Ika Permata Hati:
ENDOMETRIOSIS (YANG KEMBALI YANG TAK PERNAH PERGI)
dia kembali
mengaburkan batas-batas sakit
yang pernah tertulis dalam kitab para tabib
hingga menyisa nyeri yang berduri
bagaimana kujelaskan rasa panas menyayat
yang begitu enggan meninggalkan rongga rahim
seperti bara yang sengaja ditanam di panggulku
hingga bergerak menjelmakan siksa
dia kembali
mengacaukan kewarasan
dan membuatku tersungkur menelan butir-butir halusinasi
di atas meja dalam ruang dingin beraroma desinfektan
batas-batas sakit pun makin kabur
saat perih tak henti mencabik-cabik kesadaranku
meski telah kugadaikan sedikit harap
pada lembar-lembar resep yang kutebus di banyak apotik
baru kusadari, endometriosis itu tak kembali
sebab dia tak pernah pergi
hanya tertidur panjang
menanti kebodohan lain yang memicu
untuk memporakporandakan gugusan hormonku
September 2025
MENCARI KEBERADAAN
pada sujud-sujud
lima waktu
aku mengetuk arsy-Nya
meletakkan bertangkup-tangkup doa
di atas keping keangkuhan
yang luruh dalam wudhu
aku hanya sebentuk raga
yang kadang melupa jalan puja
saat nektar-nektar kehidupan
melumuri hariku
dan dosa-dosa begitu
manis melekat serupa getah
aku hanya sekeping batin
yang mencari nur
di perlintasan keterjagaan
di sela-sela sepertiga malam
namun keberadaanNya
tetaplah nun
November 2025
JIKA
Jika kita hanya saling mengenal nama
Harusnya kau tak mencuri hatiku
Meski secuil
Karena itu membuatku tak utuh lagi
Jika kita hanya berteman
Lalu kau sebut apa reaksi kimia
Yang menggeletarkan kupu-kupu di jantungku
Dan mengalirkan arus di ujung sentuhmu
Teman harusnya tak semanis ini
Ketika saling menatap
melelehkan segala ragu
Serupa genangan nektar
Teman harusnya tak senyeri ini
Ketika jarak membentang lengang
dan sapa tak pernah terucap
mengikis ingatan
Jika kita hanya dua orang asing
Yang bertemu dalam persimpangan waktu
Harusnya kita tak memeram pecakapan
Dalam cawan kenang
September 2025
Mira MM Astra:
PULANG YANG TAK PERNAH SELESAI
Ketika kau terbangun dari mimpi itu,
fajar belum datang,
tapi gelap sudah mulai kehilangan cengkeramannya.
Cahaya biru samar merayap melalui jendela,
perlahan,
seperti seseorang yang tak ingin mengagetkanmu.
Kamar itu terasa lain—
lebih luas,
lebih sepi,
lebih jujur.
Kau duduk di tepi ranjang dengan tubuh berat,
seolah mimpi tadi meninggalkan bekas tangan
di seluruh punggungmu.
Di lantai,
setetes air jatuh.
Tunggal.
Jernih.
Seolah berasal dari langit-langit.
Tapi kau tahu itu bukan air hujan.
Itu air dari dalam dirimu
yang tidak sempat keluar semalam.
Kau menyentuh lantai.
Dingin.
Kaku.
Tapi terasa seperti permukaan dunia
yang sedang menunggu keputusanmu.
Kau berdiri,
melangkah tanpa alas kaki menuju jendela—
kaki telanjangmu menjejak lantai seperti mantra.
Setiap langkah terdengar
seperti pengakuan kecil
yang akhirnya menemukan suara.
Ketika kau membuka jendela,
udara pagi menusukmu pelan,
cukup untuk membuatmu sadar
bahwa hidup masih berjalan
meskipun kau sendiri tidak yakin ingin ikut bergerak.
Di luar,
hujan telah berhenti.
Namun segala sesuatu masih basah,
masih meninggalkan bau tanah
yang mengingatkanmu pada kebun belakang rumah masa kecil.
Kau menyentuh ambang jendela
dengan telapak tangan yang belum sepenuhnya stabil.
Sisa mimpi masih melekat
di sela-sela jari.
“Apa ini pertanda?”
tanyanya pelan pada dirinya sendiri.
