BALI, Balipolitika.com – Hari suci Wuku Landep, adalah Tumpek Landep setiap hari Sabtu Kliwon Landep, atau hari ini tanggal 20 September 2025.
Dalam lontar Sundarigama, bahwa pada hari suci ini sebagai hari suci bagi Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati. Sebab beliau melakukan yoga semadi.
Untuk itu, umat Hindu agar membuat sesajen persembahan di merajan kepada Bhatara Siwa. Sesajen tersebut di antaranya, adalah tumpeng putih kuning adanan dengan lauk ayam putih, ikan teri, terasi merah, dan sedah woh.
Untuk sesajen kepada Sang Hyang Pasupati adalah sasayut pasupati, sasayut jayeng perang, sasayut kusuma yudha, suci, daksina, pras, ajuman, canang wangi, tadah pawitra, reresik.
Biasanya dalam prosesi upacara umat Hindu, pada Tumpek Landep ini akan di upacarai semua benda tajam khususnya senjata.
Filosofinya memohonkan ketajaman kepada Sang Hyang Pasupati, dengan merapalkan mantra Dhanurdhara atau ajian ilmu panah.
Tujuannya, mengasah ketajaman batin dan pikiran umat manusia. Layaknya setajam senjata perang pada zaman dahulu seperti keris dan pedang.
Perayaan Tumpek Landep, berkaitan dengan berbagai hari suci sebelumnya. Seperti pada wuku Sinta, adanya perayaan hari suci Soma Ribek, Sabuh Mas, Pagerwesi. Bahkan sebelumnya lagi, pada wuku Watugunung adalah perayaan Saraswati.
Dalam Alih Aksara Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama, bahwa kemungkinan segala hasil yang telah tercapai pada perayaan Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Pagerwesi sebelumnya yang kembali bersih. Kemudian suci dan terasah lagi agar tetap tajam, serta kuat seperti gunung atau wukir.
Bahwa pada Tumpek Landep ini manusia harus menyadari adanya hakekat kematian. Sebagai teman dekat dari semua makhluk hidup.
Untuk itulah, seharusnya semua berbuat baik sebelum ajal menjemput. Hal ini tersirat dalam kutipan ‘rumaketa sanak tuhu ring sanjata tkeng pati’. Atau mendekatkan sanak saudara pada hakekat senjata dan kematian yang sejati.
Setelah Saraswati, Banyupinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Pagerwesi. Pada Umanis Ukir, yaitu setiap hari Minggu wuku Ukir diyakini sebagai hari suci Bhatara Guru.
Sebab beliau melakukan yoga semadi. Sehingga pada Minggu Umanis Ukir, umat Hindu memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan kehadapan Bhatara Guru. (BP/OKA)













