DENPASAR, Balipolitika.com– Keluarga adalah pihak yang paling berduka atas kepergian I Nengah Sudana (50 tahun) yang menjadi korban tewas tragedi berdarah di “Kampus” Abian Tubuh, Jalan Sokasati, Kelurahan Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, Minggu, 27 Juli 2025.
Menjadi tulang punggung keluarga, I Nengah Sudana “Molog” meninggalkan seorang istri dan 3 orang buah hati alias anak kandung: 2 putra dan seorang putri.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polresta Denpasar, AKP Ketut Sukadi menjelaskan bahwa usai dilarikan ke rumah sakit dan diperiksa di IGD RSU Puri Raharja hingga dinyatakan meninggal oleh dokter jaga, dr. Cokorda Istri Prabadewi pada Minggu, 27 Juli 2025 pukul 14.00 Wita, korban Molog pada hari yang sama langsung diberangkatkan ke rumah duka di Desa Angantelu, Kabupaten Karangasem.
“Pukul 16.15 Wita pihak keluarga membawa jenazah korban ke kampung halamannya di Karangasem, Angantelu dengan menggunakan mobil jenazah BPBD Kota Denpasar,” ungkap AKP Ketut Sukadi.
Pada Senin, 28 Juli 2025, melalui unggahan salah seorang kerabat korban, yakni Wayan AC diketahui jenazah I Nengah Sudana sudah dimandikan pihak keluarga.
“Amor ing acintya Molog Ajus,” ungkapnya sembari mengunggah prosesi pemandian jenazah ayah tiga orang anak itu.
AKP Ketut Sukadi menerangkan berdasarkan pemeriksaan, korban Molog menderita tiga buah luka di tubuhnya akibat diserang ayam aduan.
Luka-luka tersebut mencakup luka terbuka dengan panjang 14 cm x 5 cm dan kedalaman 10- 14 cm di bagian perut, luka lecet dengan panjang 4 cm x 1 cm di punggung, serta luka terbuka dengan panjang 1,5 cm x 0,5 cm di bagian paha kanan.
Diketahui, dr. Cokorda Istri Prabadewi, dokter jaga RS Puri Raharja menjelaskan bahwa korban masuk UGD RS Puri Raharja pada Minggu, 27 Juli 2025 pukul 14.00 Wita.
Pada saat dilakukan pemeriksaan, ungkapnya kondisi korban sudah dalam keadaan meninggal dunia karena tidak ada sama sekali denyut nadi.
“Hasil pemeriksaan luar yang dilakukan oleh saksi ditemukan pada perut terdapat luka terbuka dengan panjang 14 cm x 5 cm kedalaman 10- 14 cm; pada punggung terdapat luka lecet dengan panjang 4 cm x 1 cm; dan pada paha kanan terdapat luka terbuka dengan panjang 1,5 cm x 0,5 cm,” jelas AKP Ketut Sukadi.
“Pukul 16.15 Wita, pihak keluarga membawa jenazah korban ke kampung halaman, Karangasem, Angantelu dengan menggunakan mobil jenazah BPBD Kota Denpasar,” imbuh AKP Ketut Sukadi.
Adapun kronologis tragedi berdarah itu sesuai keterangan saksi WJ (56 tahun) asal Banjar Abian Tubuh bermula pada Minggu, 27 Juli 2025 sekitar pukul 13.30 Wita di dalam arena atau kalangan sabung ayam saat 2 ekor ayam aduan akan dilepas dari arah barat dan timur.
Ayam aduan di arah timur dipegang oleh SM dan arah barat dipegang oleh Bikul, sementara korban Molog ada di posisi pojok barat daya.
Tanpa diduga, ayam yang dipegang oleh SM dari arah timur berontak dan terlepas lalu dengan liar mengejar ayam yang masih dipegang oleh GPA alias Bikul.
“Karena takut Pak Bikul melompat keluar kalangan, sedangkan korban yang berada di sebelahnya tidak bisa menghindar dan diserang oleh ayam tersebut sehingga mengakibatkan luka dan keluar darah,” ungkap AKP Ketut Sukadi.
Melihat insiden tersebut dan mendapati koran Molog mengalami pendarahan, para kru “kampus” segera mengangkat dan menggotong korban keluar dari arena untuk dilarikan ke rumah sakit.
Terpisah, seorang saksi berinisial AP (33 tahun) asal Jalan Sokasati, Gang Jepun, Nomor 10 Kesiman menerangkan bahwa dirinya mendengar ada ribut-ribut seseorang terkena taji.
Kepada pihak berwajib, ia mengaku melihat korban Molog berlumuran darah dalam kondisi digotong oleh banyak orang,
“Saksi kemudian ikut membantu membawa korban menggunakan sepeda motor yang mana saksi menjepit korban dari belakang selanjutnya dibawa ke RS Puri Raharja,” beber AKP Ketut Sukadi. (bp/tim)













