasilnya, pada tahun 1935-1936, Tawur saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya. 1937 – 1945 arsip kalender tidak ketemu.
Tahun 1945, 1947 dan 1948 Tawur saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya. Kalender 1949 dan 1950 ada, tapi keterangan Nyepi tidak ketemu (entah tidak ada atau tidak terbaca mengingat kalender Bali penuh tulisan kecil-kecil).
Tahun 1951 dan 1955 (kalender tahun di antaranya tidak ketemu) juga sama, Tawur saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.
Perubahan terjadi dari tahun 1960 dan seterusnya selama 7 tahun, sampai 1966, pada periode ini Tawur sebelum Tilem, dan Nyepi bersamaan dengan Tilem.
Selanjutnya dari tahun 1967 sampai sekarang (catatan: kalender 1969, 1970 dan 1974 tidak ketemu) sudah seperti yang kita warisi sekarang: Tawur saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip “Quiz Awal Tahun” dari pakar lontar, Bli Sugi Lanus.
Tahun 2028 (Saka 1950) akan ada Tawur Agung Pancawalikrama. Sesuai sastra dan tradisi yang mendasarinya (ini tidak ada perdebatan), upacara tersebut pada TILEM KESANGA.
Jika hari Raya Nyepi berubah dan pada saat Tilem, maka:
a. Nyepi 2028 mundur sehari
b. Tawur Pancawalikrama tidak ada (karena tabrakan dgn sipeng Nyepi)
c. Jalan sendiri-sendiri
d. Urus sendiri-sendiri
e. Tidak usah jadi pikiran karena tidak menyelesaikan masalah sampah.
“Ini sebagai hiburan saja, karena argumen “kembali ke tradisi kuno” justru terbantahkan oleh arsip sahih Gedong Kertya, Singaraja. Kota di mana saya belajar jatuh cinta dan patah hati untuk pertama kali hehe,” sebutnya. (BP/OKA)