Tapi di udara pagi itu,
tidak ada pertanda.
Hanya rasa sepi
yang lebih lembut daripada biasanya.
Kau berbalik,
dan matamu terpaku pada cermin besar
yang telah terbuka kainnya.
Cermin itu tidak lagi memantulkan
bayangan samar dari malam tadi.
Kini ia memantulkan dirimu
sebagaimana kau benar-benar ada:
Lelaki yang tidak utuh,
tapi tetap berdiri.
Lelaki yang lelah,
tapi tidak roboh.
Lelaki yang membawa hujan
di balik dadanya,
namun tetap mencari cara
untuk berjalan ke arah cahaya.
Ada sesuatu di matamu—
bukan keberanian,
bukan kepastian,
tapi semacam kejujuran
yang hanya muncul
ketika seseorang telah melewati batas rasa takutnya sendiri.
Kau mendekat pada cermin itu,
dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
kau menatap matamu sendiri
tanpa berusaha lari.
“Aku tidak pulang,”
katamu lirih.
“Tapi aku tidak hilang.”
Cermin itu tetap diam,
namun keheningannya
lebih hangat daripada jawaban mana pun.
Kau mengambil napas panjang—
napas yang melewati seluruh riwayatmu
dan kembali ke titik paling kecil dari dirimu.
Kemudian kau berjalan menuju meja tua
yang tadi malam kau tinggalkan tanpa kata.
Kau duduk.
Kertas kosong itu masih menunggu,
bersih,
rapih,
seperti sesuatu yang memintamu membuka dada
dan menuangkan sesuatu yang telah lama menumpuk.
Pensil tua ada di sampingnya,
menatapmu dengan bentuk kesabaran yang aneh.
Kau ragu sejenak.
Tanganmu gemetar kecil.
Tapi kali ini,
kau tidak berhenti.
Kau tidak mundur.
Kau tidak berdalih.
Dengan gerakan perlahan
yang terasa seperti doa,
kau mulai menggambar:
bukan hujan,
bukan wajah,
bukan rumah—
melainkan garis pertama
yang telah lama ingin keluar darimu.
Garis itu rapuh.
Tipis.
Kadang patah.
Namun ia bergerak,
menyusuri kertas
seperti sungai yang menemukan alurnya kembali.
Dan ketika garis kedua muncul,
kau menyadari sesuatu:
dirimu mulai kembali.
Pelan.
Hati-hati.
Tanpa drama.
Tanpa janji.
Seperti fajar yang tidak pernah berteriak,
namun selalu tiba.
Ugo,
hari itu—
di antara sisa hujan dan cahaya biru muda—
kau akhirnya mengerti:
bahwa pulang bukan tempat,
bukan orang,
bukan masa lalu.
Pulang adalah kemampuan
untuk tetap tinggal
pada dirimu sendiri
meski seluruh dunia
sedang berusaha membuatmu menghilang.
Dan garis ketiga di kertas itu
membuktikan satu hal:
kau masih hidup,
meski separuh dirimu
masih menolak percaya.
Nitiprayan, Yogyakarta, 8 Desember 2025
RERINTIK HUJAN PERTAMA
Rerintik hujan pertama tiba
seperti desis rahasia yang menetes
dari sela tulang rusukku—
menyentuh lehermu perlahan
mengiris sunyi yang lama
kau sembunyikan di bawah kulit.
Tubuhku adalah awan yang retak,
menyimpan badai kecil
yang tak pernah kau tanya asal-usulnya.
Di setiap langkahku menuju dadamu,
ada getar yang menggigil
seperti lampu-lampu kota
yang mati satu per satu
ketika malam memutuskan
untuk mencintai gelap.
Dan kau,
berdiri tanpa payung,
seperti seseorang yang pasrah
menunggu nasibnya ditulis ulang
di bibir perempuan yang tak sempat kau lupakan.
Rerintik tubuhku turun—
tak sebagai hujan,
melainkan sebagai pengakuan
yang telat
namun tajam.
Setiap tetes jatuh,
memukul kulitmu
bagai ingatan yang kembali
dengan dendam kecilnya:
tatapan yang pernah kau tahan,
kata-kata yang tak sempat kau pecahkan,
dan jarak yang dulu kau biarkan tumbuh
sampai menusuk kita berdua.
Hujan ini bukan berkah.
