DI KOTA SAKIT INI
Di kota yang pura-pura sakit ini
penyair hanya bisa bertuhan
pada ruang yang tak lagi riang
tidur di atas ranjang
berbantal doa dan dosa
kunikmati tanpa jenuh
sebab tuhan di situ mengerami tubuh
yang habis di makan waktu
Di kota yang lumayan sakit ini
ada banyak kabar yang diterlantarkan
di beranda ibu-ibu kelurahan
mereka begitu pandai menumis kata
dengan resep rahasia yang mereka dapati
dari mulut-mulut yang tak terverifikasi
Di kota yang mulai sakit ini
aku kata-kata yang kehilangan penulisnya
diasingkan dari beberapa halaman
dibiarkan berkelana ke tiap sudut malam
hingga menemukan rumah
yang di dalamnya ada kamu
Di kota yang benar-benar sakit ini
Tuhan diam-diam mengeram di pojok kamarku
kadang di meja belajar di antara buku-buku
ia sengaja membiarkan aku tabu
pada kegalauan dan kekacauan
yang berembun di jendela
aku hanya bisa meratap
lalu rekah segala doa
menusuk langit-langit rumah
Bandung, 2025
MONTASE MALMING
helai waktu terpasung di pundak malming
malaikat turun bersembunyi di kelap lampu
anemos kota nampak macet oleh kerinduan
di pundak-pundak jalan, para sejoli
bermunajat pada hangat malam
potongan-potongan malming kali ini
disusun oleh kegalauan penyair
yang baru saja disakiti puisinya sendiri.
di atas meja bundar itu
sayup-sayup tuhan meraba dadanya
perlahan, ia menelanjangi sepi
lalu bersenggama dengan dingin
barangkali percumbuan malming kali ini
diridai secangkir kopi
dimaksumi dari amer dan obituari
merapal doa lelehur
memohon agar segala sakit luntur
terkubur dalam nyenyak tidur
aku di sini, di tepi kafe
menunggu notifikasi malam
dari kaki-kaki yang beranjak kelam
menisankan kisah-kasih
pada tubuh meja dan kursi
Bandung, 2025
KOTA PENYAIR
Di kota ini
penyair bertuhan pada ruang yang tak pernah riang
tidur di atas ranjang
berselimut sarung yang terbuat dari doa
Di kota ini
ada banyak kenagan terlantarkan
ia butuh sosok ibu yang telaten merawat tubuh rindu
mengurus kelam malam dan riuh derai hujan
Di kota ini
aku bukan sebagai penyair
melainkan kata-kata yang
tak pernah di anggap oleh penulisnya
sekalinya di perhatikan
aku hanyalah pelengkap pada setiap postingan
Di kota ini
Tuhan diam-diam mengeram
di pojok kamar atau kadang di meja belajar
ia tak pernah libur merayu sepi
sebab sepi salah satu rukun ibadah
bagi penyair yang kehilang kata-kata
Bandung, 2025
MONTASE DOA
Pada tubuh bumi yang tabah ini
burung-burung berdoa di atas jerami
memohon semoga masih banyak dahan
di sana, di tiap-tiap lengan kota maupun desa
pada bibir laut yang mencibir banyak kemelut
ikan dan lokan-lokan berdoa di balik bebatuan
memohon semoga tak ada pagar-pagar liar
yang melingkar pada nasib nelayan
pada rahim ibu pertiwi yang kelam
anak-anak berdoa di tepi malam
memohon semoga masih banyak tanah lapang
yang selamat dari proyekan
pada puisi ini
aku dan kekasih berdoa juga
memohon semoga tuhan tetap menerima kami
sebagai puisinya
Bandung, 2025
AROMA MALMING
lewat baju yang kau pakai malming kala itu
aku mengenal tuhan lebih dekat
tercium anemos firdaus di sana
di antara dagu dan dada
memaksaku tuk bermunajat
pada tiap ruang kota
yang terbengkalai dari riak doa
aroma malming membawaku
tenggelam dalam pelukan
hangat nan kental kenangan
membius tubuh waktu perlahan
di bawah remang lampu
kau tampak pukau
memasak senyum di atas meja
yang pernah lumpu dari kata-kata
aroma malming semakin bising
merabah-rabah ke tiap sudut dinding
yang menjadi sandaran para penikmat hening
aroma ini bukan parfum artis ibu kota
juga bukan dari semerbak taman bunga
aroma ini datang dari rahim kata
dan anemos perjumpaan kita
Bandung, 2025
BIODATA
Yoga Zulkarnain. Pemuda kelahiran Madura. Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Puisi-puisinya dibukukan dalam antologi bersama: Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara ‘Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu’ (2024), Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara ke-13 ‘Layang-layang tak Memilih Tangan’ (Jakarta, 2025) dll. Beberapa karyanya juga dimuat di berbagai Media, Majalah dan Surat Kabar. Bisa dihubungin melalui Instgram: @mh.dzlkrnn_/E-mail: [email protected].













