BADUNG, Balipolitika.com– Regu IV Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Badung berhasil menyelamatkan calon korban ulah pati di Jembatan Tukad Bangkung, Banjar Pelaga, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Bali, Rabu, 22 Oktober 2025 sekitar pukul 14.00 Wita.
Regu IV Damkar Badung yang dipimpin oleh I Wayan Ardiawan bergerak tepat waktu sehingga korban berinisial IPSYR asal Jalan Nusa Kambangan, Banjar Braban, Dauh Puri Kauh, Denpasar Barat berhasil dicegah saat hendak mengakhiri hidupnya.
Adapun kronologis kejadian menegangkan tersebut berawal saat Damkar Badung menerima laporan dari warga mengenai percobaan bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga.
“Korban IPSYR alamat Jalan Nusa Kambangan, Banjar Braban, Dauh Puri Kauh, Denpasar Barat saat ini dalam keadaan selamat dan sudah dievakuasi menuju UGD Puskesmas Petang 2,” demikian tertulis di situs resmi Damkar Badung.
Atas fenomena ulah pati di spot yang sudah dipagari oleh Pemerintah Kabupaten Badung dengan anggaran super fantastis ini, Guru Besar Universitas Udayana Bidang Psikiatri Komunitas dan Budaya, Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJK., MARS mengajak semua pihak sadar bahwa pencegahan bunuh diri harus bertumpu pada manusia; tak sekadar infrastruktur.
“Yang harus lebih dipikirkan bukan masalah infrastruktur saja, tapi manusianya yang perlu dibenahi bersama. Contoh public campaign di Melbourne di mana mereka bergerak bersama di semua tempat publik dan layanan masyarakat ada. Dan itu pun belum cukup. Kita punya keluarga dan masyarakat sebagai support group seharusnya bisa diajak bergerak bersama. Selama ini yang terlihat dari pemerintah daerah sering lebih pada penanganan fisik atau infrastruktur, misalnya pagar pengaman di jembatan daripada penyentuhan aspek manusianya. Padahal, ulah pati tidak bisa dicegah hanya dengan tembok atau kamera, akar masalahnya ada pada kesehatan jiwa, tekanan sosial, dan keterasingan individu,” ungkap Cok Bagus- sapaan akrab Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJK., MARS.
Cok Bagus menitikberatkan perlunya program yang benar-benar masuk ke ranah pendampingan psikologis, sosial, dan spiritual masyarakat.
“Perlu gerakan terintegrasi sehingga dinas kesehatan, dinas sosial, desa adat, dan banjar tidak berjalan sendiri-sendiri. Saat ini belum ada gerakan kolektif yang nyata misalnya melatih kader kesehatan jiwa di banjar atau desa untuk mengenali tanda bahaya, melakukan deteksi dini, dan menjadi teman bicara mereka yang membutuhkan,” tandas Cok Bagus yang merupakan guru besar termuda di Indonesia dalam bidang psikiatri sekaligus guru besar pertama dalam subdisiplin psikiatri komunitas itu.
Merespons bertubi-tubinya kasus bunuh diri terjadi di Bali, Cok Bagus juga memandang penting dibuatnya hotline 24 jam dengan pendamping profesional (psikolog/psikiater), bukan sekadar call center administrasi.
“Setelah membuat harus berkelanjutan dan melakukan promosi untuk hotline ini. Membuat gerakan untuk masyarakat sadar bahwa mencari bantuan itu bukan aib, tapi bagian dari menjaga kesehatan sama seperti berobat ke dokter umum,” tegasnya. (bp/ken)