Ia adalah ritual:
air yang mengangkut
rasa bersalah,
nafsu yang tak selesai,
dan luka yang diam-diam
kau simpan di keningku.
Pada punggungmu,
rerintikku menyelinap,
mengalir dalam garis-garis
yang tak berani kau hapus.
Ada getir,
ada asin,
ada aroma tubuhku
yang menciumi ingatanmu
sampai kau tersandung dirimu sendiri.
Dan kau menggigil—
bukan karena dingin,
tapi karena tahu
bahwa setiap tetes dari tubuhku
adalah kalimat yang ingin kau baca
namun selalu kau ingkari.
Aku jatuh padamu seperti ini:
perlahan,
tanpa suara riuh,
namun dengan ketajaman
yang bisa membelah
apa yang kau sebut ketabahan.
Tubuhku yang rerintik
mencari celah di tubuhmu:
di pangkal leher—
yang dulu pernah
mengenali aromaku;
di dada kiri—
yang sampai kini
masih berdetak canggung
ketika kau ingat tatapanku;
di jemari—
yang gemetar
karena ingin menyentuh
namun takut pecah.
hujan ini panjang,
gelap,
dan tak punya tujuan selain
menemukan tempat terakhirmu.
Jika kau biarkan aku jatuh,
aku akan menjadi sungai
yang menarikmu
ke dalam malam
tanpa cahaya,
ke tempat di mana
tubuh tak lagi membedakan
antara rindu
dan penyerahan.
Maka biarkan aku runtuh:
setetes demi setetes,
menyusup di sela tulangmu,
mengajari tubuhmu
bahwa kita—
pernah,
masih,
dan mungkin selamanya—
adalah dua bayang
yang tak bisa selesai
meski mencoba saling melupakan.
Rerintikku adalah tubuhku,
dan tubuhku,
pada akhirnya,
menemukan rumahnya
di kulitmu.
Malam ini,
biarkan aku jatuh sepenuhnya.
Biarkan aku menjadi hujan
yang tak lagi mengenal batas.
Biarkan aku menuliskan ulang
takdirmu
di setiap inci tubuhmu
yang masih menyebut namaku
dalam diam.
Yogyakarta, 21 November 2025
RERINTIK KEDUA
Aku datang lagi,
sebagai hujan yang tak kau undang
namun tubuhmu diam-diam
membukakan ruang
untuk seluruh runtuhku.
Rerintikku jatuh pelan,
menganyam garis-garis sunyi
di tulang selangka dan dadamu,
seolah aku menulis mantra
yang hanya tubuhmu bisa mengerti.
Tak ada yang lebih jujur dari air
yang memilih kulitmu
sebagai altar.
Ketika tetes pertama menyentuhmu,
kau menegakkan punggung
seperti seseorang
yang tiba-tiba ingat
bahwa ia pernah dicintai
dengan cara yang
terlalu senyap
untuk bisa dilupakan.
Tubuhku—yang hujan,
yang retak,
yang mengandung gugup dan gemuruh—
jatuh dalam ritme yang lambat,
ritme yang memaksa kau mendengar
segala yang tak pernah sempat
aku katakan.
Di pipimu,
rerintik bergerak turun
melewati rahang yang mengeras,
seperti ingatan pahit
yang tak mau selesai.
Di lehermu,
ia membelah panas yang kau simpan,
menerjemahkan desir kecil
yang kau sembunyikan
dari dunia.
aku tahu bagaimana tubuhmu
mendengarkan hujan.
Bukan dengan telinga,
tapi dengan bagian-bagian rahasia
yang hanya bangun
ketika aku mendekat—
ketika tetes tubuhku
menyusup tanpa izin.
Hujan ini menghitam;
ia memuat seluruh ketakutan
yang kusulam bersama rindu,
mengaburkan batas
antara luka dan keinginan.
Aku jatuh padamu
seperti kasih yang tak direstui:
liar, dingin,
namun tak bisa dicegah.
Rerintikku menelusuri dadamu—
tempat di mana degupmu
masih menyimpan getaran
yang tak kau akui.
Tetes-tetes itu berhimpun,
menjadi sungai tipis
yang menyisir tulangmu,
seakan tubuhku ingin menghafal
semua jalan pulang ke dalammu.
Di antara hujan dan kulitmu,
ada bahasa yang kita ciptakan
tanpa kata.
Bahasa lembap,
bahasa yang menggigit,
bahasa yang hanya muncul
ketika malam menutup
seluruh moral dunia.
Aku runtuh lagi,
lebih deras,
lebih gelap,
lebih dekat dengan sesuatu
yang tidak pernah kita beri nama.
Dan kau—
tetap berdiri menunggu,
seperti tebing
yang membiarkan laut
mengikisnya perlahan
karena itu satu-satunya cara
ia bisa merasakan dicintai.
Jika kau dengar,
di dalam setiap tetes tubuhku
ada bisikan lama:
bahwa aku tak pernah selesai
menyentuhmu,
bahkan ketika jarak
menjadi pisau yang panjang.
Malam ini,
biarkan aku meluruh sepenuhnya.
Biarkan tubuhku
menjadi badai kecil
yang memalu kulitmu
sampai kau lupa
mana dingin,
mana rindu,
mana aku.
Sebab hujan ini,
rerintik retakku ini,
tak lahir dari langit—
ia lahir dari seluruh keperihan
yang tak sempat kita selesaikan.
Dan setiap jatuhnya,
adalah tubuhku
yang masih memilih tubuhmu
sebagai satu-satunya tanah
tempat ia kembali menjadi utuh.
Yogyakarta, 24 November 2025
Khairani Piliang:
FRAGMENTASI DEPOK
1/
Subuh Pecah
Kopi hitam dingin di bibir piala
Bukan lagi aroma arabika hangat dari kafe pinggir Margonda
Terlalu getir sisa debat semalam tentang macet Jalan Raya Sawangan tak berkesudahan
Janji-janji nir-rupa dari spanduk usang caleg
Tiap sesapan kepenatan memfosil
Mengukir retakan sunyi di pagi tak utuh
Suara tukang sayur beradu dengan deru KRL
Sebuah simfoni distopia Depok di awal hari
2/
Siang Membara
Mentari menyorot tajam, memantul di kaca gedung-gedung
Uap aspal naik, mengaburkan pandang di perempatan ramai
Klakson tak sabar berteriak, iringi langkah lesu
Dari ojek daring hingga bus kota penuh sesak
Kisah-kisah lapar dan mimpi yang terbakar
Di balik jendela-jendela kantor, layar gawai menyala redup
Mencari celah pada janji-janji menguap seperti embun
Depok menyala dalam sibuk tak henti berputar
3/
Senja Memudar
Jingga semu, fatamorgana ufuk barat
Melukis ilusi senyum tipis di antara gedung-gedung mengangkang
Kamuflase fana ramainya D’Mall saat gajian
Sebelum malam menelan habis seluruh semu
Bukan lagi cahaya abadi, hanya kilatan temporer
Serupa neon rusak di Jalan Nusantara
Simpanlah indahmu yang sekarat, wahai senja berparas lebam
Sebelum gelap merangkak memusnahkan identitasmu
4/
Malam Pekat
Dinding kusam sudah lama tak beriak
Menyimpan riuh angin purba dari kali Ciliwung
Menghempas debu memori, menggores telinga bisu
Biarkan saja, biarkan gema gosip pos ronda itu memuntahkan sisa-sisa kedengkian
Menguliti serpihan dendam hingga tuntas
Tetaplah tuli, untuk nada-nada sumbang
Yang mencoba menggerogoti akar-akar
Sebab dalam kebisuan, ada tirani kekuatan
Tak tergoyahkan oleh riuh kota yang sekarat
Jakarta, 19 Juli 2025
BIODATA
Ika Permata Hati lahir di Jakarta. Mulai aktif menulis puisi ketika bergabung di Sanggar Cipta Budaya SMP N 1 Denpasar. Saat ini tinggal di Temanggung, Jawa Tengah.
Mira MM Astra, penyair berdarah Klungkung – Manado, lahir 1978 di Denpasar, Bali. Karya karyanya termuat di sejumlah media nasional: Kompas, Jurnal Sajak, Indo Post, Bali Post dan sejumlah buku kumpulan puisi bersama.
Khairani Piliang. Ia menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya tersebar dalam50 buku antologi bersama. Ia merupakan penulis buku kumpulan cerpen “Suatu Pagi di Dermaga”.













